Berita Jepang | Japanesestation.com

Masakan Jepang tidak hanya menawarkan cita rasa yang lezat, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam. Salah satunya adalah shojin ryori, hidangan tradisional para biksu Buddha yang telah diwariskan selama berabad-abad. Tak sekadar menu berbahan nabati, shojin ryori mengajarkan rasa syukur, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap setiap bahan makanan yang digunakan.


Shojin ryori berasal dari tradisi Buddhisme Zen dan mulai berkembang di Jepang sejak abad ke-13. Hidangan ini tidak menggunakan daging, ikan, maupun bahan hewani lainnya. Sebagai gantinya, berbagai sayuran musiman, tahu, miso, rumput laut, dan aneka olahan kedelai diolah menjadi sajian yang sederhana, tetapi kaya rasa.

Di Kuil Kenchōji di Kamakura, salah satu kuil Zen tertua dan paling berpengaruh di Jepang, memasak hingga menyantap makanan dianggap sebagai bagian dari latihan spiritual. Para biksu diajarkan untuk menghargai setiap bahan makanan, menghindari pemborosan, dan memasak dengan penuh perhatian sebagai bentuk pengendalian diri.

Salah satu hidangan khas yang lahir dari tradisi ini adalah kenchin-jiru, sup berisi tahu dan aneka sayuran yang dipercaya berasal dari Kuil Kenchōji. Menu tersebut menjadi simbol pemanfaatan bahan makanan secara maksimal tanpa menyisakan limbah, sekaligus mencerminkan filosofi hidup sederhana yang dianut dalam ajaran Zen. Kini, shojin ryori tidak hanya dinikmati di kuil-kuil, tetapi juga mulai populer di restoran sebagai pilihan makanan sehat dan ramah lingkungan.