Berita Jepang | Japanesestation.com

Meningkatnya kasus infeksi virus corona di Jepang rupanya membawa petaka bagi pasien dalam keadaan darurat. Pasalnya, angka ditolaknya pasien darurat pada dari fasilitas kesehatan di periode tahun baru ini meningkat 55% atau 3 kali lipat dibanding bulan sebelumnya.

Menurut Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi, naiknya angka pasien darurat yang ditolak tersebut disebabkan oleh penuhnya ranjang rumah sakit dengan pasien virus corona.

Dilansir dari Mainichi, kasus ditolaknya pasien yang meminta tolong melalui nomor darurat 119 oleh fasilitas kesehatan meningkat sebanyak 3 kali lipat dan pasien-pasien ini kerap dibiarkan di UGD selama 30 menit atau lebih atau bahkan ditandai sebagai kasus “kesulitan penanganan.”

Kasus COVID-19 di Jepang
Ilustrasi pasien diJepang (thejakartapost.com)

Menurut investigasi yang dilakukan di 52 markas pemadam kebakaran yang berbasis di Tokyo dan area dengan angka pasien darurat tinggi, ditemukan bahwa dalam periode 28 Desember 2020 hingga 3 Januari tahun ini, ada 2.179 kasus kesulitan penanganan yang terekam, naik sekitar 55% jika dibandingkan dengan minggu sebelumnya pada 30 November hingga 6 Desember 2020 dengan jumlah kasus sebanyak 1.410 kasus.

Dari total 2.179 kasus, 1.014 di antaranya terjadi di area yang dinaungi Pemadam Kebakaran Tokyo, menunjukkan kenaikan sekitar 61% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berjumlah 631 kasus. Sementara itu, Pemadam Kebakaran Osaka di area Kansai mendapati kenaikan sebanyak 42% dengan total 271 kasus dan Pemadam Kebakaran Yokohama melaporkan adanya 106% kenaikan dengan total 173 kasus.  

Menurut pihak Pemadam Kebakaran Yokohama, dari 173 kasus tercatat, 60% di antaranya mengeluh mengalami demam, sementara satu orang telah ditolak oleh 14 rumah sakit. Pemadam Kebakaran Kawasaki pun melaporkan kasus serupa, di mana tak ada rumah sakit lokal yang siap menerima pasien dengan keadaan darurat, membuat tim gawat darurat Kawasaki meminta rumah sakit di kota Sagamihara untuk menerima pasien darurat meski mereka harus diangkut selama satu jam dengan ambulans untuk menuju ke sana.

rumah sakit covid-19 jepang japanesestation.com
Ambulans (mainichi.jp)

Menanggapi situasi ini, Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran mengatakan bahwa alasan utama di balik meningkatnya penolakan rumah sakit adalah karena semua fasilitas kesehatan ditekan untuk merespon semua pasien COVID-19, membuat mereka tak mampu menyediakan layanan umum.

Dengan gelombang ketiga COVID-19 yang menyebabkan kenaikan infeksi tinggi, terlihat bahwa sistem kesehatan Jepang mulai kewalahan. Saat seseorang didiagnosa terjangkit COVID-19, pusat kesehatan seharusnya mengatur rumah sakit bagi mereka, namun, terkadang pasien yang awalnya terlihat baik-baik saja bisa mendadak menunjukkan gejala parah di malam harinya, membuat mereka harus diangkut menggunakan ambulans.  

Klinik Nagao di Amagasaki, Prefektur Hyogo misalnya. Kepala klinik, Kazuhiro Nagao, melaporkan bahwa ada seorang pria berusia 60 tahunan yang menjalani isolasi mandiri di rumah setelah dinyatakan positif virus corona dengan gejala ringan pada awal Januari lalu. Namun, suatu malam ia tiba-tiba mengalami gangguan pernapasan parah dan demam tinggi mencapai 39 derajat Celsius.

Saat istrinya menelepon klinik tersebut, ia diminta untuk menelepon ambulans dan mencari rumah sakit yang akan menerimanya.

Menanggapinya, Nagao pun mengatakan bahwa kini klinik setingkat pusat kesehatan masyarakat tidak mampu sepenuhnya menanggapi peningkatan infeksi dan kasus-kasus darurat.

“Dengan hilangnya kamar kosong, mereka dengan kondisi umum yang membutuhkan perawatan rumah sakit seperti radang empedu membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan biasanya untuk menemukan rumah sakit yang menerima mereka,” ujar Nagao.