Share on

Jika di Amerika ratusan orang turun ke jalan untuk memprotes kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam yang mengalami tindak kekerasan ketika ditangkap oleh seorang petugas polisi di Minneapolis pada Senin (25/5) lalu, penduduk Jepang memprotes sebuah insiden rasisme yang juga dilakukan oleh kepolisian.

Insiden yang terjadi sekitar pukul 1 siang waktu setempat Jumat, 22 Mei 2020 di  Meiji Doori, Hiroo, Distrik Shibuya, Tokyo tersebut terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat 2 orang petugas polisi menghadang seorang pria di depan mobil polisi di sebuah jalan ramai sementara satu orang pertugas lainnya terlihat berdiri di samping sebuah mobil yang diberhentikan dengan 2 orang penumpang di dalamnya.  

Dalam video tersebut, sang pria yang merupakan warga Kurdi ini terdengar mengucapkan sesuatu berulang kali dalam bahasa Jepang, “Aku tidak melakukan apapun!” dan “Lari, pergi dari sini!” sebelum akhirnya ia meminta tolong pada orang yang merekamnya. Sementara itu, para petugas polisi memaksanya untuk “berhenti” berulang kali sambil memegangnya.

Video tersebut juga memperlihatkan petugas polisi yang terlihat lebih tua, memaksa agar pria Kurdi itu berlutut dengan menggunakan taiho jutsu. Ya, para polisi Jepang dilatih untuk menggunakan “taiho-jutsu” (“teknik menahan”) yang melibatkan beberapa gerakan judo untuk menahan orang tanpa menggunakan pistol, taser, atau semprotan merica sama sekali.

Di Jepang, ketika sebuah mobiI diberhentikan oleh polisi, sebuah pengeras suara digunakan untuk menginstruksikan pengemudi untuk menepi dan begitu mobil berhenti, seorang petugas polisi akan mendekati kendaraan di sisi pengemudi dan menjelaskan alasan mengapa mereka harus menepi. Jika itu karena pelanggran lalu lintas, sang supir biasanya akan diminra untuk meninggalkan kendaraan mereka dan menunggu di mobil polisi. Sidik jari pelanggar juga akan diambil dalam mobil polisi, meski itu hanya pelanggaran ringan sekalipun.

Karena di Jepang para pengendara diwajibkan untuk berkendara di sebelah kiri, hingga kini masih tidak diketahui mengapa kendaraan ini harus berhenti di sisi kanan jalan. Pintu mobilnya pun terbuka, sementara sang supir ditahan di jalanan.  

Seorang jurnalis freelance Hideki Kashida mengatakan bahwa pria Kurdish tersebut akhirnya dilepaskan oleh pihak kepolisisan tak lama setelah video tersebut diambil. Menurut Kashida, pria tersebut ditahan setelah ia menyapa para polisi dengan kalimat “gokurosama desu” yang bisa diartikan sebagai “terima kasih atas kerja kerasnya”, meski kalimat tersebut biasanya digunakan ketika berbicara pada seorang bawahan.   

Cuitan Kashida di atas berbunyi:

“Sebenarnya, sepuluh menit setelah kejadian, ia dibebaskan karena memang tidak melakukan apa-apa. Dia hanya mengatakan, “gokurosama desu” kepada seorang petugas yang bertatap muka dengannya. Meski begitu, sekumpulan pendemo dikabarkan akan berkumpul di depan patung Hachiko pada pukul 3 sore pada hari Sabtu (30/5) untuk menuju ke Kantor Polisi Shibuya untuk melakukan aksi unjuk rasa. Banner dan plakat diizinkan. Orang yang terluka (oleh polisi dalam vdeo) sepertinya akan ikut hadir dalam unjuk rasa tersebut”

Meski kejadian sebenarnya dalam video tersebut masih simpang siur hingga kini, insiden tersebut mengakibatkan penduduk Jepang menyadari isu rasisme di Jepang. Didorong oleh protes terhadap polisi yang saat ini terjadi di AS, sekitar 200 pendemo melakukan aksi protes di Tokyo, berjalan melalui persimpangan Shibuya sambil membawa plakat bertuliskan "f * ck the police" dan "polisi rasis wajib dihukum" dalam bahasa Inggris dan Jepang.

Para demonstran terlihat membandingkan apa yang terjadi di Tokyo dan kekejaman polisi di Amerika.  

Politukus Jepang Taiga Ishikawa juga terlihat turun ke jalan untuk berbicara pada para demonstran untuk menunjukkan dukungannya. Dia juga mengatakan salah satu petugas yang terlibat dalam insiden tersebut menyita smartphone perekam saat ia menyadari bahwa aksinya telah direkam dan menghapus video tersebut. Namun, video tetap aman karena sebelumnya sudah diunggah ke situs penyimpanan cloud.  

Para demonstran menggunakan hashtag #0530渋谷署抗議 (0530 aksi demo Stasiun Shibuya) untuk membagikan foto dan video terkait apa yang terjadi saat demonstrasi berlangsung.

Menurut pengguna Twitter di bawah, seorang pria ditahan setelah menerobos garis polisi dan memasuki bangunan kantor polisi pada pukul 5:03 sore.

Video di bawah menujukkan bentrokan antara para demonstran dan polisi.

Di Jepang sendiri, memang tidak aneh jika orang-orang yang terlihat tidak memiliki fisik layaknya orang Jepang pada umumnya diberhentikan oleh polisi di jalan untuk memperlihatkan kartu identifikasi mereka. Adanya praktik ini mempengaruhi orang asing non-kulit putih di Jepang. Para polisi sendiri beralasan bahwa hal ini dilakukan untuk melihat mereka yang sebagian besar merupakan pekerja berketerampilan rendah yang dibawa dari bagian lain Asia sebagai bagian dari inisiatif pemerintah untuk menanggulangi kekurangan tenaga pekerja agar tidak tinggal di Jepang lebih dari masa berlakunya visa mereka.

Bahkan, kapten tim rugby nasional Jepang yang dilahirkan di New Zealand pernah diminta untuk menunjukkan identitas diri kepada para polisi.

Penargetan individu berdasarkan penampilan ini memang telah menjadi suatu aspek kehidupan di Jepang yang membuat para turis dan penduduk asing khawatir. Namun, adanya demo yang dipicu oleh insiden yang terjadi di Amerika tersebut membuktikan bahwa masih banyak orang (termasuk warga Jepang) lelah dengan masalah rasisme dan mulai mengambil sikap unruk melawan ketidakadilan para polisi terhadap orang asing.