Berita Jepang | Japanesestation.com

Raut bingung terlihat jelas di wajah Yasutoshi Nishimura, menteri yang menangani masalah COVID-19 di Jepang dalam sebuah konferensi pers beberapa waktu lalu. Saat itu, ia berusaha untuk mencari kata-kata terbaik dalam mendiskusikan klaster virus COVID-19  di antara para penduduk asing, sebuah subjek sensitif yang jika diungkapkan dengan tindakan dan kata-kata kurang mengenakkan, dapat menjadi sumber kritik dari berbagai belahan masyarakat.

Nishimura pun mengatakan bahwa tidak semua penduduk asing di Jepang patut disalahkan atas penyebaran virus mematikan tersebut. Diskriminasi dan prasangka buruk pun tidak boleh ditoleransi.

Ya, masalah Nishimura yang berhati-hati dalam membicarakan topik sensitif tersebut menyiratkan masalah yang dialami pemerintah Jepang saat ini, yaitu bagaimana cara menghentikan komunitas asing sebagai hot-spot bagi perkembangan virus sambil terus mencegah diskriminasi terhadap mereka. Apalagi, beberapa faktor yang dianggap sebagai kondisi yang memperparah kondisi klaster COVID-19 seperti kondisi kehidupan yang buruk, social gathering, dan sulitnya mendapatkan akses obat-obatan tidak hanya eksklusif dialami oleh penduduk asing saja.

Namun, meski pemerintah tengah berusaha untuk menangani masalah ini dengan meningkatkan layanan multi bahasa dan akses kesehatan, para peneliti Jepang mengatakan bahwa mereka harus berhati-hati jangan sampai melupakan bahwa mayoritas penduduk asing lebih “ceroboh” dalam menerapkan protokol kesehatan dasar dibandingkan dengan orang Jepang asli.

Kultur dan Kebiasaan

Memang, pemerintah Jepang nampak belum terlalu memperhatikan penduduk asing dalam pencegahan virus corona. Namun, hal ini juga dipengaruhi pada kultur dan kebiasaan penduduk asing.

Misalnya, pada 13 November lalu, Nishimura berusaha mengingatkan penduduk asin asal Nepal secara halus dan dalam cuitan dua bahasa melalui Twitter-nya, bahwa jika mereka ingin merayakan Tihar, sebuah festival tahunan yang dirayakan di Nepal, komunitas asal Nepal di Jepang wajib mematuhi langkah pencegahan COVID-19.

COVID-19 Jepang japanesestation.com
Yasutoshi Nishimura, menteri penanganan COVID-19 dalam sebuah konferensi pers pada 12 November. (japantimes.co.jp)

Kultur para penduduk asing seperti kebiasaan memeluk teman dan keluarga serta kurangnya kebiasaan memakai masker juga menjadi hal yang dipikirkan pemerintah Jepang. Selain itu, adanya perbedaan bahasa juga menjadi salah satu masalah utama yang membuat pemerintah Jepang sulit menyampaikan “langkah pencegahan anti-infeksi,” seperti Three C (closed spaces (tempat tertutup), crowded spaces (tempat ramai) dan close-contact (kontak jarak dekat) dan kebiasaan mereka yang tak pernah mengunjungi pusat kesehatan saat sakit.

Gaya hidup penduduk asing di tengah pandemi pun mulai menjadi sorotan saat Gunma, prefektur yang menjadi tempat tinggal bagi imigran Brazil dan Peruvian mengalami peningkatan kasus COVID-19. Pada bulan tersebut, sekitar 70% dari 90 kasus baru dialami di kota Oizumi yanng mayoritas ditinggali oleh penduduk non-Jepang.

Setelah ditelusuri, kasus infeksi tersebut terjadi karena mayoritas penduduk asing tersebut bukan hanya tak ingin mengenakan masker, namun juga makan dan minum dari piring dan gelas yang sama, pergi clubbing dan makan besar bersama anggota keluarga mereka.

Sementara itu, kasus terkait kondisi hidup penduduk asing dialami oleh sebuah sekolah otomotif di Sendai, di mana 108 siswa internasional dari negara berkembang terbukti positif COVID-19. Diduga, asrama sekolah yang berisi 2 orang siswa dalam satu kamar merupakan penyebab utamanya. Selain itu, biasanya siswa asing muda dan pemagang menyewa rumah bersama untuk menghemat biaya sewa.  

“Mereka miskin. Saya telah melihat banyak dari mereka tidur berlima atau berenam dalam suatu ruangan sempit,” ujar Maria Le Thi Lang, seorang biarawati asal Vietnam di sebuah Gereja Katolik di Kawaguchi, Saitama, yang kerap didatangi oleh banyak siswa dan pemagang untuk “curhat” terkait masalah mereka saat tinggal di Jepang.

Berbagai makanan dalam kelompok besar atau tinggal bersama memang bukanlah hal aneh dan membuat toleransi mereka terhadap sesama lebih tinggi dari orang Jepang

COVID-19 Jepang japanesestation.com
Iki Tanaka (japantimes.co.jp)

“Bisa dibilang, inilah salah satu cara untuk membuat hubungan mereka erat layaknya keluarga, memperluas tingkat kontak fisik yang biasanya tak dilakukan orang Jepang,” ujar Iki Tanaka, manager dari YSC Global School Tokyo yang telah mendukung penduduk asing sejak bertahun-tahun.

Namun, Tanaka mengatakan bahwa para penduduk asing tetap harus diedukasi lebih baik lagi terkait dasar-dasar pencegahan COVID-19 yang dilakukan di Jepang. Sayangnya, edukasi tersebut bisa dianggap merendahkan mereka.