Share on

Hotline bunuh diri Jepang kian ramai saja setiap harinya. Setelah Saitama, giliran hotline bunuh diri Tokyo yang sibuk setelah mereka membuka sesi “curhat” sepanjang malam setiap satu minggu sekali. Panggilan-panggilan ini terus berlangsung tanpa henti hingga para relawan yang bertugas saat itu menyudahi seisinya keesokan paginya.  

Hotline tersebut, Tokyo Befrienders, sebenarnya telah memotong baik jam kerja dan jumlah relawan untuk mencegah makin menyebarnya wabah virus corona. Sayangnya, hal ini menyebabkan mereka mengalami dilema karena tak mampu menjawab semua panggilan masuk.

"Saat ini, banyak orang yang membutuhkan teman bicara. Namun, kenyataannya kami tidak bisa menjawab semua panggilan itu,” ujar center director Machiko Nakayama pada Reuters.

Seorang staff hotline bunuh diri Tokyo Befrienders sedang menerima telepon dari kliennya. (japantoday,com)
Seorang staf hotline bunuh diri Tokyo Befrienders sedang menerima telepon dari kliennya. (japantoday,com)

Sama seperti di Saitama, panggilan tersebut kebanyakan berasal dari mereka yang mengeluhkan kondisi ekonomi keluarganya yang hancur akibat pandemi, mengakibatkan perasaan ingin bunuh diri timbul. Bahkan, para tenaga kesehatan mengkhawatirkan guncangan ekonomi akibat pandemi ini akan membuat Jepang kembali ke masa kelam 14 tahun silam, di mana lebih dari 30.000 orang  memutuskan untuk bunuh diri akibat krisis ekonomi.  

Jepang sendiri diketahui sebagai negara dengan tingkat kasus bunuh diri terbanyak di antara negara G7. Karena itu, Jepang telah berusaha menekan jumlah ini dengan membuat peraturan baru serta perubahan di perusahaan yang berhasil menurunkan angka kasus bunuh diri menjadi 20.000 kasus pada tahun lalu.

Tersangka pembunuhan diduga bunuh diri (theweek.in)
Ilustrasi bunuh diri (theweek.in)

Untuk mencegah angka tersebut kembali naik, para pekerja garis depan pun meminta agar pemerintah meningkatkan  dukungan keuangan dan dukungan praktis lainnya.

"Kita harus segera bertindak, sebelum angka kematian akibat bunuh diri kembali tinggi," ujar Hisao Sato, kepala salah satu LSM yang menyediakan layanan konseling dan konsultasi ekonomi di Akita, prefektur di bagian utara Jepang yang dikenal memiliki tingkat kasus bunuh diri terburuk di Jepang.

Angka kasus bunuh diri di Jepang memang turun sekitar 20% pada bulan April, bulan pertama di mana negeri sakura ini melakukan soft lockdown. Sayangnya, para ahli mengatakan fenomena ini merupakan tanda bahwa tingkat bunuh diri akan naik setelahnya.

"Ya, keadaan tenang ini wajib dicurigai. Bisa saja ada kenaikan drastis setelahnya,” kata Saito.

Menurut data kepolisian pada tahun 2019, ekonomi adalah alasan terbesar kedua setelah kesehatan yang menyebabkan seseorang ingin melakukan bunuh diri. Dalam data tersebut, disebutkan pula bahwa laki-laki lebih cenderung melakukan bunuh diri dibanding dengan perempuan. Kebanyakam dari mereka berusia 40-60 tahun.

Ilustrasi  pria bunuh diri (japantoday.com)
Ilustrasi pria bunuh diri (deccanherald.com)

Krisis yang terjadi saat ini juga menyebabkan turunnya perekonomian Jepang sebesar 22,2 persen. Hal ini sangat berbahaya bagi bisnis kecil dan menengah. Apalagi, bantuan dari pemerintah pun belum tentu sampai tepat waktu.

"Keadaan sangat sulit. Banyak orang khawatir akan hal ini,” ujar Shinnosuke Hirose, CEO dari salah satu perusahaan human resources kecil yang kini kehilangan sedikitnya 90% bisnisnya.

“Rasanya seperti menunggu waktu eksekusi saja,” tambahnya. 

Sementara itu, salah satu staf dari Kementerian Kesehatan yang bertanggung jawab menanggulangi masalah bunuh diri mengatakan bahwa departemennya telah berencana untuk meminta dana tambahan dari dana satu juta triliun yang telah disiapkan pemerintah bagi mereka yang terdampak pandemi untuk membantu hotline bunuh diri.

Beberapa orang percaya bahwa hal tersebut akan segera dilakukan guna menekan angka kematian akibat bunuh diri di tengah pandemi ini, tapi ada juga yang tidak berpikir demikian.

Resilience Research Unit dari Universitas Kyoto memperkirakan akan ada lebih dari  2400 kasus bunuh diri setiap 1% naiknya tungkat PHK di Jepang. Jika wabah mereda dalam 1 tahun ke depan, PHK dapat memuncak sekitar 6% di bulan Maret nanti. Maka, akan membuat angka bunuh diri menjadi sekitar 34.000. Jika pandemi bertahan hingga 2 tahun ke depan, maka angka PHK akan naik menjadi 8% pada Maret 2022 dengan angka kasus bunuh diri mencapai lebih dari 39.000.

"Dukungan sosial tentu diperlukan... Namun, mereka tidak akan mampu untuk melakukannya secara mendadak,” kata kepala unit, Satoshi Fujii.

"Tapi, pencegahan kebangkrutan akan menolong,” tambahnya.

Sementara itu, hingga kini telepon di call center Tokyo Befrienders masih saja berdering. Layanan itu kini hanya dibuka pada hari Selasa , dengan 1 relawan yang bekerja dalam sistem shift, bukan 4 orang seperti biasanya.

"Semua orang telah berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup di masa social distancing ini, tapi lama kelamaan mereka mulai berpikir ‘mengapa aku melakukan ini?’ Apakah masih ada harapan untukku?’ Di saat itulah mereka mulai berpikir untuk mati saja,” ucap Nakayama, menggambarkan keadaan orang-orang yang memiliki keinginan bunuh diri.