Share on

Pembaca JS pasti gak asing kan dengan istilah yakuza? Ya, yakuza atau bisa dibilang “mafia-nya Jepang” ini sering tampil dalam film, dorama, komik, atau game Jepang, sehingga popularitasnya makin terkenal saja. Bahkan, terkenal hingga ke Indonesia! Tapi, tahukah kalian kalau yakuza yang kalian lihat di TV atau komik mungkin sedikit berbeda dengan awalnya? Nah, jika ingin mengetahui lebih jauh tentang asal-usul yakuza, mari kita berkenalan dengan Bakuto dan Tekiya!

Advertise With Us

Apa Itu Bakuto dan Tekiya?

asal usul Yakuza japanesestation.com
Tekiya yang berjualan di Kuil Shimogamo, Kyoto (wikipedia.org)

Bakuto dan Tekiya bisa dibilang “nenek moyang” yakuza yang kita kenal sekarang. Tapi, siapa sih sebenarnya mereka?

Bakuto sebenarnya adalah gerombolan pejudi keliling yang muncul pada abad ke 18-20 di Jepang. Sementara Tekiya adalah pedagang keliling. Sepintas, tekiya memang tdak terlihat menyeramkan kan? Tapi, nyatanya mereka memiliki reputasi yang buruk, karena barang yang mereka jual biasanya berkualitas rendah dan praktik penjualannya yang kerap menipu dan memaksa. Apalagi, biasanya Tekiya berasal dari golongan dari kasta rendah (burakumin), menambah ketidakpercayaan publik pada mereka.

Sama seperti Tekiya, Bakuto juga sering dianggap orang buangan. Bakuto biasanya menghabiskan waktu mereka dengan berpindah dari satu kota ke kota lain untuk berjudi dengan penduduk lokal. Biasanya, permainan kartu yang dimainkan Bakuto adalah permainan yang dimainkan dengan kartu Hanafuda (kartu bunga), misalnya permainan Go-Stop, Seotda, Doryjytgo-ttang, Koi-Koi dan Mushi.

Pemain judi ini kadang “disewa” lho oleh para pemerintah lokal, Biasanya, para pejabat menggunakannya untuk memenangkan kembali upah pekerja lokal. Bakuto juga dikenal sebagai pencetus istilah “Yakuza” yang berasal dari set kartu terburuk dalam permainan kartu Oicho-Kabu, yaitu '8-9-3' yang diucapkan 'Ya-ku-sa' dalam bahasa Jepang, dan terdengar mirip dengan kata “tidak berguna” dalam bahasa Jepang. Hal ini mencerminkan bagaimana pandangan masyarakat terhdapat mereka saat itu.

Mirip dengan Bakuto, Tekiya pun senang berkeliling ke pedesaan. Mereka akan mengunjungi desa-desa atau berhenti sebentar untuk memasang kios dan menjual dagangan mereka. Dan seperti sudah disebutkan di atas, karena mereka memiliki reputasi buruk sebagai burakumin, mereka kerap dipandang tidak jujur dan menipu orang dengan barang berkualitas rendah mereka. Padahal, sebenarnya mereka cukup baik hati.

Tradisi Bakuto dan Tekiya yang “Dibawa” ke dalam Yakuza

asal usul Yakuza japanesestation.com
Tato di seluruh tubuh (ja.wikipedia.org)

Ternyata, ada beberapa tradisi yang Bakuto dan Tekiya bawa ke dalam Yakuza masa kini. Misalnya, tato seluruh tubuh yang biasanya ditunjukkan para Bakuto saat berjudi. Ada juga tradisi memotong jari sebagai permintaan maaf atau dikenal dengan Yubitsumi.

Nah, dari para Tekiya yang hidup dengan kode etik ketat, ada sistem oyabun-kobun yang memang identik dengan para Yakuza. Sistem ini menyebut boss sebagai “Oyabun” atau “ayah,” sementara anak buahnya disebut “Kobun” atau “murid/anak.” Hubungan ini mencerminkan kekeluargaan dan kesetiaan dalam organisasi.  

Mengapa Bisa Menjadi Yakuza?

asal usul Yakuza japanesestation.com
Ilustrasi yakuza (nippon.com)

Jika melihat kultur kedua kelompok di atas yang nomaden, tak aneh kan jika ada beberapa kriminal yang bersembunyi di antara mereka? Karena itu, lama kelamaan para Bakuto mulai melakukan perbuatan kriminal seperti menjadi lintah darat dan para Tekiya mulai melakukan praktik perlindungan berbayar atau terlibat dalam perang wilayah dengan pedagang lain. Dari sinilah, perlahan dua kelompok ini bergabung menjadi Yakuza yang selama ini kita kenal dan takuti.

Sumber:

Nippon

Criminally Interesting

Wikipedia: Yakuza