Share on

Oarfish adalah ikan air pedalaman dengan penampilan panjang, besar, dan menyeramkan. Nama oarfish berasal dari tubuhnya yang pipih bagaikan oar, yaitu papan dayung untuk menggerakkan perahu. Ikan raksasa ini kerap kali ditakuti warga Jepang, terutama bagi mereka yang melihatnya secara langsung.

Menemukan oarfish raksasa yang terdampar di pantai adalah kejadian langka, karena ikan ini adalah spesies laut dalam yang seharusnya jarang terlihat sama sekali. Kejadian ini akan semakin mengerikan jika sekitar lima hari setelah kehadiran oarfish yang terdampar justru muncul satu ekor oarfish lainnya.

Ikan ini diyakini oleh beberapa orang di berbagai belahan dunia, salah satunya orang-orang Jepang, sebagai penanda bahwa tak lama lagi gempa akan datang, walau orang Jepang masih ada yang meyakini bahwa gempa disebabkan makhluk mitos Namazu. Oarfish yang merupakan makhluk nyata tetap dikenal sebagai Ryugu no Tsukai, yang berarti "utusan dari istana dewa laut".

Secara logika, hewan-hewan umumnya bisa merasakan suatu gejala alam terlebih dahulu dibanding manusia karena faktor kemampuan pendengaran dan lainnya. Ditambah lagi, oarfish hidup di perairan laut dalam yang 'harusnya' lebih cepat menyadari sebuah gejala alam. Namun, benarkah demikian?

Menguak Mitos Oarfish Sang Ikan Raksasa 'Pemberitahu Gempa' Secara Ilmiah
Oarfish yang Ditampilkan di Niigata City Aquarium pada Februari 2016 (Gambar: Japan Times)

Mengenai hal tadi, seorang spesialis dalam seismologi ekologis dari Jepang, Kiyoshi Wadatsumi, mengamini hal tersebut dengan menyatakan ikan laut dalam yang tinggal di dekat dasar laut lebih sensitif terhadap pergerakan aktif daripada yang di dekat permukaan laut. Namun perlu diingat, pergerakan tersebut belum tentu berarti gempa.

Sebenarnya, mengenai hal apa yang bisa 'dideteksi' hewan sebelum gempa terjadi, tak ada persetujuan pasti di antara para ilmuwan. Namun, tetap ada hipotesis yang beredar.

Dalam sebuah studi yang melibatkan kodok di sebuah kolam, para peneliti menemukan bahwa semua kodok tersebut tiba-tiba menghilang dan 5 hari kemudian terjadi gempa kuat di daerah tersebut. Kodok tersebut kembali ke kolam setelah gempa susulan terakhir terjadi.

Para peneliti memperhatikan bahwa aktivitas kodok tersebut bertepatan dengan gangguan pra-seismik di ionosfer (lapisan atmosfer yang tingginya adalah 50-1.000 kilometer dari permukaan bumi) yang terdeteksi oleh suara frekuensi radio yang sangat rendah. Meskipun demikian, para ilmuwan tidak dapat menarik simpulan dari penelitian mereka tentang apa yang mungkin memicu perilaku kodok yang tidak biasa.

Di studi lainnya, dalam Jurnal Internasional Penelitian Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat pada tahun 2011, R. A. Grant dan tim peneliti menemukan bahwa tekanan tektonik dalam kerak bumi 'mengirim' sejumlah besar ion udara positif terutama ke atmosfer yang lebih rendah. Ion tersebut mungkin mengganggu spesies hewan tertentu, yang mungkin juga mengakibatkan bergeraknya kodok di kolam yang tenang dari penelitian yang disebutkan sebelumnya.

Sekelompok fisikawan dari University of Virginia, menemukan bahwa sebuah batu pun ketika dihancurkan di bawah tekanan tinggi yang mirip kekuatan gempa bumi, mengeluarkan gas ozon tingkat tinggi. Pertanyaannya adalah, apakah hewan-hewan selalu menyadari peningkatan ozon tersebut?

Namun, dari segala hipotesis yang muncul, tak ada yang bisa memastikan apakah manusia bisa 'mempercayai' perilaku hewan di saat akan muncul gempa atau tidak. Karena pada dasarnya perilaku hewan seperti itu hanyalah pertanda bahwa ada yang bergerak di bumi, entah itu gempa, longsor, atau yang lainnya.

Tim peneliti dari Tokai University dan University of Shizuoka pun secara spesifik tak mengamini bahwa kehadiran oarfish merupakan pertanda gempa.

Tim gabungan dua universitas tersebut hanya menemukan satu kejadian gempa kuat yang terjadi dalam waktu 30 hari dan dalam radius 100 kilometer dari kemunculan ikan tersebut. Ditambah lagi, dibandingkan dengan kasus munculnya 336 oarfish dari 1928 sampai 2011, 'hanya' ada 221 kejadian gempa 6 skala Ritcher ke atas yang terjadi di kurun waktu yang sama. Hasilnya dapat disimpulkan bahwa kepercayaan yang telah lama diyakini tersebut hanyalah sebuah takhayul.

  All Images: Japan Times Source: Live Science, The Mainichi