Share on

Masih ingat dengan artikel Jepang Akan Segera Mengucapkan Selamat Tinggal Pada Mesin Fax yang ditulis JS beberapa waktu lalu? Nah, dalam artikel itu sempat disinggung kan kalau sebelum memusnahkan mesin fax, pemerintah Jepang berniat untuk memusnahkan stempel atau “hanko” terlebih dahulu. Dan sepertinya, niat pemerintah Jepang itu akan segera terlaksana. Pasalnya, pada Rabu (7/10), Perdana Menteri Yoshihide Suga menginstruksikan pemerintah untuk berhenti meggunakan stempel hanko untuk melegalisir dokumen administratif, sebuah tradisi yang dinilai telah ketinggalan zaman dan dapat meningkatkan risiko penyebaran virus corona.

Advertise With Us

Yoshihide suga hanko japanesestation.com
Perdana Menteri Yoshihide Suga pada Rabu, 7 Oktober 2020 (mainichi.jp)

Langkah ini merupakan bagian dari rencana Suga untuk meningkatkan efisiensi birokrasi yang diharapkan dapat meningkatkan layanan pemerintah secara daring.

"Saya ingin semua kementerian menyusun tinjauan komprehensif tentang prosedur administrasi mereka dalam waktu dekat," ujar Suga dalam sebuah pertemuan Council for Promotion of Regulatory Reform, sebuah panel penasihat yang beranggotakan sektor swasta dan akademisi.

Selama ini, hanko digunakan di Jepang untuk menandatangani dokumen, mengesahkan transaksi bisnis dan berbagai prosedur administratif lainnya, termasuk mendaftar ke dalam program pensiun nasional. Namun, karena stempel harus ditekan ke bukti fisik dokumen, benda ini dianggap melanggar penerapan social distancing untuk mencegah COVID-19.

Yoshihide suga hanko japanesestation.com
Hanko (kyodonews.net)

Padahal, menurut Taro Kono, menteri yang membidangi reformasi administrasi, dari 10.000 tipe prosedur administratif yang membutuhkan hanko, lebih dari 90% dapat disederhanakan. Ia pun berharap dirinya bisa mengajukan undang-undang untuk mengatasi masalah ini pada sesi rapat kabinet tahun depan dan ingin mengurangi penggunaan mesin fax.

Selain masalah hanko, dalam rapat yang digelar Rabu lalu, Suga menekankan perlunya konsultasi medis daring sebgagai salah satu langkah pencegahan virus corona sebagai opsi permanen.

Perdana menteri yang dinobatkan pada pertengahan September ini juga menegaskan agar pembelajaran jarak jauh tersedia lebih luas lagi. Menurutnya, teknologi tersebut memang harus dimanfaatkan sepenuhnya pada era digital kini.