Berita Jepang | Japanesestation.com

Kini, Tokyo dikenal sebagai ibu kota Jepang yang serba modern. Tapi, apakah kalian tahu kalau kota ini dibangun di atas situs yang sama dengan kota lama Edo? Memang, “jejak” kota lama itu nyaris tak berbekas, namun pola jalan di Tokyo nyaris sama dengan Edo, membuat kota lama itu tetap hidup di bawah bayang-bayang Tokyo.

Nah, bagaimana sih awal tumbuhnya Edo dan seperti apa keadaan saat itu? Mari kita telusuri!

Hingga awal abad ke-16, area ini hanyalah sebuah desa nelayan di tanah rawa di area muara Sungai Sumida  (sumidagawa, 隅田川). Sebenarnya, ada sebuah kastil yang mengawasi area itu sejak era Heian (794-1185), namun, Edo baru mulai berkembang sejak Keshogunan Tokugawa direlokasi ke area tersebut.

jepang edo japanesestation.com
Penanda jarak jalan di Nihonbashi, menandai awal 5 rute menuju ke luar Edo. (Wikimedia Commons)

Tokugawa Ieyasu (徳川家康) dikenal sebagai pemersatu Jepang era modern awal. Ia menyadari adanya keuntungan yang ditawarkan oleh Edo, seperti letaknya yang berada di bagian paling timur Dataran Musashino (武蔵野 ) dan menjadikannya pusat pemerintahannya. Ia juga membangun sebuah kastil baru besar dan membuat sebuah parit untuk melindunginya dari serangan lawan.

Tokugawa Ieyasu mengembangkan daratan di timur kastilnya sebagai ladang pertanian guna memproduksi hasil panen untuk kebutuhan kastilnya. Perlahan, sebuah kota mulai terbentuk. Dan seiring perkembangannya, Ieyasu membuat para tentaranya menempati area sekeliling tanah rawa dan memperluas kekuasaannya dengan mengambil daratan dari area laut.

samurai terkenal di Jepang japanesestation.com
Tokugawa Ieyasu (allabout-japan.com)

Daratan baru itu menjadi Low City, tempat tinggal para pengrajin dan pedagang kota. Layaknya Kyoto, bekas ibu kota Jepang, tempat ini dibangun berdasarkan pola kisi seperti kota klasik Cina. Versi Jepang sendiri tak terlalu beraturan seperti Cina karena Jepang lebih memilih rangkaian kisi dan sedikit lebih “berantakan” di sudutnya.

Low City memiliki dua kutub: yang pertama adalah Nihonbashi (日本橋), tempat para pedagang membangun gudangnya dan Asakusa 浅草), area dengan kuil terbesar di Edo. Kedua distrik ini saling bersilangan dengan aliran sungai, sehingga barang dagangan bisa dibawa dengan mudah.

Bertekad untuk mengontrol penuh Jepang, Tokugawa Ieyasu memperkenalkan sebuah sistem yang disebut sankin kotai (参勤交代), di mana semua penguasa feodal negara (大名 daimyo) harus menghabiskan setiap tahun di Edo. Bahkan ketika mereka kembali ke wilayah pemerintahannya masing-masing, ia bersikeras bahwa istri dan anak-anak mereka harus tetap di Edo, sebuah kebijakan yang dibuat agar para daimyo tak  mencoba menggulingkannya.

Tokugawa Ieyasu menyiapkan area barat kastil Edo bagi para daimyo itu. Tak seperti Low City, area ini berbukit dan lebih mirip pedesaan, dengan jalanan yang mengikuti punggung bukit, jejak binatang atau batas persawahan. Area ini akhirnya dikenal sebagai High City. Para daimyo pun membangun villa-villa luas di bukit-bukit di Akasaka 赤坂, Yotsuya 四ッ谷 dan Korakuen 後楽園, sementara para pengrajin, petani, dan pekerja yang melayani mereka tinggal di lembah, di sepanjang jalan yang lebih besar.

jepang edo japanesestation.com
Foto jalur Tokaido pada tahun 1865. Jalur Tokaido adalah jalur terpenting di antara 5 Rute Edo di Jepang yang menghubungkan Kyoto dan Edo. (Wikimedia Commons)

Bergantung pada musim, Edo bisa menjadi lautan lumpur maupun kumpulan awan debu karena sebagian besar transportasi menggunakan air dan hanya sedikit jalan yang telah beraspal. Ada 5 jalan raya (gokaido 五街道) yang mengarah ke luar provinsi. Setiap jalannya dibatasi oleh sebuah gerbang dan kini menjadi stasiun Shinbashi 新橋, Shinagawa 品川, Shibuya 渋谷, Shinjuku 新宿 dan Senju 千住. Awalnya, Shibuya dan Shinjuku hanyalah desa biasa dan baru menjadi area penting setelah era Jepang modern.

Mulai awal abad ke-18, populasi Edo mencapai 1 lebih dari satu juta jiwa. Dan meski musim terus berganti, Edo saat itu tetap menjadi kota yang gelap gulita karena seluruh rumah dibuat dari kayu yang belum dicat dengan para pedagang kaya menutupi rumah mereka dengan atap gelap, sementara rumah dan gubuk orang miskin memiliki atap sirap atau jerami.

Sebagai kota yang dipenuhi kayu, Edo bagai kotak korek api yang memicu percikan api, dan setiap beberapa tahun, sebagian besar kota itu terbakar habis. Kendati demikian, penduduk kota menganggap kebakaran ini dengan sikap acuh tak acuh. Bahkan, mereka menyebutnya "Bunga Edo.”

Jika teman-teman memperhatikan, sebenarnya masih bisa lho melihat sisa-sisa kediaman daimyo tua  seperti kediaman Mito Tokugawa di Koishikawa yang kini menjadi situs gudang senjata, serta taman hiburan Korakuen dan Tokyo Dome. Banyak kuil-kuil yang berlokasi di sekitar kastil Edo dulu juga masih bertahan karena letaknya yang dibangun di area yang relatif luas, sehingga terhindar dari amukan api yang melahap bagian lain kota Edo.

Itulah sejarah singkat tentang Edo!