SHARE THIS ARTICLE

Jika di Jakarta proyek MRT (Mass Rapid Transportation) sedang dibangun dan proyek pembangkit listrik yang ramah lingkungan belum terlaksana, lain halnya dengan Jepang.

20140613_232417_jalan-kaki-listrik
Tekanan pijakan kaki yang bisa diubah jadi energi listrik.

Setelah sukses dengan beberapa inovasi kereta seperti kereta api super cepat, super mewah dan juga kereta api bawah tanah, nampaknya Jepang tidak puas dengan semua yang sudah dimiliki itu. Saat ini, Jepang sedang membuat percobaan mengenai pembangkit listrik dari tenaga manusia.

Perusahaan kereta api Jepang sektor timur, The East Japan Railway Company,  bekerja sama dengan para peneliti Universitas Keio, Jepang, mengadakan riset untuk mengembangkan stasiun kereta api yang ramah lingkungan di stasiun Shibuya.

Mereka memanfaatkan lalu lalang para penumpang di stasiun tersebut untuk menghadirkan pembangkit listrik dari tenaga manusia. Melalui teknologi tersebut penumpang akan bergerak melalui tenaga dari hasil pijakannya sendiri.

Konsep teknologi tersebut didasari oleh teknologi Piezoelektrik, di mana perangkat Piezoelektrik ini merupakan lempengan keramik yang bisa merubah suatu tekanan menjadi suatu tegangan berdasarkan kekuatan yang ada.

Teknologi ini diletakkan pada lantai di gerbang tiket dan area lain di Stasiun Tokyo yang ramai oleh orang yang berlalu-lalang, sehingga menghasilkan energi listrik dari penumpang yang berjalan di atasnya.

20140613_232557_jepang-stasiun

Mengubah Tekanan Kaki Jadi Tegangan Listrik

Menurut riset, teknologi Pizeoelektrik mampu menyalakan 2 buah lampu yang bermuatan sekitar 60 watt dalam satu kali pijakan. Selain itu pijakan kaki manusia yang kuat bisa mengubah tekanan menjadi tegangan listrik antara 1-3,5 Volt.

Sedangkan pada saat percobaan di stasiun Shibuya, teknologi Piezoelektrik ini mampu mensuplai listrik 1400 kW, pada kondisi normal trafffic, yang dapat menyediakan energi listrik untuk semua display di stasiun tersebut.

Uniknya, teknologi Piezoelektrik ini tidak terbatas pada langkah manusia saja tetapi juga dengan tenaga mekanik lainnya seperti rel kereta api, landasan pesawat terbang dan jalan raya.

Setiap energi yang dihasilkan oleh piezoelektrik ini tergantung pada perubahan temperatur, gerakan, massa suatu kendaraan, dan juga getaran yang dihasilkan.

Pemerintah Jepang sedang berusaha untuk mengembangkan teknologi ini secara besar-besaran. Pemerintah Jepang melihat ini sebagai peluang bagi listrik ramah lingkungan masa depan sehingga pemerintah Jepang optimis jika teknologi ini dikembangkan maka akan menghasilkan sumber listrik yang besar.

Di satu sisi, teknologi ini merupakan teknologi yang ramah lingkungan, murah dan juga canggih. Karena teknologi ini mampu membuat anggaran listrik pemerintah berkurang dan dalam jangka penjang rencananya teknologi ini akan diterapkan di beberapa jalur yang ramai seperti bandara, kereta, dan jalan raya.

Namun, di sisi lain teknologi ini juga belum bisa diterapkan oleh rumah tangga karena teknologi ini membutuhkan infrastruktur yang besar dan mahal.
Material untuk piezoelektrik sangatlah terbatas sehingga membuat sistem piezoelektrik ini belum bisa menyaingi fossil fuel (minyak, gas alam, atau batu bara). Selain itu teknologi Piezoelektrik ini juga membutuhkan aktivitas mekanis seperti pijakan atau goncangan sehingga dirasa kurang efisien.

Kapasitas energi piezoelektrik yang tersimpan di tempat penyimpanannya ini bisa saja hilang atau menurun secara drastis jika tidak ada langkah manusia, guncangan, cahaya matahari, atau angin.

Sebelumnya, suatu night club di London, Inggris, sudah menggunakan tenaga piezoelektrik ini. Night club tersebut merupakan eco-nightclub yang menggunakan gerakan dari para clubbers yang menari di atas lantai disko untuk menghasilkan energi listrik. Tenaga yang dihasilkan digunakan untuk keperluan-keperluan klub selama klub itu dibuka.

Lalu kira-kira apakah Jepang siap merogoh kocek yang sangat dalam untuk membangun teknologi ini seperti klub malam di London?

Source : tribunnews.com
COMMENT