Share on

Selama 85 tahun hidupnya, Asa Ishikami nampaknya tak pernah melihat perubahan berarti dalam kesehariannya. Namun, semua itu berubah sejak ia menyaksikan sebuah masa depan bagi tempat tinggalnya, sebuah desa di timur laut Jepang. Kini, desa itu memiliki sebuah benda ajaib, mobil semi-otonom.

Advertise With Us

Populasi desa tersebut mulai menurun, membuat bus yang melintasi rute lokal  pun kosong. Karena itu, hadirnya mobil semi otonom berbentuk seperti golf-buggy ini memberi secercah harapan pada masyarakat setempat.

"Benda ini sangat praktis untukku karena aku hidup sendirian dan hidup sendirian dan tidak memiliki sarana lain untuk menempuh jarak yang agak jauh (bagiku)," ujar Ishikami sambil tersenyum.

Kendaraan baru itu melaju dengan kecepatan 12 kilometer per jam, sama dengan kecepatan bersepeda pelan. Meskipun begitu, kecepatan itu sudah lebih dari cukup untuk membawa Ishikami dan tiga temannya ke spot makan siang favorit mereka.

mobil semi otonom Jepang japanesestation.com
Sebuah mobil tanpa pengemudi yang membawa penumpang di sebuah desa di Kamikoani, Prefektur Akita pada 17 Juni 2020, dengan pengemudi duduk di kursi penumpang. (kyodonews.net)

Kendaraan dengan tujuh tempat duduk ini merupakan mobil listik tanpa pengemudi pertama di Jepang yang digunakan sebagai transportasi publik berbayar. Mobil semi otonom ini pertama kali diperkenalkan pada November tahun lalu di Kamikoani, Prefektur Akita, desa tempat Ishikami tinggal, di mana mayoritas populasinya merupakan lansia.

Sayangnya, meski mobil semi otonom ini dapat dinavigasikan dengan mudah karena adanya kabel induksi elektromagnetik yang diletakkan di bawah permukaan jalan, mobil ini tetap memerlukan seorang pengemudi untuk melalui persimpangan dan mengontrolnya dalam situasi darurat, membuatnya tak lebih efektif dari bus.

Didesain untuk membawa 5 penumpang dalam satu kali perjalanan, mobil yang dinamakan Mobil Koani ini dapat membawa penumpangnya ke salah satu dari 3 rutenya setiap pagi di hari kerja dengan membayar biaya sebesar 200 yen. Dengan ini, penduduk desa dapat terhubung dengan desa tetangga, kantor pos, kantor desa, dan klinik kesehatan dengan mudah.

mobil semi otonom Jepang japanesestation.com
Sebuah mobil tanpa pengemudi yang membawa penumpang di sebuah desa di Kamikoani, Prefektur Akita pada 17 Juni 2020, dengan pengemudi duduk di kursi penumpang. (kyodonews.net)

Menurut sebuah organisasi nonprofit yang bertanggung jawab atas layanan ini, awalnya penduduk ragu untuk menaiki kendaraan ini. Namun kini, jumlah penumpang beramgsur-angsur meningkat dan telah melampaui target 15 penumpang setiap harinya pada bulan Maret lalu.

"Kami mendapat respon yang baik. Bahkan, ada banyak orang yang menginginkan layanan ini hadir di desanya,” ujar Yoshinori Hagino, ketua NPO tersebut.

Kini, layanan antar jemput menggunakan kendaraan yang dikembangkan oleh Yamaha Motor Co. Ini dapat di-booking melalui telepon. Selain itu, NPO ini akan mulai menerima layanan pengiriman barang dalam waktu dekat.

Layanan mobil semi-otonom pertama kali diperkanalkan oleh Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata karena kekhawatiran akan pengurangan layanan bus di daerah sepi penduduk akan membuat masalah mobiltas pada lansia.

Di Kamikoani sendiri, orang-orang berumur 65 tahun ke atas menempati 53% dari total populasi per Mei lalu, yang berarti 28,7% dari total lansia di seluruh Jepang. Sangat tinggi.

Menurut penduduk lokal, dengan sedikitnya bus beroperasi dan tak adanya supermarket dalam desa, mereka sulit mendapat akses untuk memenuhi kebutuhan.

mobil semi otonom Jepang japanesestation.com
Sebuah mobil tanpa pengemudi yang membawa penumpang di sebuah desa di Kamikoani, Prefektur Akita pada 17 Juni 2020, dengan pengemudi duduk di kursi penumpang. (kyodonews.net)

Pemerintah Jepang pun berencana untuk meluncurkan layanan serupa di setidaknya 40 lokasi lain di Jepang pada tahun fiskal 2025 mendatang, salah satunya akan ditempatkan di sebuah area di mana jalur kereta tak lagi beroperasi di Prefektur Fukui.

Kendati demikian, layanan di Kamikoani ini menunjukkan bahwa layanan tersebut tak dapat berjalan tanpa adanya dukungan finansial dari pemerintah. Jadi, meski penduduk berharap rutenya bisa diperluas, akan sulit tanpa adanya dana investasi untuk memasang kabel induksi.

Menurut pihak NPO, kendaraan ini memang dapat bergerak secara otonom sekitar 1 km dari rute sepanjang 2 hingga 5 km, namun, di saat yang sama, ia membutuhkan manusia untuk memastikan agar kendaraan pribadi tak memasuki jalur yang dilalui mobil otonom ini.

"Layanan semacam ini seharusnya menjadi pemandangan umum di masa depan,” ujar Hagino dari NPO tersebut sambil mengungkapkan bahwa masih ada yang perlu dikembangkan dari layanan ini.

"Kami berharap kami lah yang pertama melakukan pengembangannya,” tambahnya.