Share on

Dengan naiknya stasus Jepang menjadi darurat COVID-19, Pemerintah Jepang pun menghimbau warganya agar tetap diam di rumah guna menekan penyebaran virus. Sayangnya, masih banyak yang tidak mengindahkan perintah tersebut. Beberapa orang masih berangkat kerja, sementara beberapa orang malah tetap nekat makan di luar, piknik di taman atau berbelanja di tengah keramaian, sama sekali tak mempraktikan social distancing.

Advertise With Us

Pada Rabu (29/4), hari pertama Golden Week misalnya, Shiba Park di Tokyo malah dipenuhi dengan keluarga yang camping dengan membawa anak-anaknya yang masih kecil.

Penduduk Jepang di Shiba Park pada 29 April 2020. Meski pemerintah mengimbau agar tetap stay at home, perintah itu tak diindahkan. (japantoday.com)
Penduduk Jepang di Shiba Park pada 29 April 2020. Meski pemerintah mengimbau agar tetap stay at home, perintah itu tak diindahkan. (japantoday.com)

Liburan Golden Week memang menggiurkan, membuat orang-orang tergiur untuk membantah imbauan pemerintah. Beberapa peneliti mengatakan bahwa rasa kekhawatiran masyarakat yang hilang ini diakibatkan oleh imbauan pemerintah yang tidak dibarengi dengan adanya insentif agar penduduk tetap diam di rumah.  

Beberapa peneliti juga mengatakan agar pemerintah lebih mempertegas imbauannya, seperti yang diungkapkan oleh Naoya Sekiya, seorang professor dan peneliti psikologi social dan risiko komunikasi dari Universitas Tokyo.

Sistem lockdown yang lebih tegas juga diperkirakan dapat membantu memperbaiki keadaan.

Imbauan agar penduduk tetap diam di rumah yang diutarakan oleh gubernur Tokyo Yuriko Koike juga dinilai kurang tegas karena sebenarnya pelanggar imbauan itu tidak melanggar hukum. Apalagi, para pelanggar tidak diberi hukuman apapun. Begitu pun dengan perdana menteri Shinzo Abe  yang mengatakan bahwa Jepang tidak akan menerapkan hard lockdown seperti yang dilakukan negara-negara di Eropa karena akan berpengaruh buruk pada sistem ekonomi.

“Imbauan pemerintah terkesan tidak tegas dan terlihat lebih memprioritaskan keadaan ekonomi, Karena itu kesadaran orang-orang akan krisis kurang, jadi mereka lebih berharap tak akan tertular dibandingkan diam di rumah” ujar Sekiya.

Penolakan terhadap imbauan diam di rumah ternyata terjadi pada orang-orang di berbagai kalangan usia. Shibuya, lsalah satu lokasi hangout populer di Tokyo memang terlihat sepi, namun izakaya dan restoran tetap sibuk. Begitu pun dengan kawasan sub-urban Kichioji, daerah shopping street-nya yang sempit tetap dipenuhi keluarga yang berjalan-jalan dan makan siang di luar. Pachinko parlor, bar, dan restoran juga tetap buka hingga malam hari, melanggar perintah maksimal tutup pada jam 8 malam.

Masih banyak orang ke luar rumah untuk bermain di pachinko. (japantoday.com)
Masih banyak orang ke luar rumah untuk bermain di pachinko. (japantoday.com)
Seorang pria melewati jalan di Tokyo pada 28 April 2020. Ia terlihat mengenakan masker untuk mencegah penyebaran virus, namun terlihat di belakangnya masih ada warga yang berkumpul dan tidak memakai masker. (japantoday.com)
Seorang pria melewati jalan di Tokyo pada 28 April 2020. Ia terlihat mengenakan masker untuk mencegah penyebaran virus, namun terlihat di belakangnya masih ada warga yang berkumpul dan tidak memakai masker. (japantoday.com)

Bahkan ada seorang kakek berusia 80 tahun yang sedang minum di sebuah bar pada Rabu malam. Ketika ditanya tentang pendapatnya mengenai imbauan diam di rumah, ia menjawab, “Kebijakan yang konyol. Lalu, apa yang harus aku lakukan di rumah? Yang bisa aku lakukan hanya menonton TV,” ujar kakek itu.

Melihat keadaan warganya, pemerintah tak tinggal diam. Di Kichijoji, mereka berpatroli mengelilingi pusat perbelanjaan sambil membawa banner bertuliskan, “Mohon jangan ke luar rumah.” Walikota setampat juga meminta agar pemerintah menutup Pantai Shonan di selatan Tokyo. Beberapa prefektur juga membuat checkpoint untuk mencegah agar plat nomor luar wilayah tidak bisa masuk.

Pemerintah Jepang mengimbau warganya agar tetap Stay At Home. (japantoday.com)
Pemerintah Jepang mengimbau warganya agar tetap Stay At Home. (japantoday.com)

Wakil pemerintah Jepang untuk bidang pencegahan bencana, Kazunobu Nishikawa mengatakan bahwa tidak semua menyadari bahwa Jepang dalam masa kritis.

“Banyak orang menyadari risiko dari penyakit ini. Namun, sepertinya masih ada yang berpendapat kalau COVID-19 hanyalah flu biasa dan tidak peduli selama mereka tidak tertular,” ujar Nishikawa.

Sebelumnya, Abe mengumumkan status darurat COVID-19 pada 7 April ketika jumlah kasus bertambah. Awalnya, staus darurat ini hanya berlaku untuk Tokyo dan 6 area lain, namun segera menyebar hingga seluruh penjuru Jepang.

Abe sebelumnya tidak memerintahkan bisnis non-essential untuk tutup. Namun, gubernur Tokyo, Koike, meminta agar sekolah, bioskop, klub atletik, hostess bar dan beberapa bisnis lainnya agar ditutup sementara, dengan sebagaian restoran dan izakaya masih bisa beroperasi hingga pukul 8 malam. Untuk konbini dan grocery store, masih bisa buka seperti biasa.  

Pemerintah juga menyiapkan dana sebesar 108 triliun yen sebagai pinjaman bagi bisnis-bisnis kecil dan orang yang terdampak corona virus lain. Abe juga mengumumkan akan membagikan dana sebesar 100.000 yen pada seluruh penduduk Jepang sebagai respon atas kritik yang mengatakan bahwa ia tidak memperhatikan orang-orang dan keluarga yang membutuhkan dana untuk bertahan hidup.

HIngga Kamis (30/4), dilaporkan kasus COVID-19 baru di Tokyo  bertambah 46 kasus, membuat total pasien yang terjangkit di Jepang melebihi 14,000 orang.