Share on

Buddha dan Shinto adalah dua kepercayaan yang paling popular di Jepang. Meski banyak orang Jepang yang menaganggap dirinya menganut dua kepercayaan ini sekaligus, nyatanya keduanya merupakan dua kepercayaan yang berbeda dan memiliki tradisi serta asal-usul masing-masing. Nah, biar kamu tidak bingung membedakannya, JS punya daftar 10 perbedaan antara agama Buddha dan Shinto yang dilansir dari The Culture Trip nih! Apa saja?  

Advertise With Us

1. Asal-usul Buddha dikenal banyak orang, namun tak ada yang tahu bagaimana asal-usul kepercayaan Shinto

kepercayaan Jepang Buddha dan Shinto japanesestation.com
Mitologi Ama no Iwato dari kepercayaan Shinto (theculturetrip.com)

Shinto dan Buddha meruakan dua kepercayaan Asia yang telah ada sejak lama, setidaknya telah muncul pada abad ke-8. Namun, jika sejarah Buddha dikenal banyak orang, asal-usul Shinto masih misterius karena tak banyak catatan yang memuat tentang kepercayaan ini.

2. Berasal dari belahan dunia berbeda

Meski Shinto tidak terlalu dikenal asal-usulnya, kabarnya Shinto berasal dari Jepang dan dianggap sebagai agama adat dalam dunia modern Jepang. Sementara itu, Buddha memasuki Jepang dari Cina via India di mana agama tersebut dikembangkan Siddhartha Gautama di antara abad ke-6 dan ke-5 sebelum masehi.

3. Sistem kepercayaan berbeda

kepercayaan Jepang Buddha dan Shinto japanesestation.com
Bagian dari kuil Shinto (unsplash.com)

Shinto merupakan kepercayaan animisme, di mana penganutnya percaya bahwa setiap benda hidup ataupun obyek mati seperti batu itu “hidup” dan memiliki spirit di dalamnya yang disebut dengan “kami” dan disembah oleh manusia. Buddhisme sendiri bukan merupakan agama teistik dan manusia yang telah mencapai pencerahan tertentu, seperti Buddha sendiri, pun akan dihormati.  

4. Buddhisme memiliki peraturan yang jelas, sedangkan Shinto tidak

Buddhisme memiliki sebuah peraturan dan doktrin yang jelas. Meski ada banyak aliran, seperti Zen, Pureland, dan Shingon, yang ketiganya popular di Jepang, aturan wajibnya tetap sama. Di sisi lain, Shinto lebih ambigu, tanpa aturan dan doktrin tertentu. Sebagai agama politeistik (menyembah banyak dewa), Shinto memberikan kebebasan bagi para pengikutnya unruk menyembah Kami sesuai pilihan mereka masing-masing.

5. Pengikutnya berdoa di tempat suci berbeda

kepercayaan Jepang Buddha dan Shinto japanesestation.com
Kuil Buddha di Jepang (unsplash.com)

Perbedaan antara kuil Shinto (shrine) dan kuil Buddha (temple) adalah kepercayaan yang direresentasikannya. Shrine (jinja) adalah tempat suci penganut Shinto sementara temple (tera) merupakan tempat suci agama Buddha. Jangan sampai tertukar ya!

6. Kuil Buddha dan Shinto memiliki estetika masing-masing

kepercayaan Jepang Buddha dan Shinto japanesestation.com
Gerbang Torii (unsplash.com)
kepercayaan Jepang Buddha dan Shinto japanesestation.com
Tempat untuk mencuci tangan dan berkumur di kuil Shinto (unsplash.com)

Ada perbedaan estetika dan arsitektur dari kedua kuil kepercayaan di atas. Kuil Shinto biasanya memiliki sebuah gerbang besar (torii) di pintu masuknya yang kerap didekorasi dengan warna  vermillion dan dijaga oleh patung rubah, anjing, atau binatanh-binatang lain. Sementara itu, kuil Buddha memiliki warna yang lebih “ramah” di luarnya, namun area dalamnya didekasikan untuk Buddha dan didekorasi dengan patung berwarna emas. Biasanya, ada dupa besar di depan untuk penyucian diri. Sementara itu, kuil Shinto memiliki sebuah baskom di mana pengunjung bisa mencui tangan dan berkumur sebelum memasuki kuil.

7. Cara berdoa yang berbeda

kepercayaan Jepang Buddha dan Shinto japanesestation.com
Cara berdoa di kuil Shinto (unsplash.com)

Cara para pengikutnya berdoa pun sedikit berbeda. Orang-orang biasanya berdoa dalam diam di kuil Buddha meski terkadang beberapa orang yang kebih taat akan mengucapkan mantra secara lantang. Di kuil Shinto, orang-orang harus membunyikan bel dan menepukkan tangan mereka sebelum berdoa.

8. Kehidupan Biksu Buddha dan Pendeta Shinto berbeda

kepercayaan Jepang Buddha dan Shinto japanesestation.com
Upacara di kuil Shinto (unsplash.com)

Penganut Buddha yang taat biasanya menjadi seorang biksu atau biksuni (biksu wanita) yang mendedikasikan hidup mereka pada kepercayaannya dan mengenyampingkan kehidupan dunia. Pendeta Shinto awalnya melakukan hal yang sama, meski kini, siapapun yang lulus ujian dapat menjadi seorang pendeta atau pendeta wanita. Biksu dan biksuni Buddha cenderung menjalani kehidupan yang lebih asketis sedangkan pendeta Shinto biasanya bertugas memimpin upacara kuil.

9. Memiliki hari libur berbeda 

Orang Jepang merayakan baik liburan Shinto dan Buddha. Tiga festival tahunan terbesar Jepang, Kanda Matsuri, Tenjin Matsuri, dan Gion Matsuri merupakan tradisi  Shinto. Sementara itu, periode perjalanan tersibuk Jepang di mana anggota keluarga kembali ke kampung halamannya untuk mendoakan spirit leluhurnya adalah saat Obon, kepercayaan Buddha. Festival dan hari libur serupa terjadi setiap tahunnya. 

10. Memiliki mitos tentang kehidupan setelah mati yang berbeda

Penganut agama Buddha percaya bahwa dalam lingkaran kehidupan dan reinkarnasi akan berlanjut hingga seseorang mencapai  keadaan yang tercerahkan. Sementara itu, penganut Shinto percaya bahwa setelah meninggal, "kami" dari seseorang akan pergi ke dunia lain dan mengawasi keturunannya dari jauh. Hal inilah yang membuat pemujaan leluhur masih menjadi bagian penting dari kultur Jepang modern.

Nah, itulah 10 perbedaan agama Buddha dan Shinto. Jangan sampai salah ya!