Share on

Seiring dengan ditutupnya kantor-kantor di pusat kota Tokyo yang membuat para karyawannya work from home untuk mencegah penyebaran virus corona meluas, makin banyak saja karyawan muda yang pindah ke area pedesaan atau pinggiran kota di mana harga sewa lebih murah dan keadaan alam yang masih terjaga. Ya, dengan kultur kerja Jepang yang berubah akibat pandemi, memang tidak aneh jika makin banyak karyawan muda Jepang yang mulai lelah tinggal di apartemen kecil dengan harga sewa tinggi di distrik bisnis Tokyo. Karena itu, mereka pun mencari lokasi lain untuk memulai gaya hidup baru.

Advertise With Us

Yutaka Kanai, chief product officer dari xenodata lab, sebuah perusahaan startup Tokyo yang memiliki spesialisasi dalam bidang analisis data berbasis AI misalnya, ia baru saja pindah dari pusat kota Tokyo ke Fujisawa di Prefektur Kanagawa, area selatan Tokyo yang memiliki pantai yang diidam-idamkannya sejak dulu.

karyawan muda Tokyo pinggiran kota japanesestation.com
Fujisawa (wikipedia.org)

"Alasan terbesar aku pindah dari Tokyo adalah karena aku tidak perlu pergi ke kantor,” ujar Kanai yang kini tinggal di sebuah rumah yangterletak di sebelah pantai.

Pekerja IT yang hobi berselancar ini kini dapat menyeimbangkan hidup dan pekerjaannya. Kanai mengatakan, kini ia dapat berselancar setiap pagi dengan mudah.

Ruang kerja Kanai pun jauh lebih luas, Saat perusahaan tempatnya bekerja mulai menerapkan teleworking, ia menghabiskan hari-harinya di apartemennya di Tokyo, bekerja dengan sebuah laptop di ruang tamunya, Namun, kini ia bisa bekerja dengan menggunakan 3 monitor besar di kantor di rumah barunya yang lebih luas.

"Alu merasa stresku berkurang karena ruang kerjaku bertambah besar,” kata dia.

Kanai hanya salah seorang dari banyak pekerja yang mulai memikirkan apa sih sebanrnya arti “rumah” bagi mereka setelah pada bulan Maret, pemerintah metropolitan Tokyo meminta agar para penduduk menunda bepergian jika tidak ada alasan mendesak karena wabah tak kunjung usai.

karyawan muda Tokyo pinggiran kota japanesestation.com
Ilustrasi area pinggiran kota (pakutaso.com)

Sejak akhir Maret lalu, angka “view” di situs informasi perumahan dan real estate Suumo mulai meningkat. Peningkatan ini sangat tidak biasa, apalagi setelah angka traffic menurun pada Januari hingga Maret saat siswa baru dan pekerja mencoba untuk mencari apartemen sebelum Jepang memasuki tahun ajaran dan fiskal baru di bulan April.

Sementara menurut situs yang dioperasikan oleh Recruit Sumai Co, salah satu perusahaan dari grup Recruit Holdings Co, property di pinggiran kota mulai menarik perhatian banyak orang, dibuktikan dengan kota Chigasaki, Prefektur Kanagawa, yang mengalami kenaikan “view” sekitar 90 persen pada Mei lalu, jauh lebih tinggi dibanding beberapa bulan sebelumnya. Traffic di Distrik Chuo, Kota Chiba juga terlihat mengalami kenaikan pada Mei lalu.

"Karena orang-orang ingin bekerja dengan nyaman di rumah, tempat luas dan tenang dianggap penting, dan karena itulah rumah-rumah baru di beberapa area pinggiran kota mulai menarik perhatian,” ujar Yoichi Ikemoto, chief editor  dari Suumo, situs informasi perumahan besar Jepang.

Ikemoto juga mengatakan bahwa membagi waktu antara lokasi di pusat kota Tokyo dan pinggiran kota atau pedesaan umumnya dilakukan oleh orang-orang tua atau lansia. Namun, kini hal ini lebih umum dilakukan oleh mereka yang berumur 30 tahunan dengan pendapatan tahunan sekitar 4 hingga 6 juta yen.

Hal ini juga membuat layanan penginapan jangka panjang di rumah-rumah yang berlokasi di area pinggiran kota atau pedesaan menarik perhatian.

karyawan muda Tokyo pinggiran kota japanesestation.com
Ilustrasi area pinggiran kota (pakutaso.com)

Angka member baru yang melakukan registrasi di "ADDress," sebuah layanan yang menawarkan lebih dari 50 properti di seluruh Jepang dengan harga 44.000 yen per bulan, meningkat dengan tajam sejak Januari. Kebanyakan aplikasi datang dari karyawan kantoran berusia sekitar 20 hingga 30 tahunan yang tinggal di Tokyo dan memilih rumah-rumah di Narashino, Prefektur Chiba yang sangat mudah diakses dari Tokyo jika ada hal darurat.

Meski status darurat virus corona di Jepang telah dinyatakan berakhir dan dicabut pada Mei lalu, Ikemoto menduga bahwa beberapa orang yang mulai terbiasa dengan work from home akan mempertimbangkan pindah ke area di mana mereka bisa hidup dengan lebih santai, meski mayoritas penduduk akan memilih tetap tinggal di kota.

"Akan lebih banyak orang memilih rumah-rumah lepas di pinggaran kota yang keadaan alamnya terjaha atau yang memiliki fasilitas komersial,” kata Ikemoto.

"Namun, menurutku tidak akan terjadi migrasi besar dari Tokyo ke daerah pinggiran karena pusat kota memiliki banyak toko fashionable, kompleks komersil, dan pilihan pendidikan yang lebih baik,” pungkasnya.