Share on

Dengan ditutupnya internet café akibat virus COVID-19, ribuan tunawisma yang biasa tinggal di dalamnya kini benar-benar kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini membuat Jepang kelimpungan untuk mengurus mereka, ditambah lagi, kini ada sebuah petisi untuk membuka Olympic Village di Tokyo sebagai tempat tinggal sementara bagi para tunawisma ini.  

Advertise With Us

Menurut Pemerintah Metropolitan Tokyo, sedikitnya ada 4.000 orang tunawisma yang menggunakan internet café sebagai tempat tinggal mereka, meski 80% di antaranya telah memiliki pekerjaan. Café-café ini sebelumnya hanya menyediakan layanan internet, namun kini memiliki kamar mandi dan booth pribadi yang bisa disewa, membuatnya populer di kalangan para penumpang yang tertinggal kereta terakhir, terutama wanita.  

Banyak orang menjadikan internet cafe sebagai tempat tinggal (https://soranews24.com/2020/04/14/internet-cafes-in-tokyo-now-closed-due-to-coronavirus-but-what-about-those-who-live-in-them/)
Banyak orang menjadikan internet cafe sebagai tempat tinggal (soranews24.com)

Ren Ohnishi, ketua dari Moyai, sebuah layanan housing non-profit mengatakan bahwa sebenarnya untuk menangani masalah ini, pemerintah  telah menyediakan beberapa kamar hotel untuk separuh dari mereka.

"Namun banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa pemerintah telah menyediakan kamar hotel aman karena komunikasi terbatas. Proses aplikasinya juga cukup membingungkan,” ujarnya kepada Thomson Reuters Foundation.

Untuk itu, Ohnishi berusaha meraih perhatian pemerintah kota Tokyo dengan membuat petisi untuk membuka Olympic Village bagi para tunawisma karena Summer Olympics 2020 Tokyo yang dibatalkan. Kini, petisi itu sudah ditandatangani oleh 53.000 orang. Olympic Village sendiri disiapkan untuk menampung 11.000 atlet selama 2020 Games yang pelaksanaannya kini diundur menjadi tahun 2021 mendatang.  

The Olympic Village, Tokyo.(japantoday.com)
The Olympic Village, Tokyo.(japantoday.com)

"Tempat itu merupakan akomodasi dengan kapasitas tinggi yang bisa digunakan untuk jangka waktu yang lama. Dengan hal ini, bisa menjadi simbol dukungan dan solidaritas Jepang,” ujar Ohnishi.

Meskipun begitu, komite yang mengorganisir Olimpiade mengakui belum menerima email resmi perihal hal tersebut.

Namun, komentar-komentar tersebut tidak direspon sama sekali oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo hingga kini.

Peristiwa tunawisma yang kehilangan tempat tinggal ini bukan hanya terjadi di Jepang, tapi juga di seluruh dunia. Bahkan, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kini ada sekitar 1,8  milyar orang di seluruh dunia yang tak memiliki tempat tinggal atau hidup perumahan yang tidak memadai.

Hong Kong kini mengalami masalah serupa dengan Tokyo karena para McRefugees atau orang-orang yang tidur di restoran fast-food McDonald's, terpaksa tinggal di jalanan. Menurut lembaga amal Society for Community Organization (SoCO), kini ada lebih dari 400 orang  McRefugees di Hong Kong.

Pemerintah Hong Kong sendiri telah memberi dana hibah bagi lembaga-lembaga amal untuk menyediakan tempat tinggal darurat bagi para tunawisma. Sekarang, ada total 635 tempat yang menyediakan tempat tinggal darurat bagi mereka.

Apakah ke depannya Pemerintah Jepang akan mempermudah proses aplikasi tempat tinggal sementara di hotel-hotel tersebut? Ataukah mempertimbangkan tentang petisi untuk membuka Olympic Village?