Share on

Bagi siapa saja yang tidak tahu banyak tentang Jepang, negara ini seperti dunia fantasi yang dikelilingi pegunungan Fuji, pohon sakura, dihuni oleh para pecinta anime, samurai yang memamerkan katana mereka di sudut jalan, dan geisha yang malu-malu. Tetapi tentu saja semua itu hanya stereotip orang asing yang hanya mengetahui Jepang sekilas atau dari ucapan orang lain.

Advertise With Us

Ya, semakin sedikit kamu mengetahui tentang suatu tempat, semakin kamu akan bingung. Selama ini, banyak sekali orang asing yang salah paham tentang Jepang, dan beberapa di antaranya benar-benar sangat konyol. Berikut adalah 5 kesalahpahaman orang asing tentang Jepang yang paling konyol dan aneh.

1. Semua Orang Jepang Tinggal di Rumah Kayu, dan Masih Ada Samurai juga Geisha

Maaf mengecewakan kalian semua, tapi satu-satunya cara untuk melihat seorang samurai di Jepang saat ini adalah di museum atau di gambar, dan...kuburan. Tidak, tidak ada orang yang berkeliaran dengan kostum samurai meskipun kamu biasa melihatnya di banyak iklan di TV. Katana juga tertutup dengan aman dan menunggu turis asing kaya untuk membelinya di toko suvenir.

Apa kamu sudah melihat foto Tokyo akhir-akhir ini, dengan semua gedung pencakar langit? Tidak, orang Jepang tidak lagi tinggal di rumah kayu. Rumah-rumah kayu tua memang masih ada untuk dilihat siapa pun, dan sebagian besar rumah Jepang melestarikan fitur tradisional seperti ruang tatami dan fusuma, meskipun desain rumah mereka sangat modern. Tetapi bukan berarti semua orang Jepang tinggal di rumah kayu.

Dan ya, dengan sedikit keberuntungan, dan hanya di Kyoto, kamu mungkin bisa menjumpai maiko (geisha magang). Maiko dan geisha masih ada, tetapi bisnis ini secara keseluruhan sangat tersembunyi, sehingga kamu hampir tidak bisa melihatnya di jalanan.

2. Semua Orang Jepang Makan Nasi

etika makan
Etika makan di Jepang (pakutaso.com)

Iya, semua orang Jepang memang makan nasi, tetapi bukan berarti mereka hanya makan nasi saja. Mereka juga makan mie, roti, steak, bahkan pasta. Kecuali jika kamu bepergian ke Jepang dengan mesin waktu ke masa pasca perang pada tahun 50-an.

Bagaimanapun, Jepang adalah negara dengan beras sebagai makanan pokoknya, dan tidak akan pernah berubah.

3. Semua Orang Jepang Suka Anime dan Manga

what is kawaii
Street fashion Jepang  (tokyofashion.com)

Booming-nya anime di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat dalam 2 dekade terakhir membuat manga dan anime menjadi produk budaya internasional terlaris sepanjang masa. Tetapi bagaimana jika faktanya semua obsesi dengan anime dan manga Jepang sebagian besar ada pada orang asing? Bagaimana jika sebagian besar otaku sebenarnya adalah orang asing?

Ini bukan berarti tidak ada otaku Jepang. Mereka ada Jepang, jika tidak, Akihabara tidak akan bisa berkembang hanya dari produk yang akan dibeli sesekali oleh orang asing. Ada juga orang yang membaca manga di kereta api dan orang yang benar-benar menonton anime di TV. Tetapi bukan juga berarti SEMUA orang Jepang menyukai anime dan manga.

4. Semua Orang Jepang Adalah Budak Kerja

etika menaiki kereta Jepang japanesestation.com
Suasana dalam kereta (tsunagujapan.com)

Jepang terkenal dengan salaryman yang bahkan akan tidur di tempat kerja atau bahkan di kereta jika itu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan demi perusahaan. Ada juga fakta bahwa pengusaha yang sama kemungkinan besar akan mengabaikan keluarga mereka demi perusahaan. Dan bukan rahasia lagi bahwa sebenarnya perusahaan dianggap sebagai tempat orang menghabiskan lebih banyak waktu daripada di rumah.

Sekarang, apakah semua hal di atas membuat semua orang Jepang menjadi budak kerja? Tidak. Pertama, karena budak tidak menerima bayaran dan gaji jauh di atas rata-rata. Kedua, rata-rata perusahaan Jepang mengatur 5 hari kerja dalam seminggu dengan 2 hari libur (Sabtu dan Minggu). Selain itu, jadwal di kebanyakan perusahaan adalah rata-rata 09: 00-17: 00/18: 00 dengan istirahat makan siang satu jam dan total sekitar 40 jam lembur setiap bulan.

Aturan di atas berlaku untuk semua perusahaan di seluruh Jepang, tetapi undang-undang juga mengizinkan mereka untuk bermain dengan jam lembur dan hari kerja, karena beberapa celah. Banyak orang Jepang tidak pulang kerja saat jam kerja mereka selesai, bahkan terus lembur, bukan karena perusahaan memaksa mereka melakukan itu, tetapi mereka merasa harus menyelesaikan pekerjaan mereka saat itu juga.

Jadi, apakah orang Jepang sebenarnya adalah budak kerja? Tidak, tetapi orang Jepang adalah pecandu kerja, karena mereka memiliki tingkat keterlibatan dan tanggung jawab yang lebih tinggi terhadap tugas yang seharusnya mereka tangani.

5. Semua Orang Jepang Kaya Raya

Orang Jepang
Tidak semua orang Jepang kaya raya (scmp.com)

Mengikuti argumen di nomor 4, kamu mungkin berpikir bahwa dengan semua pekerjaan itu, semua orang Jepang kaya raya. Sekarang, mari kita lihat beberapa gambaran.

Lulusan perguruan tinggi di Jepang rata-rata mendapat pekerjaan pertama dengan gaji sekitar 185.000-230.000 yen. Kontrak tersebut biasanya permanen sehingga mereka tidak perlu khawatir tentang mencari pekerjaan lain selama sisa hidupnya.

Angka gaji pertama ini cukup banyak jika dibandingkan dengan apa yang ditawarkan negara lain kepada karyawan level awal seperti mereka. Sebagian besar perusahaan Jepang juga menawarkan "asrama" bagi pegawainya hingga usia 30 tahun, dan mengganti semua biaya perjalanan mereka. Terlebih lagi, mereka akan mendapatkan kenaikan gaji dan bonus setiap 6 bulan. Yang pastinya, penghasilan mereka tidak sedikit.

Jadi, apakah orang Jepang kaya? Iya dan tidak. Cukup kaya untuk menyewa rumah, mobil, dan menghidupi keluarga mereka. Tidak, karena gaji mereka juga menyesuaikan dengan biaya hidup di Jepang yang mahal. Bahkan selebriti Jepang yang “kaya raya” tidak akan menunjukkan kekayaan mereka dengan blak-blakan, karena kesederhanaan adalah kuncinya, dan semua orang harus setara.