Berita Jepang | Japanesestation.com

Di distrik Nishi, Prefektur Fukuoka, ada sekolah pemandu sorak bernama Grand Cheer yang berisi lansia yang dipenuhi dengan energi dan keceriaan. Lebih dari 700 lansia berusia di atas 50 tahun bergabung dengan sekolah pemandu sorak ini.

Bahkan banyak dari mereka yang masih sangat aktif bergerak kesana-kemari sambil mengayunkan pompom warna keemasan dengan wig warna-warni dan baju polkadot yang kawaii.

Bergabung dengan berbagai alasan

Miki Furusho, pendiri Grand Cheer yang jadi kesayangan para peserta (Kota Yoshida/Mainichi).
Miki Furusho, pendiri Grand Cheer yang jadi kesayangan para peserta (Kota Yoshida/Mainichi).

Sekolah menari dan pemandu sorak ini didirikan oleh Miki Furusho, kepala Miki Funnit yang sudah berusia 57 tahun pada Oktober 2017 lalu. Furusho bertujuan untuk memberikan tantangan kepada para lansia yang sudah menyelesaikan karir dan selesai membesarkan anak.

Beberapa di antara mereka yang masih bekerja sebagai pengasuh atau bekerja di tempat penitipan anak. Furusho sangat berharap jika para lansia yang bergabung dengan Grand Cheer dapat memberikan inspirasi pada orang-orang yang melihat penampilan mereka.

Ada banyak alasan bagi para lansia untuk bergabung dengan Grand Cheer. Mulai dari ingin tetap bergerak demi kesehatan hingga terinspirasi oleh Pink Lady, sosok duo pop yang populer di tahun 1970 hingga 1980.

Penyesuaian metode latihan

Latihan yang dilakukan dengan wig dan kostum lucu (Kota Yoshida/Mainichi).
Latihan yang dilakukan dengan wig dan kostum lucu (Kota Yoshida/Mainichi).

Berbeda dengan sekolah pemandu sorak pada umumnya, Grand Cheer mengadakan kelas setiap dua kali sebulan dengan waktu latihan 1 jam 45 menit. Setelah persiapan, para peserta akan diajak untuk berlatih gerakan tangan, melangkah, dan gerakan lainnya. Terkadang beberapa di antara mereka sudah lupa karena jeda yang cukup lama, tapi tentu saja itu bukan masalah. Mereka melakukan ini semua untuk kesenangan pribadi.

Para staf juga selalu memperhatikan kondisi peserta saat membuat koreografi. “Kami ingin tempat ini jadi tempat di mana setiap orang bisa jadi pemeran utama, menyeimbangkan semuanya dan menjadi satu karya seni, “ ujar Furusho.

Siapapun bebas menari dan jadi pemandu sorak

Sachiyo Sakamoto (paling depan) jadi anggota tertua di Grand Cheer (Kota Yoshida/Mainichi).
Sachiyo Sakamoto (paling depan) jadi anggota tertua di Grand Cheer (Kota Yoshida/Mainichi).

Menari dan menjadi pemandu sorak adalah cita-cita yang bisa diwujudkan oleh siapapun, termasuk para lansia yang sering dianggap tidak lagi bisa melakukan banyak hal. Nyatanya, Sachiyo Sakamoto, seorang perempuan berusia 86 tahun dari kota Kurume ini tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi tim pemandu sorak tingkat nasional di Yokohama.

Ibu rumah tangga yang memiliki tiga putra membanggakan ini bergabung bersama Grand Cheer sejak tahun 2018 dan menjadi anggota tertua yang akrab disapa Momiji. Setiap tahun, Sakamoto selalu mengikuti perlombaan tingkat nasional dan tampil di banyak acara. Bahkan akhir-akhir ini Sakamoto sedang berusaha menaklukkan tantangan rap, hip-hop, dan ingin menjaga keseimbangan tubuhnya saat mengangkat satu kaki di atas kepala.

Sakamoto ingin terus maju. Meski dia dan teman-temannya sempat menerima komentar yang tidak menyenangkan seperti ‘siapa yang mau menonton wanita tua dengan rok mini?’, semangat yang ada dalam diri mereka justru semakin besar. “Memakai pakaian cerah dan wajah yang ceria seperti saat dilahirkan, hidup ini masih di depan!”