Share on

Baru-baru ini, pemerintah Korea Selatan meminta agar UNESCO mencabut salah satu situs sejarah yang memiliki keterkaitan terhadap revolusi industri Jepang dari daftar Situs Warisan Dunia mereka. Situs tersebut adalah Pulau Hashima, sebuah pulau di area Nagasaki. Mereka beralasan kalau dengan terdaftarnya Pulau Hashima sebagai salah satu situs Warisan Dunia, berarti Jepang enggan memberi info jelas tentang para pekerja paksa dari Korea Selatan pada zaman itu.

Lantas, seperti apa masa lalu dan bagaimana sejarah pekerja paksa Korea Selatan di pulau ini? 

Pulau Hashima dan Sejarah Kelamnya

Korea Selatan pekerja paksa Jepang japanesestation.com
Pulau Hashima pada tahun 1930 (wikimedia.org)

Pulau Hashima atau Gunkanjima (Pulau Kapal Perang), adalah sebuah pulau tak berpenghuni yang terletak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Nagasaki. Fitur paling mencolok dari pulau ini adalah bangunan-bangunan kosongnya. Pulau ini merupakan simbol revolusi industri di Jepang. Namun, di saat yang sama, situs ini menjadi saksi dari kerja paksa pada Perang Dunia II.

Kekejaman Jepang sebenarnya berawal saat batu bara ditemukan di pulau ini pada 1810 dan mulai dijadikan sebuah fasilitas penambangan batubara pada tahun 1887 hingga 1974. Pada tahun 1890, Mitsubishi Goshi Kaisha membeli pulau ini dan mulai mengekstrak batu bara dari tambang bawah laut sambil membangun sebuah tembok laut. Pulau ini pun terus dikembangkan hingga medukung sarana kehidupan dan hiburan bagi para pekerja tambang dan keluarganya.

Namun di balik kemewahannya, mulai pada tahun 1930 hingga akhir Perang Dunia II, penduduk sipil yang diculik dari Korea dan tahanan perang dari Cina dipaksa untuk bekerja di bawah kondisi yang keras dan perlakuan kejam di fasilitas milik Mitsubishi Korean di bawah aturan mobilisasi perang Jepang. Pada periode ini, diperkirakan sekitar 1,300 pekerja paksa tewas akibat berbagai macam sebab, mulai dari kecelakaan bawah tanah, kelelahan, hingga malnutrisi.

Laporan resmi menyebutkan bahwa ada sekitar 1.162 orang Jepang, 122 orang Korea dan 15 orang Cina yan dikremasi antara tahun 1925 dan 1945. Namun, angka kematian sesungguhnya nyatanya lebih tinggi, dibuktikan dengan sebuah pernyataan yang dikutip dari Global Times, “sekitar 722 pekerja asal Cina dan 1.442 pekerja paksa asal Korea tewas di pulau tersebut saat akhir Perang Dunia II".

Namun, setelah minyak bumi mulai mengganti posisi batu bara di Jepang pada tahun 1960, pertambangan batu bara di Jepang mulai tutup satu persatu, tidak terkecuali Hashima. Mitsubishi pun menutup tambang tersebut secara resmi pada Januari 1974, dan dikosongkan pada bulan April di tahun yang sama. Kini, yang tersisa hanyalah sejarah kelam, kontoversi yang menyelimutinya, serta beberapa bangunan apartemen yang masih berdiri kokoh, serta tembok laut yang mengelilinginya.

Kontroversi

Korea Selatan pekerja paksa Jepang japanesestation.com
Pulau Hashima yang dipadati pengunjung pada tahun 2015 (theguardian.com)

Seperti yang sudah disebutkan di atas, kontroversi adalah salah satu hal yang tersisa di balik reruntuhan bangunan pulau ini. Pertikaian ini dimulai saat pada tahun 2009, Jepang meminta pada UNESCO agar pulau ini dijadikan Situs Warisan Dunia meski banyak kecaman dari berbagai pihak, terutama para korban.

Bahkan pada 2015, sesaat sebelum permintaan Jepang dikabulkan oleh UNESCO, para pekerja paksa dan keturunannya tetap mengkampanyekan permintaan kompensasi mereka dari perusahaan yang mengeksploitasi mereka pada tahun 1930 hingga tahun 1940-an.

Salah satu di antara mereka adalah Joo Seok-bong (95), salah satu warga Korea yang meminta pertanggung jawaban upah dan permintaan maaf dari Nippon Steel & Sumitomo Metal, perusahaan Jepang yang kini memiliki Yawata Steel Plant, perusahaan tempatnya bekerja hingga akhir Perang Dunia.

“Aku selalu kelaparan karena makanan yang diberikan sangat sedikit,” ujar Joo yang bekerja di tempat itu sejak tahun 1943.

“Kami selalu takut mati akibat bom, tapi aku lebih menderita karena kelaparan,” tambahnya.

Lantas, setelah isu ini kembali diangkat, apa yang akan terjadi pada Pulau Hashima? Akankah UNESCO mencabut statusnya dari Situs Warisan Dunia?

Sumber:

Japan Today

The Guardian

Global Times

Hashima: The Ghost Island ( Brian Burke-Gaffney, University of Wisconsin Oshkosh)

Wikipedia