Share on

Masih ingat dengan fenomena wanita Jepang yang tidak mau menikah? Ternyata, ada fenomena lain di Jepang, namanya sotsukon, yang berarti “lulus dari pernikahan”.  Istilah ini berasal dari sebuah buku karangan seorang penulis Jepang Yumiko Sugiyama, Sotsukon no Susume. Nah, apa sih sebenarnya sotsukon itu?

Kata sotsukon merupakan kombinasi dari 2 kata dalam bahasa Jepang, yaitu sotsugyo (卒業) yang berarti “lulus” dan kekkon (結婚) yang berarti “menikah”. Istilah ini digunakan di Jepang untuk mendeskrisikan pasangan yang menikah namun menjalani kehidupan masing-masing tanpa pasangan mereka.

Sedikit aneh ya, bukankah seharusnya dua orang yang menikah itu hidup bahagia bersama?

Ternyata, hal ini disebabkan adanya peran berbeda antara suami dan istri dalam pernikahan Jepang. Di Jepang, secraa tradisional, pria adalah kepala keluarga, dan sang istri hidup dengan dukungan finansialnya dan mengurus urusan rumah tangga. Inilah yang menyebabkan beberapa wanita ingin “lulus dari pernikahan.”

Takut Saat Suami Pensiun

Wanita Jepang menikah japanesestation.com
Istri yang mengerjakan pekerjaan rumah (savvytokyo.com)

Hampir semua wanita Jepang berakhir berperan menjadi seorang “pembantu” atau ibu sementara suami mereka bekerja. Ya, para suami biasanya tidak mau tahu sama sekali barang-barang seperti celana dalam mereka disimpan, dan sang istrilah yang wajib mencarinya. Inilah yang membuat para istri takut jika suatu saat suami mereka pensiun, mereka harus melayani mereka sepanjang hari.

Ketakutan ini bahkan tercermin dari sebuah survei terkait sotsukon yang digelar oleh suatu badan arsitektur pada tahun 2014. Survei ini bertanya pada sekitatar 200 orang wanita berusia 30 hingga 60 tahun yang sudah menikah apakah mereka tertarik dengan sotsukon, dan dari 200 orang istri, 56.8% mengatakan mereka tertarik. Saat ditanya tentang kapankah mereka ingin melakukan sotsukon, 35% menjawab mereka akan melakukannya pada umur 60 hingga 65 tahun, tepat saat sang suami pensiun.

Alasan responden beraneka ragam, namun kebanyakan mengatakan mereka ingin menikmati hiudp mereka. Misalnya:

“Aku ingin kami mengejar mimpi  masing-masing selagi masih sehat untuk melakukannya.”

“Aku ingin waktu untuk diriku sendiri tanpa harus melaporkan apa yang aku lakukan pada suamiku.”

“Kini, anak-anak kami telah dewasa. Jadi aku ingin bisa melakukan semua hal yang selalu ingin aku lakukan, namun aku tahan..”

“Aku ingin bebas dari pekerjaan rumah.”

“Aku mencintai suamiku, tapi hidup bersama di rumah yang sama setiap hari sudah cukup. Hidup berjauhan akan membuat kami lebih menghargai satu sama lain.”

Berbagai Jenis Sotsukon

Wanita Jepang menikah japanesestation.com
Ilustrasi pasangan sotsukon (savvytokyo.com)

Salah satu aspek utama sotsukon adalah fleksibilitasnya. Beberapa pasangan tetap tinggal bersama namun memasak dan membersihkan rumah masing-masing seperti housemate biasa. Ada juga yang memilih untuk tinggal berpisah namun terkadang bertemu untuk kencan, atau sekadar mengobrol.

Tidak seperti perceraian, tidak ada prosedur hukum yang harus dilalui pasangan, membuat sotsukon menjadi cara lebih mudah dan murah untuk “lulus” dari pernikahan. Para pasangan juga bisa kembali ke gaya hidup lama mereka dengan mudah.

Wanita terlihat lebih antusias terhadap sotsukon. Dalam sebuah penelitian yang dillakukan oleh Meiji Yasuda Research Institute, ditemukan bahwa wanita berusia 40-64 melihat sotsukon sebagai sesuatu yang baik. Survei ini digelar secara daring pada Juni 2018 dam dijawab oleh 52.000 responden pria dan wanita.

Tentunya sotsukon memiliki dampak positif dan negatif lho. Apa saja? Simak penjelasannya di halaman selanjutnya ya!