Share on

Tadataka Unno, seorang pianis jazz Jepang yang berdomisili di New York-, Amerika Serikat, diserang oleh 8 orang remaja di sebuah stasiun kereta bawah tanah karena isu rasisme pada Minggu (27/9) lalu. Kini, belum dapat dipastikan apakah musisi Jepang berusia 40 tahun ini dapat kembali tampil memainkan musiknya setelah mengalami beberapa cedera serius, termasuk tulang lehernya yang patah.

Advertise With Us

Menurut Kepolisian New York, insiden tersebut terjadi sekitar pukul 7:30 malam di sebuah stasiun kereta bawah tanah di dekat rumah korban. Saat Unno turun di stasiun tersebut setelah selesai bekerja, ia mendadak diserang dan dipukuli oleh seorang remaja di loket tiket.

Meski Unno berhasil kabur ke luar stasiun, ia dikejar oleh sekelompok remaja perempuan dan laki-laki berjumlah sekitar 8 orang. Saat penyerangan terjadi, ia mendengar remaja-remaja itu mengatakan kata “orang Cina.” Sayangnya, tersangka tak ditahan.

Menyusul insiden tersebut, Unno pun dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh ambulans yang dihubungi seorang saksi mata. Saat diperiksa, ditemukan bahwa tulang leher kirinya patah dan sejumlah luka ditemukan di tubuhnya. Meski luka yang dialaminya tidak mengancam nyawa, masih belum diketahui kapan ia bisa sembuh sepenuhnya dan tentunya, ia belum dapat kembali tampil dan bekerja lagi seperti sedia kala.

Penampilan Unno di New York:

Unno baru saja menjadi seorang ayah pada Juni lalu dan belum sempat menggendong anaknya sejak penyerangan itu akibat luka yang dideritanya. Stress akibat serangan mendadak tersebut juga membuatnya bertanya-tanya apakah ia bisa kembali menggelar pertunjukan, caranya mendapatkan uang untuk keluarganya selama ini.

Unno mungkin tak beruntung karena menjadi korban dari penyerangan yang dilatarbelakangi rasisme tersebut, namun, orang-orang di seluruh dunia tetap mendukungnya. Bahkan, teman dan kolega Unno, drummer Jerome Jennings yang mendeskripsikan Unno sebagai “salah satu orang terbaik di dunia” pun membuat sebuah campaign GoFundMe untuk mendukungnya.

Campaign yang kini telah berakhir tersebut berhasil mengumpulkan dana bantuan sebesar 89.611 dolar Amerika (sekitar 1,3 miliar rupiah). Uang tersebut digunakan untuk membantu Unno dalam membayar tagihan kesehatan darurat, terapi fisik dan mental, dan biaya pindah yang membuat Unno dan keluarganya dapat pindah ke area yang lebih aman.

Unno mengatakan bahwa ia belum dapat meninggalkan rumahnya karena trauma fisik dan mental dari penyerangan tersebut, namun ia mengucapkan rasa terima kasih sedalam-dalamnya pada semua yang telah berdonasi. Ia mengatakan merasa sangat bahagia akan dukungan dan perhatian yang diterimanya.

Ya, tahun ini memang tahun yang berat bagi semua orang, jadi, rasanya sangat membahagiakan melihat orang masih memperlihatkan dukungan dan rasa peduli satu sama lain. Cara terbaik untuk menghadapi rasisme dan kebencian adalah dengan dukungan dan rasa peduli kan?