Share on

Sudah berapa lamakah kamu tidak meninggalkan rumah akibat wabah COVID-19? Mungkin pada awal bekerja  atau belajar dari rumah rasanya menyenangkan (terutama bagi kamu yang introvert): tidak perlu bertemu dengan orang lain, tidak harus mengeluarkan ongkos atau bisa sedikit mencuri waktu untuk rebahan yang tentunya tak bisa kamu lakukan selama sekolah atau di kantor. Namun, lama kelamaan "terkurung" di rumah bisa membuatmu merasa kesepian dan kangen rasanya bertemu dan mengobrol bersama teman-temanmu, menikmati hidup “normal”. Hal ini mungkin membuatmu berpikir, berapa lamakah kita tahan untuk berdiam diri dalam rumah?

Advertise With Us

Pertanyaan inilah yang membawa sebuah perusahaan Jepang, Nomura Securities Co., yang menggelar sebuah survey untuk melihat berapa lamakah seseorang tahan berdiam diri di rumah untuk mencegah meluasnya penyebaran virus COVID-19. Nah, pada Selasa (14/4) lalu, On April 14, Nomura Societies merilis datanya.

Survei Perusahaan Jepang ini Menunjukkan Berapa Lama Seseorang Berdiam Diri di Rumah
Ilustrasi bekerja dari rumah (pakutaso.com)

Survey terkait berapa lama mereka merasa bisa bertahan untuk tidak ke luar selama masa karantina ini  mendapat 1,473 respon dengan jumlah terbanyak (36.9 persen) menjawab dengan “sekitar satu minggu”, 18.9 persen menjawab bahwa mereka dapat bertahan selama 2 minggu penuh. Sementara 15,4 persen sisanya mengatakan mereka hanya bisa bertahan dalam rumah hanya untuk 2-3 hari saja.

Nomura Societies juga mengatakan bahwa rata-rata orang yang mengikuti survey dapat bertahan selama 14.4 hari di dalam rumah tanpa terlibat kontak fisik dengan siapapun. Hasil rata-rata ini bercabang lagi ketika mereka diinterogasi berdasarkan umurnya:  mereka yang berumur sekitar 40 tahunan hanya dapat bertahan selama 12 hari, sementara peserta survey yang berumur 70 tahun atau lebih dapat bertahan hingga 18 hari.

Survei Perusahaan Jepang ini Menunjukkan Berapa Lama Seseorang Berdiam Diri di Rumah
Perbedaan mungkin terjadi karena beberapa orang produktif ingin terus bekerja. (pakutaso.com)

Perkembangan COVID-19 memang tidak pasti, bahkan dalam beberapa worst-case scenario, disebutkan bahwa “pengurungan” ini bisa mencapai tahun 2022. Nah, agar hal menyeramkan itu tak terjadi, tetap social distancing dan berdiam diri  di rumah ya! Jangan lupa juga untuk berdoa!