Share on

Angka lowongan kerja bagi lulusan baru dari universitas untuk periode Maret mendatang menurun hingga 15,1% dari tahun sebelumnya menjadi 683.000 akibat dampak dari pandemi COVID-19. Menurut sebuah institut penelitian pada Kamis (6/8), angka tersebut merupakan penurunan tertajam dalam dekade ini.

Advertise With Us

Estimasi turunnya angka lowongan kerja ini dibuktikan oleh tindakan yang diambil oleh beberapa perusahaan besar seperti ANA Holdings Inc, Japan Airlines Co. dan H.I.S. Co. yang menghentikan sementara rekrutmen bagi lulusan baru di musim semi mendatang. 

Dilansir dari Japan Today, Recruit Works Institute, sebuah divisi peneelitian dari Recruit Holrings Co., mengatakan bahwa rasio lowongan kerja bagi para lulusan baru memburuk selama 2 tahun terakhir dari 1,53 menjadi 1,83, menjadi penuruan paling drastis sejak tahun 2011 silam, saat bursa kerja masih berputar setelah berakhirnya krisis finansial global pada tahun 2009.

lowongan pekerjaan Jepang japanesestation.com
Ilustrasi mencari pekerjaan di internet (pakutaso.com)

Jika dilihat dari industri, lowongan kerja di sektor layanan informasi terjun 21,6% dari tahun lalu menjadi 73.100, sementara industri distribusi turun sekitar 17,9% menjadi 274.000 dan manufaktur turun 16,2% menjadi 234.000 saja.

Sebenarnya, angka lowongan kerja bagi lulusan baru sempat naik dalam 5 tahun terakhir hingga 2019 sebelum menurum pada musim semi ini, meski tetap memiliki 800.000 lowongan.

Sebelumnya, Recruit Works sempat merilis estimasi lowongan kerja bagi lulusan baru pada April 2021 mendatang, tapi kembali merilis survei baru untuk melihat dampak virus corona yang menyebabkan beberapa negara mengumumkan status darurat pada April dan Mei.

"Magnitudo turunnya lowongan kerja memang tidak seburuk penurunan saat meledaknya bubble economy di Jepang pada tahun 1990-an dan krisis finansial global pada tahun 2009," ujar Hiroyuki Motegi, seorang analis di Recruit Works Institute.

"Terlepas dari pandemi virus corona, rekrutmen lulusan baru relatif kokoh," tambahnya.

Survei pertama institut tersebut mendapat respon dari 2.479 mahasiswa yang mencari pekerjaan dan 4.481 perusahaan dengan lima atau lebih pegawai, sementara 3.733 orang merespon survei ekstra yang digelar Juni lalu.