Berita Jepang | Japanesestation.com

Puluhan pemagang dan trainee asing di Jepang harus kehilangan pekerjaan mereka setelah performa perusahaan tempat mereka bekerja menurun akibat krisis COVID-19. Kini, sekitar 80 orang trainee masih kesulitan mencari pekerjaan baru di negara yang tentu tidak familiar bagi mereka. Keadaan ini pun diperparah dengan pembatasan perjalanan akibat pandemi yang membuat mereka sulit kembali ke kampung halaman mereka, membuat sebagian besar pemagang asing harus bergantung pada organisasi sosial karena tak lagi memiliki tempat tinggal atau persediaan makanan.  

Seorang trainee berusia 34 tahun asal Vietnam misalnya, ia meninggalkan perkerjaannya di Prefektur Niigata pada Desember lalu. Meski ia berencana untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut selama 3 tahun, ia berhenti setelah 1,5 tahun saja karena gajinya yang rendah makin menurun saja.   

"Keluargaku dalam masalah karena aku berhenti mengirimkan uang pada mereka,” ujarnya pada Mainichi Shinbun.

Di perusahaan tersebut, ia membuat perancah di situs konstruksi. Dengan upah bulanan hanya sekitar 130,000 yen (sekitar 17,2 juta rupiah), ia harus memontong pengeluarannya dengan hanya memakan mie instan  dan mengirimkan sekitar 100.000 yen per bulannya ke orang tuanya yang berusia lanjut, istri, dan dua anaknya. Sayangnya, pekerjaannya terus menurun sejak musim semi lalu, membuat upahnya turun menjadi 90.000 hinggan 100.000 yen saja, memaksanya harus memotong upah per bulannya yang ia kirimkan ke rumah.  

perempuan Indonesia di Jepang japanesestation.com
Pekerja asing di Jepang (nippon.com)

Sejak ia meninggalkan pekerjaan dan asrama perusahaan, kini ia tinggal dalam sebuah bangunan yang dioperasikan oleh Japan Vietnam Mutual Support Association, sebuah organisasi nonprofit asal Distrik Minato, Tokyo. Ia juga tetap mencari pekerjaan baru meski krisis virus corona membuatnya sulit.

"Sangat sulit untukku karena bahasa Jepangku tidak terlalu lancar,” ujarnya.

pekerja asing jepang trainee japanesestation.com
Beras, sayuran, makanan kaleng, dan barang lainnya dibagikan bagi masyarakat dan penduduk asing yang berusaha bertahan hidup di tengah pandemi virus corona di Ota, Prefektur Gunma pada 28 Desember 2020. (Mainichi/Jun Ida)

Sementara itu, beberapa trainee muda tak dapat kembali ke tanah air mereka karena melambungnya harga tiket pesawat. Padahal, mereka telah menyelesaikan periode magang mereka.

Seorang pemuda 24 tahun asal Vietnam yang baru saja menyelesaikan periode magangnya di sebuah perusahaan konstruksi di Prefektur Saitama pada Oktober ini salah satunya. Meski ia ingin pulang secepatnya, harga penerbangan ke Vietnam melambung akibat pandemi virus corona. Harga tiket one-way yang biasanya hanya berkisar 30.000-40,000 yen melambung menjadi 200.000 hingga 300,000 yen dan ia tak dapat membelinya.

Kini, ia tinggal di rumah temannya untuk sementara, namun karena tabungannya semakin menipis, ia tak mampu lagi membayar uang sewa. Karena itulah ia bergantung pada organisasi sosial.

Menurut Immigration Services Agency of Japan, per Desember tahun lalu, program training bagi 51.000 orang asing telah dihentikan akibat PHK dan kebangkrutan yang disebabkan oleh pandemi. Beberapa peserta magang ada yang telah mendapatkan pekerjaan atau pulang, namun per 25 Januari 2021, sekitar 80 orang masih mencari pekerjaan.

pekerja asing jepang trainee japanesestation.com
Pemagang Vietnam di Tokyo. (Nikkei/Ken Kobayashi)

Hampir separuh dari 80 orang tersebt merupakan penduduk Vietnam. Menurut asosiasi tersebut, kebanyakan dari mereka berasal dari pedesaan miskin. Bahkan, banyak dari mereka yang memiliki hutang 700.000 hingga 1 juta yen agar bisa datang ke Jepang, jadi mereka menggunakan hampir seluruh upah mereka untuk membayarnya atau mengirimkannya ke keluarga mereka. Organisasi ini pun telah menerima sekitar 400 penduduk Vietnam sejak musim semi tahun lalu dan menyediakan tempat tinggal dan dukungan lainnya.

Yoshishisa Saito, professor dari Kobe University Graduate Schooldan seorang ahli dalam program pemagangan mengatakan bahwa Jepang wajib mendukung para trainee ini secara aktif, dimulai dari penyediaan lowongan kerja baru.

Sementara itu, Jiho Yoshimizu, kepala dari organisasi tersebut mengatakan bahwa ia ingin agar pemerintah membuat sistem yang dapat emnghubungkan para pemagang dengan perusahaan lebih mudah.