Penasaran bagaimana masyarakat Jepang menghabiskan libur panjang Golden Week tahun ini? Ternyata, tidak semua orang memilih bepergian atau berlibur mewah. Artikel ini akan mengulas tren terbaru yang cukup mengejutkan, sekaligus memberikan gambaran kondisi ekonomi dan kebiasaan masyarakat Jepang saat musim liburan tiba.
Golden Week merupakan salah satu periode libur terbesar di Jepang yang berlangsung dari akhir April hingga awal Mei. Berbeda dengan libur lain seperti Tahun Baru atau Obon yang biasanya diisi dengan pulang kampung, Golden Week identik dengan waktu bebas untuk bersenang-senang atau bepergian.
Namun, tren tahun 2026 menunjukkan perubahan. Berdasarkan survei dari perusahaan riset Intage terhadap sekitar 5.000 responden, sekitar 41,2% orang menyatakan tidak memiliki rencana khusus selama liburan. Bahkan, sekitar 35,1% memilih untuk menghabiskan waktu di rumah saja.
Bagi mereka yang tetap memiliki rencana, aktivitas yang dipilih cenderung sederhana. Sekitar 17% responden memilih makan di luar, 15% berbelanja, dan hanya 12,3% yang berencana melakukan perjalanan domestik. Sementara itu, perjalanan ke luar negeri hanya diminati sekitar 1% responden, menunjukkan minat yang sangat rendah untuk bepergian jauh.
Salah satu alasan utama perubahan ini adalah tekanan ekonomi. Sekitar 49,2% responden menyebut kenaikan harga barang dan melemahnya nilai yen sebagai faktor utama. Biaya hidup yang meningkat membuat banyak orang memilih berhemat dan menghindari pengeluaran besar selama liburan.
Selain itu, rata-rata anggaran Golden Week hanya sekitar 27.660 yen atau setara kurang lebih Rp2,8 juta – Rp3 juta, dan angka ini justru menurun dibanding tahun sebelumnya.
Kondisi pariwisata juga turut memengaruhi keputusan masyarakat. Melemahnya yen memang membuat Jepang lebih menarik bagi wisatawan asing, tetapi di sisi lain menyebabkan harga hotel dan layanan wisata meningkat. Hal ini membuat wisata domestik terasa lebih mahal bagi warga lokal. Untuk perjalanan luar negeri, selain faktor biaya, kekhawatiran terhadap kondisi global dan keamanan penerbangan juga menjadi pertimbangan, sehingga semakin sedikit orang yang memilih bepergian ke luar negeri.