Share on

Dulu, hampir semua stasiun kereta api di Jepang memiliki sebuah papan tulis kapur umum. Hingga kini, stasiun kereta api sering dijadikan tempat bertemu ketika menunggu teman atau kerabat, dan papan tulis itulah yang digunakan sebagai tempat untuk menulis pesan jika salah seorang dari mereka terpaksa meninggalkan tempat tersebut sebelum yang lain datang.

Namun, pemandangan ini menghilang setelah memasuki era modern dan orang-orang lebih memilih untuk menggunakan aplikasi chatting dan smartphone untuk berkomunikasi. Karena itu, melihat adanya 4 papan tulis kapur di Stasiun Higashi Kanagawa minggu lalu merupakan pemandangan yang sangat tidak biasa.

Yang lebih mengagetkan lagi, Stasiun Higashi Kanagawa bukanlah sebuah stasiun yang terletak di desa atau daerah pinggiran. Stasiun ini terletak di Yokohama, kota terbesar kedua di Jepang. Jadi, mengapa sebuah stasiun modern tiba-tiba berubah retro seperti ini? 

Ternyata, jawabannya bisa kamu temukan di sebuah whiteboard di atas papan tulis kapur itu. Ada sebuah pesan dari petugas stasiun yang berbunyi:

“Semuanya, terima kasih karena telah melakukan apa yang kalian bisa untuk mencegah penyebaran virus corona. Saat ini, kita memang terpaksa menunda semua yang ingin kita lakukan. Ada tempat yang ingin kita tuju, dan tentunya orang-orang yang ingin kita temui. Karena itu, bagaimana jika kita menuangkan perasan dan keinginan kita itu lewat kata-kata?

Membagikan pikiran dan harapan kita dapat membantu menghilangkan rasa sepi akibat isolasi, karena itu, kami memasang papan tulis memo ini.

Kami percaya bahwa waktu yang menyenangkan akan kembali hadir. Jadi, jangan menyerah dan tetaplah berjuang sekuat tenaga.”

Beberapa pesan yang tertulis di papan tersebut di antaranya:

“Aku harap aku dapat segera mengunjungi orang tuaku.”

“Aku ingin pergi ke onsen.”

“Aku ingin makan ramen yang lezat.”

“Ingin memakan donat yang sangat lezat.”

“Malam ini, aku akan membuat gratin untuk makan malam.”

“Semoga penyebaran virus ini segera berhenti. Semuanya, jaga diri baik-baik ya!”

“Aku ingin segera kembali ke sekolah.”

“XYZ.  Musnahkan virus corona.”

“Aku menantikan datangnya hari di mana kita dapat berkumpul dan tersenyum bersama kembali.”

“Jangan lupakan saat-saat membahagiakan di hidup kita. Aku yakin mereka akan segera kembali.”

“Untuk semua orang yang telah bekerja keras di stasiun, terima kasih.”

“Bertahanlah! Kita pasti bisa!”

Beberapa pesan dan harapan yang tertulis di papan tulis (Twitter: @meganehitori)
Beberapa pesan dan harapan yang tertulis di papan tulis (twitter: @meganehitori)

Dalam foto-foto tersebut, kita bisa melihat ada sebuah nampan kecil berisi kapur yang setiap stiknya hanya boleh digunakan oleh 1 orang saja dan sebuah botol hand sanitizer di sebelah papan tulis.  

Kapur dan hand sanitizer di sebelah papan tulis (twitter: @MaihamaLine)
Kapur dan hand sanitizer di sebelah papan tulis (twitter: @MaihamaLine)

Tentunya pesan-pesan seperti ini bisa saja ditulis di media sosial seperti Twitter, Facebook, atau platform digital lain. Akan tetapu, menuliskannya di papan tulis stasiun memberi kesan tersendiri. Mengetahui bahwa orang lain yang hidup atau bekerja di kota lain berdiri dan menuliskan apa yang mereka pikirkan dapat membuat kita merasa bisa berhubungan dengan orang lain secara langsung. Suatu hal yang sulit dilakukan karena masa social distancing yang memaksa kita untuk menghabiskan waktu sendirian di dalam rumah.

Pesan-pesan di papan tulis kapur tersebut dihapus setiap harinya pada pukul 6 sore untuk membuat tempat baru bagi pesan di hari berikutnya. Manajemen Stasiun Higashi Kanagawa tidak mengatakan akan sampai kapan papan tersebut dipasang, mungkin karena tidak ada yang tahu sampai kapankah wabah ini menyerang. Namun, perasaan hangat dari pesan-pesan tersebut bisa saja membuat mereka mempertimbangkan untuk tetap memasang papan ini bahkan hingga kehidupan kembali normal.