Berita Jepang | Japanesestation.com

Mewabahnya virus COVID-19 memang membuat semua orang pusing, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor hiburan malam seperti host, hostess, dan para penari. Begitu pula yang dialami Aya Yumiko, seorang penari eksotik Jepang yang berusaha hidup dengan tabungannya sejak bulan Maret lalu sambil menunggu kembali dibukanya bar dan club di Tokyo di mana ia menari dalam sebuah burlesque show.

Sayangnya, dengan keputusan yang dibuat Perdana Menteri Shinzo Abe pada Senin (4/5) lalu yang memutuskan akan memperpanjang status darurat Jepang hingga akhir Mei membuat Yumiko terpaksa harus menggunakan sisa tabungannya untuk bertahan hidup sebelum kembali bekerja nanti.

“Aku punya cukup uang untuk bertahan selama 2 hingga 3 bulan ke depan,” ujar penari dengan nama panggung Aya Mermaid ini.

Penari eksotis menjahit kostumnya sendiri. (scmp.com)
Penari eksotik menjahit kostumnya sendiri. (scmp.com)

Di waktu vakumnya yang mendadak ini, ia mnghabiskan waktu dengan menggunakan mesin jahit di rumah untuk membuat kostum yang terbuat dari bulu, bulu palsu, dan bahan-bahan lain. Ia juga berusaha agar tetap bugar dengan melakukan jogging di taman dekat rumahnya.

Lockdown di Jepang memang tidak seketat negara lain dengan bar, restoran, dan temoat hiburan lain hanya diminta untuk ditutup selama pandemi, tidak seperti negara lain yang melarang keras bisnis-bisnis tersebut berjalan selama pandemi. Meskipun begitu, tetap saja semua itu memengaruhi dan memukul keras roda perekonomian Jepang.

Freelancer seperti Yumiko yang sulit mendapatkan bantuan pemerintah dan mulai tertekan dengan pendapatan mereka yang hilang. Apalagi, dengan situasi tabungan yang mulai menipis.

Yumiko mengatakan bahwa sebelumnya ia dapat menghasilkan uang sekitar says 3.000 dollar AS selama sebulan dengan dua kali tampil dalam seminggu. Namun, uang-uang ini kebanyakan didapatnya dari tip yang diberikan oleh para penonton, menunjukkan bahwa ia tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

Aya menunjukkan properti show-nya. (scmp.com)
Aya menunjukkan properti show-nya. (scmp.com)

“Orang sepertiku tidak dapat berpegangan pada jaminan pemerintah,” ujar penari berusia 40 tahun ini.

Abe dan Pemerintah Jepang memang telah menyiapkan stimulus bagi para pekerja lepas atau freelancer. Mereka dapat mengklaim dana sebesar 1 juta yen jika mereka dapat membuktikan kalau pendapatan bulanan mereka lebih dari setengahnya.

Kembali ke Yumiko, ia dilahirkan di Prefektur Ishikawa, Jepang. Yumiko sempat putus sekolah pada umur 16 tahun dan hijrah ke Tokyo dengan pendapatan kurang dari 20 dollar AS.

Aya menjamin kostumnya sendirian (scmp.com)
Aya menjahit kostumnya sendiri. (scmp.com)

Ia telah bekerja di berbagai bidang dan sempat berkeliling dunia sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi penari eksotik 5 tahun lalu, setelah melihat sebuah burlesque show. Yumiko mengatakan ia sangat ingin kembali berdiri di panggung.

“Aku berpikir kira-kira kapan ya aku bisa mengenakan ini,” ucapnya sambil memamerkan kostum yang baru saja ia buat.