Share on

Ketika topik tentang diskriminasi rasial diangkat di Jepang, biasanya mereka akan mengatakan kalau orang Jepang itu bukan rasis, tapi naïf. Meskipun begitu, naïf bukan alasan tepat untuk mendiskriminasi orang lain kan? Ya, penduduk Jepang memang hampir 98% orang Jepang asli, membuat mereka terkadang sulit berinteraksi dengan orang dengan fitur tubuh dan wajah yang sedikit berbeda, bahkan sampai berbuat kurang sopan (dan cenderung mendiskriminasi secara tidak langsung) pada mereka yang dianggap berbeda, seperti menunjuk, menatap dengan pandangan tidak menyenangkan, atau menanyakan pertanyaan yang tidak seharusnya. Dan inilah yang kerap dialami para haafu alias blasteran Jepang.

Advertise With Us

Menjadi seorang blasteran Jepang yang hidup dan tinggal di Jepang tidak mudah. Bukannya diterima sebagai warga Jepang, fitur wajah para haafu yang berbeda dengan warga Jepang lain kerap kali jadi topik perbincangan dan banyak orang Jepang asli yang menanyakan beberapa pertanyaan “kejam” yang bisa menyakiti hati mereka.

Karena itulah, seorang wanita blasteran Jepang memutuskan untuk menghadapi masalah ini dengan membuat sebuah “Kartu Perkenalan,” yang menjawab semua pertanyaan ini dan sekaligus mengedukasi si penanya kalau menanyakan pertanyaan tersebut itu tidak sopan.

Di bagian depan, kartu tersebut mengatakan hal berikut:

“♡Kartu Perkenalan♡

Apakah kamu seorang haafu?  Ya, betul.

Siapakah di antara orang tuamu yang orang asing?  Ayahku orang Amerika.

Sudah berapa tahun kamu tinggal di Jepang? Sekitar 15 tahun.

Apakah kamu bisa berbahasa Inggris? Bisa.  

Bahasa apa yang kamu gunakan saat melamun? Keduanya.   

Bahasa apa yang kamu gunakan saat berpikir? Bahasa yang aku gunakan saat itu.”

wanita blasteran Jepang
Kartu yang dibuat oleh Anna (twitter: @annaPHd9pj)

Sedangkan, di bagian belakang kartu ada kalimat berikut:

“Manakah yang lebih kamu sukai? Jepang atau Amerika? Keduanya sama-sama memiliki poin baik dan buruk.

Apakah itu adalah alis aslimu? Iya.

Aku selalu ditanyai seperti ini saat pertama kali bertemu, Sejujurnya, aku lelah menjawabnya, jadi aku membuat kartu ini. Bagi semua orang yang menanyakan pertanyaan ini, aku punya permintaan. Bertanya seperti ini saat pertama kali bertemu itu tidak sopan. Mulai saat ini, jika anda ingin menanyakan hal serupa pada orang lain, mohon ingat kartu ini.”

wanita blasteran Jepang
Bagian belakang kartu yang dibuat Anna (twitter:@annaPHd9pj)

Anna juga membagikan foto kartu tersebut di akun Twitter-nya, @annaPHd9pj

Anna mengatakan sebagian orang yang menerima kartu ini langsung pergi setelah membacanya. Namun, ada juga yang beraksi negatif, seperti salah satu pria yang melempar balik kartu tersebut dan mengatakan, “Orang-orang tidak akan peduli meski kau membuat kartu seperti ini!”. Sebaliknya, wanita cenderung lebih pengertian, mereka terkejut dan langsung meminta maaf. Meski beberapa di antara mereka mencoba menjelaskan mengapa mereka menanyakan pertanyaan tersebut, banyak wanita yang setuju dan mengatakan mereka juga pasti lelah jika ditanya seperti itu terus menerus.

Netizen Jepang juga sangat bersimpati pada Anna, beginilah komentar mereka:

“Kartu ini benar-benar ide bagus! Aku juga ingin membuatnya karena aku sering sekali ditanya seperti ini dan aku tersenyum dengan terpaksa saat menjawabnya.”

“Ini juga terjadi padaku. Sangat aneh rasanya jika orang asing yang berbicara denganku mendadak ingin tahu semua tentang background keluargaku. Mengapa aku harus memberitahu orang asing tentang data pribadiku?

“Kata ‘haafu’ memang umum digunakan di Jepang, tapi kata ini adalah salah satu bentuk diskriminasi rasial.”

“Padahal seharusnya orang-orang mengerti kalau berbicara tentang penampilan orang lain saat pertama kali bertemu itu tidak sopan.”

“Banyak orang Jepang yang tidak berpikir kalau orang berdarah campuran tidak ingin ditanyai seperti ini. Mereka akan kaget dan menyadari jika ini adalah diskriminasi secara tidak langsung.”

Ya, “diskriminasi secara tidak langsung” ini memang selalu terjadi pada para blasteran Jepang. Meski orang-orang yang bertanya mungkin mengatakannya dengan sopan, bukan berarti hal itu bukanlah diskriminasi rasial.

Keberanian Anna untuk membuat kartu ini dan membagikannya pada orang lain untuk membangkitkan kesadaran orang Jepang tentang perasaan para blasteran Jepang saat ditanya seperti itu merupakan langkah pertama dalam mendidik orang Jepang untuk tidak melakukan diskriminasi rasial. Mungkin memang sulit, apalagi blasteran Jepang sekelas Naomi Osaka saja sempat mengalami hal yang sama, bahkan sempat tidak diakui oleh penduduk Jepang. Tapi, memang lebih baik kan jika kita bisa memikirkan perasaan mereka dan berusaha untuk mengabulkan keinginan Anna?