Berita Jepang | Japanesestation.com

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang pada Rabu (24/07) lalu, tercatat telah terjadi penurunan populasi penduduk sebesar 861.000 jiwa di tahun 2023 dibanding tahun sebelumnya, hingga populasi di Jepang hanya mencapai 121.561.801 jiwa. Penurunan ini jadi yang tertinggi sejak dimulainya survei tahun 1968. Masalah penurunan angka kelahiran yang serius memaksa pemerintah untuk segera mengambil langkah.

Dilansir dari Kyodo News, Kementerian Dalam Negeri mengumumkan bahwa per 1 Januari 2024, populasi penduduk Jepang termasuk warga asing mencapai 124.885.175 jiwa, turun sekitar 532.000 jiwa. Prefektur Akita, Aomori, dan Iwate jadi prefektur dengan penurunan penduduk paling drastis di angka 1,83%, 1,72%, dan 1,61%.

Grafik jumlah populasi.
Grafik yang menunjukkan penurunan populasi penduduk Jepang dan kenaikan warga asing (Kementerian Dalam Negeri via Kyodo News).

Angka kelahiran di Jepang mencapai rekor terendah di angka 730.000 kelahiran, sementara umlah kematian yang mencapai 1,58 juta. Hal ini menjadi penyebab merosotnya populasi penduduk di Jepang saat ini.

Di tengah penduduk Jepang terus mengalami penurunan, jumlah warga asing justru meningkat di seluruh bagian prefektur hingga melampaui angka tiga juta untuk pertama kalinya. Namun, jumlah kenaikan warga asing di Tokyo terlihat paling sedikit dengan 0,03%.

Longgarnya kontrol pembatasan di masa pandemi diduga menjadi penyebab lonjakan warga asing. Sebelumnya hanya ada 329.535 warga asing di Jepang, kini meningkat hingga 3.323.374 jiwa. Sekitar 85% warga asing berada di usia kerja dan menjadi pendukung kebutuhan tenaga kerja di Jepang. 

Prefektur Tokyo, Chiba, dan Okinawa mengalami peningkatan populasi secara keseluruhan yang sebagian besar disebabkan oleh migrasi. Orang berusia di atas 65 tahun menyumbang 29.38% dan orang berusia 15-64 tahun menyumbang 59.04% dari total populasi.