Share on

Apakah pembaca JS punya kenalan orang Jepang? Nah, pernah gak nih merasa kalau mereka terlihat menahan diri untuk mengungkapkan sesuatu, opini atau pendapat misalnya? Gak aneh kok, karena rata-rata orang Jepang memang kerap melakukan ini, terutama pada orang yang belum dekat. Kira-kira, apa ya penyebab orang Jepang sulit mengungkapkan opini mereka? Apakah ada dampak negatifnya? Dan bagaimana cara menghadapinya? Untuk menjawabnya, yuk simak penjelasan berikut!

Advertise With Us

1. Faktor yang Membuat orang Jepang Sulit Mengungkapkan Opini Mereka

Ada 4 hal yang membuat orang Jepang menahan diri untuk mengungkapkan opini mereka, mulai dari filosofi kepercayaan hingga bahasa. Inilah penjelasannya.

Filosofi Buddha

tempat wajib Gifu Jepang japanesestation.com
Great Buddha of Gifu (Flickr: Tomo)

Bagi orang Jepang, seorang individu yang terlihat menonjol dibanding yang lain adalah sesuatu yang tabu. Konon, berdasarkan filosofi Buddha, orang-orang diharapkan untuk menjadikan kerendahan hati, harmoni, dan non-agresi sebagai prioritas dalam hidup mereka. Meski baik, hal ini memberikan dampak negatif yang cukup parah yang penjelesannya akan dijelaskan dalam poin 2 di bawah.

Komunitas Pertanian

Orang Jepang mulai hidup dalam komunitas dengan bercocok tanam pada sekitar abad ke-3 sebelum Masehi. Karena adanya saluran air, tenaga kerja dan populasi besar sangat penting untuk pertanian padi, keadaan ini membuat individu harus selalu kooperatif dan memikirkan orang lain.

Kultur Samurai

katana pedang samurai Jepang japanesestation.com
Samurai dan katana (pakutaso.com)

Waktu berlalu, era Samurai pun datang. Di era ini, perintah daimyo adalah mutlak, dan melanggar peraturan kelompok pun dianggap kejahatan berat. Seperti yang dijelaskan Nitobe Inazou dalam bukunya, “Bushido”, nilai dari menyerahkan nyawa demi atasan dimulai dari para samurai, membuat kulturnya terbawa hingga kini.

Kultur Individual, Ras dan Bahasa

Jepang adalah sebuah negara kepulauan yang dikelilingi lautan. Meski ada logat tertentu di beberapa daerah, umumnya mereka berbicara dengan bahasa yang sama, begitu pula dengan budaya dan etnisnya. Tak hanya itu, 75% negara ini diliputi dengan pegunungan, membuat tak banyak area untuk tinggal. Karena itu, penduduknya pun dipaksa untuk hidup dalam komunitas di sebuah area sempit, membuat rasa hidup bekerja sama mereka meningkat. Kultur inilah yang mengakibatkan orang Jepang sulit mengungkapkan opini mereka.

2. Bunuh Diri Akibat Bullying atau Ijime, Dampak Negatif dari Sulit Mengungkapkan Opini

orang Jepang opini japanesestation.com
Ilustrasi anak yang sedang menangis (pakutaso.com)

Sebelumnya, sudah disinggung kan bagaimana filosofi Buddha dan sulit mengungkapkan opini memiliki dampak negatif kan? Nah, inilah dampak negatifnya, ijime (bullying) yang tak tertolong. Mengapa? Karena prinsip Buddha tadi, di mana seorang individu yang terlihat “menonjol” dbanding kelompok lain merupakan hal tabu. Ajaran Buddha di mana harus mengutamakan keharmonisan dalam hidup juga membuat si korban sulit mengadu, begitu pula dengan orang atau siswa lain (jika terjadi di sekolah) yang melihatnya, mereka takut dianggap “berbeda.” Meski ijime ini sampai ke telinga orang lain atau guru, terkadang para guru memilih untuk membuat korban “menahan” bullying yang terjadi. Jika siswa korban ijime berakhir tewas karena bunuh diri, terkadang beberapa sekolah berusaha membuat bahwa kejadian tersebut bukan disebabkan oleh ijime.

3. Cara Menanganinya

orang Jepang opini japanesestation.com
Ilustrasi orang Jepang sedang berpikir (istockphoto.com)

Nah, bagaimana cara kita, orang asing berbicara dengan orang Jepang yang sulit mengungkapkan opininya ini? Ada beberapa tips. Pertama, perhatikan ekspresi mereka. Kedua, perhatikan kata-kata yang ia coba katakan, misalna apakah ia menanyakan tentang detail akan suatu hal, dn lain-lain. Ketiga, tanyakan pertanyaan “pintar” dan tidak to-the-point, seperti, “ada rekomendasi?” Dibanding menayakan “opini” secara langsung, “rekomendasi” terdengar lebih netral kan?

Sementara itu, jika melihat ijime di depan matamu, ada sedikit tips dari tulisan Hideko Nagashima di World Pulse nih. Jika kamu bukan korbannya, bisa memberi tahu diam-diam agar korban tidak membalas pembully dengan kata-kata kasar dan tunggu waktu yang tepat untuk berbicara kepada orang yang tepat, seperti organisasi TELL dan lain-lain.

Nah, itulah sekilas tentang orang Jepang yang sulit mengungkapkan opini mereka. Memang sulit diubah, namun, kita bisa mencoba menanganinya dengan cara di atas kan?

Sumber:

Japan Info

Japan Intercultural

World Pulse