Share on

Sekelompok pria menaiki gerbong kereta khusus wanita di kereta bawah tanah Chiyoda Line di Tokyo, Jepang pada kereta pagi tanggal 16 Februari lalu sebagai bentuk protes yang mengatakan bahwa mengecualikan pria adalah bentuk diskriminasi. Protes semacam itu adalah hal tidak biasa. Dalam kasus ini, para wanita yang  berada di kereta tersebut keberatan dan mengusir mereka, namun orang-orang tersebut menolak untuk pergi setelah kereta tiba di Stasiun Kokkai-gijidomae, sehingga mendorong staf stasiun untuk terlibat. Kemudian, salah satu pemrotes menekan tombol stop darurat di peron. Kereta api akhirnya tertunda lebih dari 15 menit.

Salah satu pemimpin gerakan anti gerbong wanita, seorang pria bernama "Dr. Sabetsu" ("Dr. Discrimination"), mencoba berbicara secara terbuka di depan Stasiun Shibuya pada 24 Februari lalu. Dr. Sabetsu mengatakan bahwa diskriminasi adalah diskriminasi, terlepas dari alasannya, dan bahwa pria memiliki hak untuk naik gerbong kereta yang mereka inginkan.

Sebetulnya alasan adanya gerbong kereta khusus wanita adalah karena kasus chikan - pelecehan seksual atau menggerayangi - yang sering terjadi pada saat rush hour dan yang tidak bisa diatasi Jepang. Beberapa tahun belakangan, beberapa jalur kereta di Tokyo memperkenalkan gerbong khusus wanita sebagai pilihan pada saat malam di waktu hari kerja, terutama atas permintaan dari Departemen Kepolisian Metropolitan.

Sebagai kritikus media Maki Fukasawa menjelaskan pada Bunka Hoso "Golden Radio" edisi 27 Februari, meskipun telah ada gerakan melawan gerbong khusus wanita sejak gerbong tersebut diperkenalkan, hal itu telah menjadi lebih terlihat dalam beberapa tahun terakhir berkat munculnya media sosial, yang memungkinkan koordinasi yang lebih baik antar pria yang ingin melakukan protes.

Penting untuk diingat bahwa pria dilarang secara hukum untuk memasuki gerbong-gerbong ini. Mereka hanya diminta untuk tidak menggunakannya pada jam sibuk. Perkeretaan mengandalkan kemauan dan inisiatif baik penumpang, jadi pemrotes tahu bahwa mereka dapat menyebabkan gangguan hanya dengan mencoba naik gerbong tersebut. Para wanita di kereta mungkin keberatan, tapi mereka biasanya lebih peduli untuk mulai bekerja tepat waktu. Kelompok-kelompok protes ini juga telah menuntut perkeretaan untuk tidak melakukan diskriminasi, namun tidak pernah menang di pengadilan.

Video ini menjelaskan pendapat para wanita mengenai keamanan di dalam kereta Jepang :

(featured image : ufies)