Share on

Sebagaimana kita ketahui sebelumnya, pemerintah Jepang memang memiliki rencana untuk meningkatkan jumlah wanita pekerja, terutama dalam bidang bisnis dan politik untuk memberdayakan perempuan. Pada World Economic Forum di Davos, Switzerland, pada Januari 2018 lalu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga berani mengatakan bahwa 67% wanita di Jepang memiliki perkerjaan. Namun, jangan harap jika wanita-wanita tersebut bisa mendapatkan jabatan tinggi seperti yang diinginkan pemerintah Jepang, karena nyatanya, banyak dari wanita ini yang terpaksa dibatasi ruang lingkup pekerjaannya dan hanya diam di jabatan itu-itu saja, menghalangi semua ambisi mereka (dan ambisi pemerintah), yaitu tugas mereka di rumah sebagai seorang ibu. Ya, itulah salah satu sisi gelap dari para ibu yang bekerja di Jepang.

Advertise With Us

Salah satu ibu yang bekerja di Jepang, Yoshiko Nishimasa pun membagikan ceritanya.

Seperti ibu yang bekerja lainnya di Jepang, Nishimasa selalu disibukkan dengan berbagai tugas yang sebenarnya sama sekali tidak berhubungan dengan profesinya sebagai seorang marketing professional, seperti mengisi sebuah jurnal harian dari lembaga pendidikan pra sekolah dua anaknya, atau membimbing anak tertuanya dalam mengerjakan pekerjaan rumah.

Dan bukan cuma itu saja, ia masih harus memasak, membersihkan rumah, dan mencuci pakaian serta pergi bekerja. Sangat sibuk. Meskipun begitu, wanita seperti Nishimasa sangat dibutuhkan oleh pemerintah Jepang.

ibu yang bekerja di Jepang japanesestation.com
Nishimasa memastikan anak-anaknya duduk dengan benar di sepedanya saat akan pulang ke rumah dari day care. (nytimes.com)

Sayangnya, keinginan pemerintah Jepang untuk memberdayakan perempuan berpendidikan seperti Nishimasa seperti berbanding terbalik dengan kenyataan. Meski para perempuan ini bekerja, mereka hanya dipekerjakan secara paruh waktu atau dengan sistem temporer, memperkuat kesenjangan upah besar antara laki-laki dan perempuan.

Nah, mengapa ini bisa terjadi?

Ternyata, jawabannya karena kultur kerja Jepang yang sebagian besar pernah dibahas dalam artikel tentang sisi gelap salaryman Jepang. Sama seperti kebanyakan perusahaan Jepang lainnya, perusahaan yang mempekerjakan Nishimasa juga sangat ketat dengan tanggung jawab dan kesetiaan karyawannya.. Saat ia memiliki anak ke-2, jam kerja Nishimasa diperpendek, menjadi sekitar 7 jam saja per hari dan tidak pernah diperintahkan untuk lembur seperti sebelum ia memiliki anak. Namun, karena hal ini, ia tidak juga dipromosikan meski telah bekerja selama 8 tahun dan hanya menerima kenaikan gaji sangat kecil.

“Ketika aku menanyakan alasannya, bosku berkata karena jam kerjaku yang terpotong,” ujar Nishimasa.

Sebelumnya, Nishimasa juga sempat bekerja di perusahaan lain yang mengomentari statusnya saat ia menikah dan menawarkan jabatannya menjadi part-timer saja.

“Bosku saat itu mengatakan, ‘Kamu tidak bisa bekerja terlalu lama kan karena akan memiliki anak kan? Jadi, bagaimana kalau part-time saja?’” kata Nishimasa mengutip mantan bosnya.

Perusahaan Jepang lain juga biasanya melakukan hal yang sama pada calon karyawan yang merupakan seorang ibu. Biasanya mereka akan menanyakan, “Kamu pasti tidak bisa bekerja hingga larut kan?” dan semacamnya.

Adanya Kesetaraan Gender di Jepang Mungkin Hanya Mimpi belaka

Seperti sudah disebutkan di atas, para ibu yang bekerja ini harus melakukanpekerjaannya dalam mengurus rumah sambil tetap bekerja tanpa dibantu sama sekali oleh suaminya.

Tahun 2018 silam, Daiwa House, melakukan sebuah survei dengan 300 pasangan pekerja sebagai responden. Dan mayoritas responden mengatakan kalau wanita lah yang menyelesaikan 90% pekerjaan rumah tanpa diketahui suaminya.

ibu yang bekerja di Jepang japanesestation.com
Yoshida menaiki kereta menuju day care untuk menitipkan anak mereka sebelum berangkat bekerja. (nytimes.com)

“Kesadaran laki-laki benar-benar rendah. Suamiku juga tidak mengerti arti kesetaraan gender,” ujar Kazuko Yoshida (38), seorang graphic designer sekaligus ibu dari dua anak.

Yoshida selalu mengantar dan menjemput anak mereka setiap hari, memasak, membersihkan rumah, memandikan, bekerja, dan menidurkan anak-anak mereka setiap malam. Yoshida juga bisa terjaga di malam hari untuk menjahitkan boneka untuk anaknya saat diberi tugas dari sekolahnya.

Suaminya, Takahisa Yoshida, berkata bahwa ia sebenarnya ingin menjadi ayah yang lebih baik dan membantu istrinya. Namun ia merasa tidak percaya diri jika harus mengurus anaknya sendirian.  Jadi, semua tugas kembali ke istrinya.

Untuk “beristirahat” sejenak dari aktivitasnya yang sangat padat, Yoshida selalu duduk si sebuah bangku di stasiun kereta setelah pulang dari kantornya dan menunggu hingga 2 kereta berangkat sebelum menjemput anak-anaknya di day care center. Hanya itulah waktunya ia beristirahat sejenak dari kerasnya kehidupan ibu yang bekerja di Jepang.

Sumber:

The New York Times

The Bussiness Times

The World