Berita Jepang | Japanesestation.com

Tingginya jumlah wisatawan yang mengunjungi Jepang dalam beberapa bulan terakhir telah membawa banyak manfaat ekonomi. Namun di sisi lain hal juga menimbulkan sejumlah tantangan tak terduga. Salah satu masalah yang mencuat adalah krisis toilet, di mana fasilitas sanitasi di berbagai destinasi wisata populer mengalami kelebihan kapasitas.

Krisis Toilet di Kamakura

Salah satu kota di Jepang yang mendapati masalah tersebut adalah Kamakura. Di tempat wisata yang populer ini, para pengunjung telah menyalahgunakan toilet yang disediakan untuk pelanggan dan mengganggu bisnis lokal.

Lonjakan wisatawan telah menyebabkan antrean, penyumbatan, bahkan menghabiskan biaya untuk perbaikan toilet, sehingga beberapa fasilitas komersial membatasi akses kamar mandi mereka.

Hal ini terjadi pada sebuah minimarket di dekat Stasiun Kamakura, di mana mereka memasang tanda yang berbunyi, “Toilet tutup pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur.” Tak hanya itu, di dalam toilet tersebut juga terdapat papan yang bertuliskan, “Silakan masukkan kode kunci untuk membuka kamar kecil.”

Scene dalam anime gintama

Sementara tempat-tempat lain memberi himbauan kepada pengunjung yang datang bahwa toilet hanya untuk pelanggan. Papan tersebut dengan sopan meminta pengunjung “untuk tidak sembarang menggunakan kamar kecil.” Namun, hal itu tidak membendung arus pengunjung. Antrean toilet terkadang memanjang hingga ke luar toko, menghalangi pintu masuk dan menghalangi calon pembeli.

Selain itu, lonjakan turis juga menyebabkan toiletnya sering kali kotor. Akibat banyak orang yang menyiram penghangat saku sekali pakai atau tutup plastik untuk cangkir minuman keras, lubang toilet menjadi penuh. Staf toko harus membersihkan toilet dan melakukan perawatan yang tidak menyenangkan, sehingga mengalihkan perhatian mereka dari melayani pelanggan.

Para pengunjung juga kerap kali mencuri tisu toilet. Dan di musim panas, mereka sering berganti pakaian di dalam toilet toko, membuat pasir mengotori lantai dan menyusahkan para staf yang bekerja.

Turis Asing jadi Salah Satu Penyebab Masalah?

Jumlah turis asing yang terus meningkat turut memperparah situasi ini. Beberapa dari mereka tidak mengikuti etika yang benar ketika menggunakan toilet.

Di toilet di Kuil Zeniaraibenzaiten, sebuah tanda dalam Bahasa Korea dan Mandarin menghimbau para pengguna untuk tidak menyiram es loli atau tusukan dango ke dalam toilet, karena dapat menyumbat saluran pipa.

Masalah paling parah terjadi pada Minimarket di Kamakura. Hal ini karena banyak orang yang mengandalkan tempat tersebut sebagai toilet umum. Staf di toko tersebut pernah mengatakan kepada seorang pengunjung yang ingin ke toilet bahwa mereka harus membeli, dan pengunjung tersebut menjawab dengan marah: “Anda adalah toko swalayan dan tidak mengizinkan saya menggunakan kamar mandi? Saya tidak bisa mempercayainya!”

Drama Toilet Menghabiskan Banyak Biaya

Ilustrasi tidak memiliki uang

Pemerintah Kota Kamakura mengelola 39 toilet umum di sekitar kota. Seorang pejabat kota mengatakan bahwa membangun lebih banyak fasilitas sulit dilakukan dengan anggaran yang terbatas.

Dilansir melalui Asahi Shimbun, biaya pembersihan tahunan untuk 39 toilet umum adalah sekitar 42 juta yen, dan tagihan air tahunan untuk toilet adalah sekitar 12 juta yen, kata pemerintah kota.

Toilet di pintu keluar timur Stasiun Kamakura sangat sering digunakan. Toilet-toilet tersebut harus dibersihkan enam kali sehari pada hari kerja dan sembilan kali sehari pada akhir pekan dan hari libur, kata pemerintah kota.

Mengingat beban tersebut, pemerintah kota meminta sumbangan dari para pengguna. Mereka dapat menyetor uang tunai dalam kotak di pintu masuk toilet pria dan wanita.

Pemerintah kota juga mengatakan bahwa donasi yang terkumpul mencapai 700.000 hingga 800.000 yen per tahun, yang membantu meringankan biaya pembersihan dan pemeliharaan.