SHARE THIS ARTICLE

Clown Care 02

Mudah dikenali dari topi warna-warni, baju terusan dan hidung bulat merah khasnya, tiga orang badut tiba di bangsal anak-anak di Anjo Kosei Hospital di Anjo, Prefektur Aichi.

“Hai, halo. Kami datang lagi. Apa kabar?” kata salah seorang badut itu, memberi sambutan epada anak-anak yang menonton mereka. “Haruskah aku membuat sesuatu dari balon ini? Ingin dibuat menjadi apa?”

“Pikachu!” teriak seorang anak.

“Hm… itu cukup sulit, tapi aku akan melakukan yang terbaik,” kata badut tersebut.

Segera setelah kedatangannya, para badut itu berbincang-bincang dengan santai dengan anak-anak di rumah sakit di tepi tempat tidur mereka. Banyak dari anak-anak ini yang telah dengan para badut itu sebelumnya dan telah mengenali mereka.

Clown Care, atau kunjungan oleh badut-badut yang telah dilatih secara khusus ke rumah sakit-rumah sakit untuk menghibur dan bermain dengan anak-anak sakit yang mungkin menderita rasa sakit atau kebosanan, secara bertahap diperluas di seluruh Jepang.

“Pierrot-san telah datang!” seru seorang anak berusia 3 tahun bernama China Sasai, seorang anak di bangsal yang berasal dari Nagoya. Ia kemudian berlari menuju salah satu badut yang memegang boneka favoritnya. Di Jepang, badut memang disebut “pierrot”.

Clown Care 03

“Ia telah dirawat di rumah sakit selama beberapa kali dalam dua tahun terakhir ini,” kata Yuka, ibunya. “Ia sangat senang bertemu dengan Pierrot-san. Ia sudah tidak sabar untuk bermain dengan mereka.”

Badut biasanya menghangatkan acara-acara sirkus dan berbagai acara lain dengan penampilan kocak mereka, sementara mereka yang bekerja di rumah sakit disebut badut rumah sakit.

Gerakan badut rumah sakit ini diluncurkan pada tahun 2004 silam di sebuah rumah sakit di Nagoya oleh seorang badut profesional bernama Kosuke Oomune dan beberapa orang lainnya. Saat ini, sebanyak 46 orang badut rumah sakit secara teratur dikirim oleh Japan Hospital Clowns Association di Nagoya ke 54 rumah sakit di seluruh penjuru Jepang.

Clown Care 06
Kosuke Oomune

Ketiga badut itu, yang dipanggil Teru-chan, Hazu dan Kanon oleh anak-anak dan staf rumah sakit, menggunakan balon dan berbagai benda lain untuk mengubah bangsal rumah sakit menjadi sebuah tempat yang menyenangkan dengan berkoordinasi dengan para pekerja rumah sakit. Mereka juga seringkali bercanda dengan para anak-anak untuk meringankan suasana hati anak-anak itu.

“Para badut tersebut sangat pandai berkomunikasi dengan anak-anak,” kata Sachiko Takahashi, seorang perawat senior di rumah sakit tersebut. “Mereka mampu membuat anak-anak itu banyak tersenyum. Anak-anak ini biasanya tidak mau tersenyum kepada pekerja rumah sakit seperti kami.”

Sementara pekerja di bangsal selalu berupaya untuk menghibur anak-anak, para staf medis juga perlu memberi anak-anak itu perawatan yang kadang-kadang menimbulkan rasa sakit, seperti pada saat mereka harus memberi suntikan kepada anak-anak itu.

“Para badut tersebut menciptakan lingkungan yang memberikan anak-anak itu suatu pelarian dari kehidupan sehari-hari mereka di rumah sakit. Aku sangat berterima kasih kepada mereka,” kata Takahashi.

Menurut asosiasi tersebut, biasanya sebuah tim yang terdiri dari tiga hingga lima badut rumah sakit secara teratur mengunjungi setiap fasilitas medis. Sebelum bertemu dengan anak-anak, para badut itu berdiskusi dengan para staf rumah sakit mengenai penyakit anak-anak dan kondisi anak-anak itu pada hari kunjungan yang mereka rencanakan.

Clown Care 07

Untuk alasan kesehatan, kostum para badut itu selalu dicuci setelah setiap kunjungan. Jika sebuah properti milik badut itu jatuh ke lantai, maka properti tersebut tidak akan digunakan lagi selama sisa waktu kunjungan.

“Program ini mendorong anak-anak untuk dapat memerangi penyakit jika mereka diberi kesempatan untuk menikmati diri mereka sendiri. Akibatnya, kehidupan mereka yang monoton di rumah sakit ini berubah menjadi cerah,” kata Yuji Miyajima, kepala dokter rumah sakit departemen pediatri. “Ini sangat berharga bagi anak-anak yang dirawat di rumah sakit untuk waktu yang lama.”

Biasanya, badut memainkan peran pendukung unutk para pemain, yang membuat para pemain itu terlihat hebat. Menurut asosiasi badut tersebut, para badut yang tergabung dengan asosiasi mereka mendorong anak-anak menjadi pemain utama dalam kehidupan mereka di rumah sakit.

“Anak-anak biasanya dapat menjadi bukan anak-anak saat mereka tengah memerangi penyakit,” kata Oomune, direktur umum asosiasi tersebut. “Badut-badut kami membawa nafas segar utnuk mereka dari luar. Dengan bernafas menggunakan udara segar yang kami bawa, aku harap anak-anak tersebut dapat tersenyum dan menikmati bermain seperti yang dilakukan oleh anak-anak biasa dalam kehidupan sehari-hari mereka.”

Artikel asli oleh Yukiko Takanashi (Staf Penulis Yomiuri Shimbun)

Source : Daily Yomiuri Online
COMMENT