Share on

Sejak awal Agustus, suhu udara di Jepang memang sedang tinggi-tingginya. Saking tingginya, suhu udara di Jepang kini disebut-sebut melebihi suhu udara musim panas pada umumnya. Bahkan, memasuki pertengahan Agustus lallu, suhu udara di area Kanto mencapai 35o Celcius atau lebih. Lantas, apakah penyebab di balik suhu tinggi di Jepang ini? Untuk menjawabnya, mari kita perhatikan beberapa poin yang dikutip dari Mainichi Shinbun berikut.

Advertise With Us

Jadi, menurut Badan Meteorologi Jepang, sistem tekanan tinggi Pasifik yang berpusat di laut tenggara Jepang menyebar dan menutupi seluruh wilayah negara. Selain itu, sistem tekanan tinggi Eurasia continental Tibet menumpuk di atas tekanan tinggi Pasifik, menciptakan sistem tekanan tinggi bertingkat dua di seluruh Jepang.

Karena adanya sistem bertekanan tinggi ini, langit selalu cerah dan awan-awan pun sulit terbentuk, membuat suhu panas lebih mudah terakumulasi di tanah karena meningkatnya intensitas radiasi matahari. Sistem tekanan tinggi yang tumpang tindih ini juga dapat meningkatkan efek tersebut, menyebabkan suhu melonjak.

Sistem yang tumpang tindih tersebut disebabkan oleh wilayah barat subtropis yang membentang di utara sistem Tibet bergerak ke utara, membuat jaraknya lebih dekat dengan Jepang daripada di tahun biasanya. Hal ini membuat sistem tersebut dapat meluas ke seluruh penjuru Jepang. Selain itu, peningkatan suhu air di Samudera Hindia juga memperparah hal ini karena menutupi kepulauan Jepang lebih luas dari biasanya.

suhu panas Jepang japanesestation.com
Orang-orang yang mengenakan masker berjalan di bawah teriknya matahari di Hamamatsu, Prefektur Shizuoka di area tengah Jepang pada 17 Agustus 2020, di mana suhu mencapai 41,1 derajat (mainichi.jp)

Hal-hal di atas membuat beberapa area di Jepang memiliki suhu di atas 40o Celcius. Dalam artikel JS sebelumnya, disebutkan bahwa suhu udara di Hamamatsu dan sekitarnya mencapai  41,1o C pada 17 Agustus, membuat suhunya setara dengan suhu tertinggi dalam catatan sejarah Jepang yang terjadi pada musim panas tahun 2018 silam.  Udara di area tersebut jauh lebih hangat dibanding langit di sekitarnya, mencegah udara dingin memasuki kota. Tak hanya itu, udara yang menghangat di Dataran Nobi, yang membentang ke barat laut juga nampaknya bergerak dan menciptakan angin lereng yang kuat ketika melewati pegunungan di sebelah barat Hamamatsu, memicu lonjakan suhu di kota itu.

Rupanya selain Jepang, ada beberapa negara lain yang diserang gelombang panas. Pada 20 Juni lalu, suhu di Verkhoyansk, area timur Rusia, menyentuh angka 38o C, memeceahkan rekor suhu tertinggi di area  Arktik. Suhu udara di Death Valley, California bahkan lebih tinggi lagi, mencapai 54o Celcius pada 16 Agustus.

Akhir-akhir ini, memang semakin banyak laporan mengenai adanya suhu ekstrim di berbagai belahan dunia. Para ahli pun berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh global warming. Karena itu, mari kita minimalisir dampak dari global warming mulai dari hal-hal kecil, menggunakan tas belanja ramah lingkungan misalnya?