Share on

Ingat artikel 5 Cara Konyol Untuk Ditangkap Polisi di Jepang? Dalam artikel tersebut, disebutkan bahwa ada seorang pensiunan yang ditahan karena menelepon KDDI dan memberikan 24.000 panggilan komplain pada operator. Nah, ternyata ini ada hubungannya lho dengan mengapa para lansia Jepang kerap kali berindak berani, bahkan sampai melanggar hukum dan menghabiskan waktu-waktu emas mereka di balik jeruji besi penjara.

Advertise With Us

Demografi Miring

Tahanan lansia di Penjara Sasebo, Jepang (straitstimes.com)
Tahanan lansia di Penjara Sasebo, Jepang (straitstimes.com)

Jepang memiliki demografi yang mengerikan. Sejak tahun 2009, populasi negara ini sangat turun, dari sekitar 128,56 juta menjadi hanya (estimasi) 126,48 juta saja pada akhir tahun 2020 nanti. Hal ini juga menyebabkan shock pada skala ekonomi dan turunnya angka kelahiran. Pada tahun 2019, metrik tersebut mencapai 1,4 kelahiran per wanita, titik terendah sejak pengumpulan data dimulai pada tahun 1899. HIngga kini, upaya pemerintah untuk mempengaruhi tingkat kelahiran pun belum efektif.

Meski penyebab penurunan populasi belum bisa dipastikan, banyak orang berpendapat kalau faktor ekonomi dan suiltnya mencari pekerjaan lah penyebabnya. Misalnya saja beberapa perusahaan “hitam” makin menjamur, karyawan pun sulit mencari pekerjaan dengan bayaran  mumpuni dan stabil. Tentunya dengan keadaan dompet yang makin menipis, sulit bagi pasangan suami istri untuk membentuk keluarga besar.

Karena alasan-alasan inilah, banyak yang memandang kalau Jepang merupakan graying nation (negara dengan populasi lansia tinggi). Memang inilah yang terjadi, Jepang dikenal memiliki populasi penduduk tertua di dunia dengan 25% penduduk negaranya merupakan  lansia berusia di atas 65 tahun yang diperkirakan akan terus meningkat menajdi 38.8% di tahun 2050. Menurut seorang professor dan spesialis ekonomi populasi, Hisakazu Kato, pertumbuhan ini dipengaruhi dengan pajak. Nampaknya, umur panjang orang Jepang bisa menjadi kutukan juga ya?

Akhir-akhir ini, demografi miring ini makin berdampak pada ekonomi. Misalnya, perusahaan teknologi mulai berinvestasi menargetkan lansia sementara pasar-pasar makanan pun mengembangkan tempat parkir terdekat agar dapat melayani pelanggan dengan mobilitas terbatas. Ini jugalah yang menyebabkan angka penjualan popok dewasa makin meningkat hingga melebihi tingkat penjaualn popok bayi, membuat adanya ketidakseimbangan ekonomi.

Darurat Sistem Pensiun

Tahanan lansia (straitstimes.com)
Tahanan lansia (straitstimes.com)

Sejak jatuhnya aset pada tahun 1991, performa ekonomi Jepang mulai mengecewakan. Konsumsi tetap, tapi kualitas pekerjaan menurun, dan tentunya angka kelahiran juga ikut menurun.

Dengan gambaran turunnya ekonomi dan kesenjangan populasi, janji-janji pemerintah dalam mengelola sistem pension sebagian besar tidak dapat dipertahankan. Bahkan, dalam revisi prospek masa depan pensiun publik baru-baru ini, dilaporkan  bahwa Kementerian Kesahatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang  mengakui bahwa keseimbangan antara penerima manfaat dan pendukungnya akan memburuk. Sementara menurut laporan pemerintah, skenario terburuk di mana para pensiunan hanya mendapat sekitar 36-38%  dari uang pensiun mereka pada tahun 2043.

Prediksi mengerikan ini menyebabkan Badan Layanan Keuangan melaporkan bahwa keuntungan dana pensiunan mungkin tidak akan mencukupi kehidupan para lansia untuk tetap hidup setelah pensiun. Dewan penasehat juga mengklaim bahwa penghematan rumah tangga sebesar 20 juta yen kemungkinan akan diperlukan dan para pasangan pensiunan mungkin akan menghadapi kekurangan keuangan.