Share on

Janji Perdana Menteri Yoshihide Suga untuk meningkatkan dukungan fertilitas mungkin menjadi harapan bagi mereka yang ingin memiliki bayi. Sayangnya, para ahli mengatakan bahwa peraturan ini tak akan mampu meningkatkan angka kelahiran Jepang.

Advertise With Us

Sebagai negara dengan populasi lansia terbanyak di dunia, tentu negeri matahari terbit ini khawatir akan masa depannya. Karena itu, Suga berjanji untuk membuat fasilitas yang berhubungan dengan fertilitas akan ditanggung oleh asuransi kesehatan nasional yang rencananya akan mulai berlaku pada 2022 mendatang.

Dilansir dari Japan Today, memang akan banyak pasangan yang tertarik dengan janji Suga tersebut. Namun, para ahli mengatakan langkah tersebut tak akan cukup untuk meningkatkan angka kelahiran, apakagi di bawah tekanan pandemi virus corona yang makin menjadi penghalau bagi orang-orang dalam usia kerja.

nama bayi Jepang unik japanesestation.com
Ilustrasi bayi (fotolia.com)

Angka kelahiran Jepang per 2019 memang kecil, hanya 1,36 dengan 856.234 bayi lahir di tahun tersebut. Kini, pemerintah berusaha untuk meningkatkan jumlah tersebut menjadi 1,8.

Dukungan dari masyarakat memang sudah mulai terlihat, Seorang wanita berusaia 37 tahun asal Tokyo ini misalnya. Ia mengatakan bahwa dirinya “senang” akan rencana Suga. Sebelumnya, wanita ini telah menghabiskan 2 juta yen selama 4 tahun untuk melakukan treatment fertilitas. Ia berharap asuransi tersebut pun dapat meningkatkan kualitas treatment yang disediakan oleh klinik fertilitas.

Seorang wanita lain berumur 35 tahun dan berdomisili di area timur Tokyo pun mengatakan hal serupa. Namun, ia pun mengungkapkan kekhwatirannya.

"Wanita bisa dianggap hanya sebagai ‘mesin penghasil anak’ jika tujuan peraturan tersebut hanya meningkatkan angka kelahiran,” ungkapnya.

angka kelahiran Jepang turun japanesestation.com
Ilustrasi bayi (pakutaso.com)

Kini, mayoritas treatment fertilitas di Jepang mengdakan tes untuk mengetahui ketidaksuburan dan menyediakan obat pemicu ovulasi yang tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan. Ada juga metode lebih canggih seperti vitro fertilization di mana sel telur dikumpulkan dari ovarium dan difertilisasi oleh sperma dalam sebuah lab dan microinjection, di mana sebuah sperma disuntikkan ke dalam sel telur yang menghabiskan ribuan yen per proses.

Meski ada subsidi masyarakat dengan total 1,05 juta yen bagi pasangan yang ingin melakukan layanan fertilitas hingga sebanyak 6 kali, namun, ada batas umur bagi wanita, 43 tahun. Tak hanya itu, ada juga batasan pendapatan tahunan gabungan pasangan sebesar 7,3 juta yen di sebagian besar kota.

"Sangat mudah bagi pasangan yang keduanya bekerja penuh waktu untuk melebihi ambang pendapatan tahunan,” ujar Ran Kawai, seorang jurnalis spesialis masalah kelahiran anak. Ia juga mengatakan bahwa banyak penerima subsidi yang tak mampu menutupi biaya total meski ada bantuan.

Sementara itu, menurut staf Kementerian Kesehatan, pihaknya tengah mempertimbangkan untuk menghapus batas pendapatan tahunan serta melonggarkan pembatasan jumlah siklus treatment mulai April 2021 mendatang. Namun, hal ini sulit untuk dilakukan di Jepang karena infertilitas (kemandulan) tak dianggap sebagai sebuah penyakit.

nama bayi Jepang unik japanesestation.com
Ilustrasi bayi (pakutaso.com)

Selain para ahli, tentangan pun datang dari beberapa pihak. Misalnya partai oposisi Constitutional Democratic Party of Japan (CDPJ) yang mengirimkan petisi pada Kementerian Kesehatan. Menurut CDPJ, memperluas dukungan bagi treatment fertilitas tidak sejarusnya meningkatkan tekanan bagi pasangan untuk memiliki anak.

Kendati demikian, Kawai berharap dengan menurunkan tanggungan biaya melalui asuransi dapat membuat pasangan muda untuk melakukan treatment fertilitas lebih awal agar tingkat kesuksesannya pun lebih besar.

Kawai juga berkata bahwa treatment bagi mereka yang mengalami masalah seperti tubal obstruction dan kurangnya sperma yang tidak ditanggung oleh asuransi sangat tidak masuk akal.

Karena itu, menurutnya, meningkatkan dukungan untuk treatment fertilitas hanyalah salah satu cara dari beberapa langkah yang diperlukan untuk membantu membalikkan tingkat kelahiran yang menurun, karena gaya hidup wanita Jepang yang beragam.

Ia pun mengatakan bahwa faktor lain yang berasal dari pandemi virus corona dapat mempengaruhi tingkat kelahiran. Misalnya, banyak anak muda yang kehilangan kesempatan untuk ke luar dan mencari pasangan. Karena itu, memang rencana ini tak cukup untuk meningkatkan angka kelahiran.

"Jumlah bayi baru lahir diperkirakan menurun tajam tahun ini (akibat virus corona)," tutup Kawai.