Share on

Angka  kelahiran Jepang memang sangat turun. Pada tahun 2019 lalu, angka kelahiran sangat turun, hanya sebesar 864.000 saja. Kesalahan pun dilayangkan pada pemuda Jepang yang dituduh “kurang berhubungan intim dengan manusia” dan para wanita Jepang yang memilih untuk tidak menikah dan memilih karir mereka dibanding membentuk keluarga dan memiliki anak. Namun, sebenarnya, apakah yang menyebabkan orang-orang Jepang seakan tidak ingin memiliki anak? Apakah benar karena 2 hal di atas?

Advertise With Us

Namun, nyatanya ada pendapat lain terkait angka kelahiran yang rendah di Jepang. Kali ini, pendapat tersebut datang dari Amerika, yaitu bahwa angka kelahiran Jepang yang rendah mungkin disebabkan karena sangat sedikitnya kesepatan karir bagus bagi pemuda-pemuda Jepang, terutama laki-laki yang bisa dibilang sebagai tonggak ekonomi Jepang. Di negara yang masih menganut paham bahwa laki-laki harus menjadi tulang punggung utama keluarga, sementara pekerjaan dengan gaji mumpuni masih sulit ditemukan inilah yang menyebabkan kelompok pria yang tidak berminat untuk menikah dan memilki anak karena ia dan pasangannya tahu bahwa mereka tidak mampu membiayai anak mereka kelak.

Salaryman Jepang sisi gelap japanesestation.com
Ilustrasi pria pekerja (pakutaso.com)

“Masalah gender masih menjadi tren di seluruh dunia, dan pria mengalami hal lebih berat dalam masalah ini,” ujar Anne Allison, seorang professor antropologi budaya di Duke University yang mengedit salah satu koleksi terbaru esai keilmuan yang berjudul “Japan: The Precarious Future.

“Angka kelahiran, bahkan angka pasangan pun rendah. Alasan utamanya adalah ketidakstabilan ekonomi,” tambahnya.

Kaget? Ya, meski Jepang memang dikenal sebagai negara dengan ekonomi maju dan angka pengangguran di bawah 3 persen, menurut Jeff Kingston, seorang professor di kampus Temple University’s Japan dan penulis beberapa buku tentang Jepang, sekitar 40% pekerja Jepang adalah “irregular,” yang berarti mereka tidak bekerja di perusahaan yang membuat mereka memiliki karir dan pekerjaan stabil, dan bekerja sebagai pekerja temporer atau part-time dengan bayaran rendah dan tidak menguntungkan. Dari jumlah ini, hanya sekitar 20% pekerja irregular yang dapat mengubah status menjadi pekerjaan normal dalam karir mereka.

Pekerja irregular atau disebut “freeter” di Jepang ini mulai bermunculan saat pemerintah mulai membuat sebuah hukum di mana pekerjaan kontrak dan temporer diperbanyak jumlahnya hingga pada era globalisasi yang membaksa perusahaan untuk memotong pengeluaran, mereka sangat ebrgantung pada pekerja temporer. Tentunya, di negara yang memiliki kultur bahwa seorang pria merupakan tulang punggung utama, hal ini sangat mempengaruhi pernikahan dan angka kelahiran. Para freeter yang tidak memiliki pekerjaan tetap dianggap bukanlah pria yang cocok dijadikan pasangan hidup. Meski ada pasangan yang ingin menikah, tapi sang pria atau keduanya tidak memiliki pekerjaan tetap, kemungkinan besar,  orang tua mereka tidak akan merestuinya.

“Jika seorang pria lulus dan tidak mendapatkan pekerjaan tetap (salaryman), orang-orang akan melihatmu sebagai sesuatu yang ‘gagal’’, ujar Ryosuke Nishida, seorang professor di Tokyo Institute of Technology yang menulis tentang pengangguran di kalangan pemuda Jepang.

Hal yang sama juga terjadi bagi wanita yang mencari pekerjaan full-time. Mereka kerap mendapat pekerjaan temporer yang membuat mereka enggan untuk membangun keluarga karena jam kerja yang tak dapat ditebak dan gaji yang rendah. Masalah akan semakin besar jika seorang pria tidak memiliki pekerjaan tetap, karena sekitar 70% wanita berhenti bekerja setelah memiliki anak pertama dan bergantung pada gaji suami mereka.  

ibu yang bekerja di Jepang japanesestation.com
Ilustrasi ibu yang bekerja.(pri.org)

Wanita di kota besar seperti Tokyo juga beranggapan mereka lelah dengan pria yang ada di kota besar. Mereka menganggap kalau pria di kota besar tidak pantas dijadikan suami karena pakerjaan tidak tetap, karena itu, salah satu perusahaan perjodohan, Zwei, menjodohkan mereka dengan pria dari luar kota besar yang memiliki pekerjaan stabil.

“Pria di kota ini tidak maskulin dan tidak ingin menikah,” ujar Kouta Takada, seorang staf Zwei.

Sementara itu, menurut POSSE, sebuah grup yang dibentuk oleh sekolompok lulusan universitas yang ingin membentuk persatuan pekerja bagi pemuda Jepang, mengtakan bahwa pekerja temporer dapat menghasilkan sekitar 190.000 yen per bulannya, namun uang tersebut habis untuk sewa apartemen, membayar hutang, dan membayar pajak. Sangat tidak cukup. Dari seluruh lulusan universitas, bahkan universitas terkenal sekalipun, hanya ada sekitar ¼ yang sukses, sementara yang lain kesulitan.

Orang Jepang produktif japanesestation.com
Salaryman kurang tidur (pakutaso.com)

Pekerjaan tidak tetap bukan saja membuat masalah pada para pekerja, hal ini pun dapat membuat perusahaan merasa mereka dapat memperlakukan pegawai mereka semena-mena karena mayoritas pegawai sudah merasa beruntung mereka memiliki sebuah pekerjaan. Banyak perusahaan yang mempekerjakan pegawai muda dan memaksa mereka bekerja untuk waktu yang panjang tanpa upah lembur karena berpikir tidak akan ada satu orang pun yang protes.

Karena itu, tak aneh bukan jika orang Jepang tidak ingin memiliki anak? Mereka bukan hanya sadar bahwa mereka tidak mampu menghidupi keluarganya kelak, tapi mereka juga menyadari bahwa mereka tidak memiliki cukup waktu untuk berkencan atau melakukan hal lain selain bekerja, tidur dan makan.  Kasihan juga ya?

Sumber:

The Atlantic

SCMP