Berita Jepang | Japanesestation.com

Saat gelombang pertama COVID-19 mulai menyebar yang diikuti dengan naiknya status Jepang menjadi darurat COVID-19, gosip tentang pachinko parlor menjadi pusat penyebaran virus pun mulai bermunculan. Buatmu yang belum tahu apa itu pachinko, pachinko adalah permainan mirip pinball di mana kamu berusaha untuk melontarkan bola logam agar masuk ke lubang-lubang kecil yang dapat dikonversi menjadi uang, membuatnya menjadi “judi” semi legal.

Pachinko parlor memang merupakan tempat tertutup, cahaya terang, dan bunyi-bunyi bising dengan para pemain duduk berdempetan selama berjam-jam. Hal ini tentunya membuat kekhawatiran timbul, bisa saja menjadi klaster baru kan? Karena itulah, pemerintah Tokyo dan Osaka mulai menekan bisnis-bisnis ini, mempublikasikan, dan mempermalukan pachinko parlor yang tetap buka di kala pandemi. Kini, saat mulai muncul gelombang kedua, tetap saja pachinko parlor buka seperti biasa. Namun, nyatanya tidak ada satupun kasus COVID-19  yang berkaitan dengan tempat ini.

Pachinko (tokyocheapo.com)

Mengapa?

Jika membicarakan tentang COVID-19, semua orang pasti menyarankan untuk menghindari tempat ramai, tempat tertutup, dan berdekat-dekatan. Nah, bukankah pachinko parlor memiliki itu semua? Tapi, benarkah?

Mari kita lihat, peraturan bangunan mewajibkan bahwa bangunan-bangunan pachinko wajib memilki ventilasi yang cukup untuk membuat pertukaran udara dari dalam terjadi Selma 6 hingga 10 kali per jam yang membuat mereka sama dengan ruang publik besar lain seperti department store. Dua alasan lain (ramai dan berdekat-dekatan) memang tidak bisa dipungkiri, namun, yang membuat pachinko parlor unik adalah apa yang orang-orang lakukan atau apa ayng mereka tidak lakukan di dalamnya.

Pachinko Jepang japanesestation.com
Pachinko (grapee.jp)

Tidak seperti restoran dan toko di mana orang-orang bersantai dan mengobrol, pachinko parlor membuat para pengunjungnya menikmati waktu mereka sendiri. Berbicara dengan orang lain juga akan membuat omonganmu tidak terdengar karena musik di tempat ini sangat kencang. Hal ini membuat orang-orang yang berdempetan di sini terlalu fokus pada aktivitas mereka tanpa membuka mulut mereka sama sekali. Nah, inilah yang membuat pachinko parlor sukses: menutup mulut.  

 “Orang Jepang terlalu fokus pada tiga hal yang digembor-gemborkan pemerintah: tempat ramai, tempat tertutup, dan berdekat-dekatan, namun sebenarnya sudah jelas bahwa virus ini akan sulit menyebar jika tidak ada orang berbicara. Pachinko parlor, di mana orang-orang jarang mengobrol. Bida dikatakan memiliki risiko rendah dalam penyebaran infeksi jika semua orang mengenakan masker,” ujar Dr. Riko Muranaka, seorang ahli yang menangani isu info-info simpang siur tentang COVID-19.

pachinko covid-19 japanesestation.com
Dr. Riko Muranaka (kanan) (wikimedia.org)

Mendengar hal ini, tentu saja membuat netizen fans pachinko pun bahagia dan memberi komentar dukungannya. Inilah beberapa komentarnya:

“Aku menyeseal telah menuduh mereka sebagai tempat berisiko tinggi.”

“Menurutku, meletakkan mesin berdampingan akan lebih baik dibandingkan dengan berhadapan.”

 “Jadi, apakah media dan pemerintah akan meminta maaf pada industri ini? Aku meragukannya.”

“Mungkin saja mereka tidak mengetes semua orang di tempat itu.”

“Aku harap orang-orang akan membaca berita seperti ini.”

“Mudah sekali ya bagi media untuk mencuci otak orang-orang. Siapapun dapat melihat bahwa dengan tidak bicara, penyakit itu tak akan mungkin menyebar.”

Namun, seperti salah satu komentar di atas, tes COVID-19 di Jepang memang masih “mencurigakan” dan kemungkinan bahwa bisa saja pachinko parlor menjadi klaster baru namun tidak pernah dilaporkan.

Tak hanya itu, menyentuh mesin, merokok. Dan memakan camilan adalah hal yang selalu terjadi di pachinko parlor kan? Jadi, meski mengobrol mengurangi risiko penularan, tetap saja tidak membuatnya benar-benar aman.  Intinya, sebuah pachinko parlor kurang lebih memiliki risiko yang sama dengan tempat ramai lain jika dikaitkan dengan COVID-19.

Memang sih, media dan pemerintah Jepang terlalu “kejam” pada tempat-tempat hiburan malam seperti pachinko parlor. Meski tidak disarankan karena tidak sepenuhnya “aman,” tidak bisa seenaknya “merampas” hak orang untuk bersenang-senang kan?