Berita Jepang | Japanesestation.com

Kesepian merupakan salah satu mesin pembunuh psikologis yang luar biasa. Tidak hanya COVID-19, sejak lama, kesepian telah menjadi pandemi yang berkepanjangan dalam masyarakat, terutama di Jepang. Jepang dianggap gagal dalam menangani kesepian. Fenomena kodokushi juga mungkin sudah tidak asing lagi bagi kamu, yaitu fenomena di Jepang ketika seseorang mati karena kesepian. Hal yang sama juga dilakukan oleh isolasi pribadi yang sering terjadi di Jepang, yaitu hikikomori

“Ada banyak penelitian medis yang menunjukkan efek negatif dari kesepian seperti jumlah bintang di langit,” kata ahli strategi komunikasi bernama Okamoto Junko. "Misalnya, ada hasil yang menunjukkan bahwa hal itu dapat meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 29 persen, itu sama buruknya bagi kesehatan seperti merokok 15 batang sehari, dan meningkatkan risiko Alzheimer sebesar 2,1 kali lipat."

Melihat pernyataaan Okamoto, tentu kita sudah merasa bahwa Jepang sudah mulai aware dalam menangani pandemi kesepian ini. Namun bagaimana praktek nyatanya?

Tentunya kesepian bukanlah sesuatu yang bisa diukur dengan angka, tetapi indikator tertentu dianggap sugestif. Misalnya, semakin banyak orang yang hidup sendiri di Jepang. Lebih dari sepertiga rumah tangga Jepang adalah penghuni tunggal - memang tidak terlalu tinggi menurut standar modern, yang menempati peringkat ketujuh dalam 36 negara maju dari Organization of Economic Cooperation and Development (OECD). Denmark, Jerman, Norwegia, Belanda, Austria dan Prancis berada di depannya. Inggris, yang juga berada dalam krisis kesepian, berada dua tempat di belakang Jepang.

Seseorang dapat hidup sendiri dan tetap memiliki kehidupan sosial yang ceria. Namun sayangnya, orang Jepang pada umumnya tidak demikian, menurut Weekly Business Shukan Toyo Keizai. Ia mengutip angka OECD lain yang menunjukkan Jepang mungkin negara paling kesepian di Bumi.

Sekitar 15 persen orang Jepang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki hubungan sosial sama sekali di luar keluarga - tertinggi di OECD.

Tidak hanya pada orang dalam usia menengah, kesepian juga sangat kental terjadi dalam masyarakat Jepang usia lanjut. Dalam pandemi COVID-19 dan new normal ini pun menurut Okamoto, orang-orang lanjut usia merupakan korban terbesar dari kesepian yang mendalam.

Kodokushi
Fenomena Kodokushi (straitstimes.com)

Okamoto pun menambahkan bahwa hal ini terjadi lebih besar dalam kasus laki-laki lanjut usia. Ketika ia mengeluarkan bukunya, banyak laki-laki berpandangan negatif akan tulisannya. Menurut mereka, faktor-faktor yang menyebabkan kesepian ini bukanlah sebuah masalah. Denial inilah yang juga menjadi akar dari tidak majunya Jepang dalam mengatasi kesepian.

Hal berikutnya yang Okamoto bahas adalah ishin denshin, budaya dalam komunikasi Jepang yang mengharapkan lawan bicara untuk memahami kita tanpa membuat statement yang eksplisit. Hal ini, menurut Okamoto, juga merupakan salah satu masalah yang telah berakar dalam budaya Jepang

Perjuangan Jepang dalam menghadapi kesepian tentu saja masih panjang, apalagi bila telah ada budaya yang berakar dalam masyarakatnya. Semoga saja, Jepang bisa menghadapi situasi ini dengan lebih baik ke depannya.

Disadur dari:

Nippon.com

Japan Times