Share on

Pada 27 Februari malam, Perdana Menteri Shinzo Abe meminta agar semua sekolah di Jepang ditutup sementara untuk mencegah penyebaran COVID-19 makin meluas. Lantas, bagaimana reaksi anak SMA Jepang saat sekolah mereka ditutup? Untuk mengetahuinya, Nippon Foundation mengadakan sebuah survei terkait apakah masalah terbesar yang disebabkan oleh penutupan sekolah pada beberapa anak SMA pada akhir Mei lalu. Hasilnya, 37.4% dari mereka menjawab tugas sekolah lah yang menjadi masalah, diikuti sulitnya berkomunikasi dengan teman mereka di angka 20.3%, dan terganggunya persiapan ujian masuk universitas dan pencarian kerja di 17.8%.

Alasan di balik dampak negatif dari tugas-tugas sekolah tersebut kebanyakan berhubungan dengan kelas online, termasuk alasan-alasan berikut: “Aku bingung saat pertama kali melakukan kelas online”; “Aku tidak bisa bertanya pada guruku saat aku ingin bertanya”; “Aku memiliki banyak kelas khusus yang melibatkan skill teknik dan eksperimen yang tidak cocok dengan kelas online.” Selain itu, beberapa responden mengatakan bahwa mereka melupakan belajar karena tak adanya jadwal tetap yang harus dipatuhi saat di rumah.

anak SMA Jepang japanesestation.com
Dampak negatif penutupan sementara sekolah (nippon.com)

Saat ditanya mengenai lingkungan pembelajaran saat masa social distancing, sekitar 80% responden mengatakan mereka memiliki perangkat untuk online dan lingkungan pembelajaran yang baik saat di rumah. Namun, kebanyakan dari mereka mengatakan kalau sulit rasanya membuat rencana belajar dan mempertahankan motivasi mereka untuk belajar selama sekolah ditutup.  

anak SMA Jepang japanesestation.com
Diagram lingkungan pembelajaran saat social distancing (nippon.com)

Sementara itu, sekitar 60% dari mereka merasa bahwa terlihat adanya kesenjangan pendidikan karena penutupan sekolah, misalnya alasan-alasan berikut: “Sekolah swasta memang menawarkan kelas online, tapi siswa sekolah umum tidak punya pilihan lain selain belajar di rumah sendirian”; “Ada beberapa sekolah umum yang menggelar kelas online mulai bulan Maret, sementara sekolah lain belum melakukannya hingga bulan Mei datang.” Beberapa resonden juga menyebutkan beberapa faktor seperti dampak keuangan orang tua mereka yang memutuskan apakah anak-anak dapat mengikuti kursus selama penutupan sekolah atau tidak dan apakah orang tua mereka ada di rumah untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah.  

anak SMA Jepang japanesestation.com
Diagram kesenjangan sosial akibat penutupan sekolah. (nippon.com)

Para responden juga diminta pandangannya atas pembatalan turnamen baseball SMA tahunan dan kompetisi olahraga nasional lainnya. Hasilnya, 10.8% responden mengatakan kalau even-even tersebut harus tetap digelar, sementara 37.2% mengatakan even besar seperti itu sebaiknya ditunda atau digelar tanpa penonton.

anak SMA Jepang japanesestation.com
Diagram tentang kompetisi ekstrakurikuler (nippon.com)

Terkait kegiatan ekstrakurikuler, para siswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut memberikan komentar sebagai berikut: “Setelah bersusah payah dulu, rasanya mengecewakan sekali kalau kegiatan klub yang aku ikuti terpaksa dihentikan, dan aku tak bisa melakukan apa-apa”; “Rasanya tidak adil jika tim baseball profesional tetap menggelar pertandingan mereka, sementara turnamen baseball antar SMA dibatalkan.” Selain itu, ada komentar dari beberapa siswa yang menyemangati para siswa yang menginginkan agar kompetisi tetap dilanjutkan, seperti: “Aku kasihan pada siswa kelas 3 yang telah berjuang keras agar bisa menjadi lineup awal dari tim mereka”; “Beberapa siswa berencana untuk mendaftar ke universitas lewat prestasi mereka dalam kegiatan ekstrakurikuler.”

Begitulah respon yang diungkapkan anak-anak SMA Jepang terkait penutupan sekolah mereka. Bagaimana ya dengan di Indonesia?