Berita Jepang | Japanesestation.com

Okinawa memang terkenal akan kuliner, sake, dan keindahan alamnya yang bikin pengunjung betah berlama-lama di tempat ini. Gak cuma itu, beberapa produk tradisional khas Okinawa juga cocok dijadikan oleh-oleh, misalnya saja sake awamori, Ryukyu Glassware dan ornamen shisa. Nah, selain yang sudah disebiutkan di atas, ada satu lagi produk khas Okinawa yang cukup terkenal dan cocok juga dijadikan oleh-oleh, yaitu tekstil Okinawa.

Tekstil Okinawa memiliki desain unik dan cantik, membuatnya sangat cocok untuk dijadikan oleh-oleh. Nah, tekstil Okinawa sendiri ada bermacam-macam, dan yang paling terkenal adalah Kijoka Bashofu dan Yaeyama Jofu yang diwarnai dengan teknik tradisional yang disebut sebagai “bingata.”

Nah, apa sih bedanya? Simak penjelasan berikut!

Huawei MatePad Pro

Kijoka Bashofu

Kijoka Bashofu adalah tekstil yang dapat ditemukan di seluruh penjuru Ogimi-son Kijoka, sebuah desa pesisir di utara Okinawa. Seperti namanya, kain ini dibuat dari serat pisang (basho) yang digunakan sebagai bahan pembuatan banang.  Bashofu juga merupakan satu-satunya kain Jepang yang terus diproduksi langsung dengan tangan dan tanpa bahan kimia apapun dalam proses pewarnaannya.  

Kijoka Bashofu sendiri tak akan berkembang tanpa jasa Toshiko Taira dari Kijoka. Saat perang dulu, ia pergi menuju Kurashiki sebagai salah satu anggota regu relawan di mana ia mengunjungi pabrik pemintalan Ohara dan bertemu dengan Kichinosuke Tonomura yang terlibat dengan pergerakan seni serta mempelajari teknik oembuatan tekstil padanya. Hal inilah yang membuatnya dapat mempertahankan industri tekstil Okinawa.

tekstil okinawa japanesestation.com
Benang Kijoka Bashofu (visitokinawa.jp)

Sayangnya, karena serat pisang yang merupakan bahan baku pembuatan Bashofu, mengundang datangnya nyamuk, ladang pisang Okinawa sempat dipangkas habis. Di saat sulit tersebut, wanita Kijoka tetap bertahan untuk terus memproduksi serat pisang dan terus mengasah kemampuan mereka untuk membuat Bashofu.

Perjuangan mereka pun tak sia-sia. Pada 1974, “Yoshika Bashofu Preservation Society” ditetapkan sebagai Properti Budaya Takbenda Penting sementara Toshiko Taira dinobatkan sebagai Harta Karun Nasional yang Hidup.

“Bagian tersulit dan terpenting dalam proses pembuatan Bashofu adalah proses penanamannya,” ujar Mieko Taira, istri dari putra tertua Toshiko sekaligus penerus Toshiko.

Tiga atau 4 kali dalam setahun, daun-daun pisang dipangkas untuk melembutkan serat dan batangnya dipangkas untuk memastikannya tumbuh dengan ketebalan yang sama.

tekstil okinawa japanesestation.com
Kijoka Bashofu (kogeijapan.com)

Untuk menenun sebuah kain kimono berbahan Bashofu, dibutuhkan serat dari 200 pohon pisang. Pemeliharaan pohon pisang seperti menyiangi dan memotong daun dan batang ini sangat penting untuk menghasilkan benang berkualitas tinggi lho. Untuk panen sendiri, biasanya berlangsung sepanjang musim gugur dan musim dingin saat pohon sudah matang. Tunas baru yang tumbuh dari potongan di sisi batang memerlukan waktu 2-3 tahun sebelum serabut siap diambil.

Tanaman pisang yang telah matang ini kulitnya dikupas sebelum dibundel dan dimasak dengan arang. Setelah itu, ia akan dibersihkan dari kotoran dan diubah menjadi serat halus yang dibuat menjadi benang dengan menggunakan berbagai proses seperti memutar dan mengikis. Setelah mati karena pewarna tumbuhan alami, tanaman pisang akan dianyam untuk membuat Bashofu. Saat batang tanaman pisang berkembang biak, serat di bagian tengah membuat benang lebih lembut dan halus. Karena itu, benang dikelompokkan menjadi empat kategori, mulai dari luar dengan asesoris, lalu ke dalam untuk ikat pinggang, kimono, dan pewarnaan.  Wah, benar-benar sulit dan membutuhkan waktu lama ya?

Hingga kini, Yoshiko Taira terus berjuang untuk melestarikan Bashoku. Meski mereka yang telah berusia 90 tahun ke atas tak lagi mengoperasikan mesin tenun, mereka terus memberikan panduan bagi para wanita yang bekerja di Bashofu Kaikan dan menyiapkan benang. Mereka terus menurunkan keterampilan mereka pada generasi berikutnya.

Yaeyama Jofu dan Miyako Jofu

Berikutnya, ada Yaeyama Jofu dan Miyako Jofu. Jika dilihat dari namanya, Jofu(上布)dapat diartikan sebagai “kain rami halus.”  Kendati demikian, di Okinawa, kata tersebut bukan hanya berarti “berkualitas tinggi,” tapi juga dapat didedikasikan sebagai hadiah untuk raja atau sebagai upeti dan penghargaan.

Yaeyama Jofu sendiri biasanya ditenun di Ishigaki-Jima, sementara Miyako Jofu di Miyako-jima, tempatnya dikembangkan. Keduanya dibuat dengan rami.

tekstil okinawa japanesestation.com
Yaeyama Jofu (ryukyutextile.com)

Secara tradisional, Yaeyama Jofu memiliki pola ikat atau ikat ganda yang dibuat dengan cara mengikat atau menggunakan metode rub-dye dengan warna coklat atau nila pada kain putih dan dibuat dengan benang rami buatan tangan. Belakangan ini, benang buatan tangan tersebut digantikan oleh benang rami yang diproduksi pabrik karena adanya penurunan jumlah pembuat benang tradisional.

tekstil okinawa japanesestation.com
Miyako Jofu (kogeijapan.com)

Sementara itu, Miyako Jofu ditenun dengan 100% benang rami buatan tangan dan harus diwarnai dengan bahan alami. Persiapan pola ikat dilakukan dengan tangan atau dengan Shibebata (alat tenun khusus yang dirancang untuk meremas benang). Miyako Jofu juga memiliki memiliki pola ikat ganda putih khas yang sangat halus pada kain warna indigo tua.

Nah, itulah kain-kain cantik dari industri tekstil Okinawa!

Sumber:

Visit Okinawa

Ryukyu Textile