Berita Jepang | Japanesestation.com

Perdana Menteri Yoshihide Suga berencana untuk memperluas status darurat COVID-19 ke 7 prefektur lain termasuk Osaka dan Aichi pada Rabu (13/11). Hal ini dilakukan menyusul bertambahnya total kumulatif kasus COVID-19 di Jepang yang mencapai 300.000.

Sebelumnya, status darurat telah diberlakukan untuk kedua kalinya di area metropolitan Tokyo pada Jumat (8/1) lalu akibat kasus yang kembali meningkat drastis. Masyarakat pun diminta untuk tetap stay at home sementara restoran diminta untuk tutup pada pukul 8 malam.

Melansir Mainichi, selain Osaka dan Aichi, 5 prefektur lain yang akan terdampak status darurat adalah Tochigi, Gifu, Hyogo, Kyoto dan Fukuoka. Status darurat ini akan berlangsung hingga 7 Februari 2021 mendatang.

"Jika kita bekerja sama, kita dapat menekan jumlah orang yang terinfeksi,” ujar Yasutoshi Nishimura, menteri yang bertanggung jawab dalam penanggulangan virus corona dalam pertemuan komite DPR.

status darurat baru covid-19 jepang japanesestation.com
Pengunjung mengenakan masker di Kuil Kanda Myojin di Tokyo. Mereka menunggu untuk berdoa di awal tahun baru 2021. (Issei Kato/Reuters)

Namun, saat sebelumnya total angka kumulatif kasus virus corona melebihi 200.000 pada akhir Desember lalu, Nishimura terlihat enggan untuk memperluas status darurat ke seluruh Jepang.

"Kami harus berpikir secara hati-hati apakah sebaiknya kami tetap memberlakukan status darurat ke area dengan jumlah infeksi rendah,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Jepang Norihisa Tamura mengatakan dalam sebuah pertemuan bersama para ahli bahwa Jepang masih berada dalam situasi serius dan meminta agar masyarakat menghindari kegiatan berisiko tinggi seperti makan dalam kelompok besar.

Kndati demikian, Jepang tetap tidak memberlakukan hard lockdown layaknya beberapa negara lain. Penduduk area terdampak pun hanya diminta untuk menghindari aktivitas tidak mendesak dan tak ada hukuman bagi mereka yang tak mematuhinya. Sekolah-sekolah pun akan tetap buka, sementara perusahaan akan didorong untuk membuat lebih banyak karyawan bekerja di rumah.

Kasus COVID-19 di Osaka memang tinggi, dengan munculnya lebih dari 3.800 kasus per Senin lalu. Kyoto dan Hyogo pun melaporkan jumlah kasus baru per hari yang cukup tinggi, membuat kewalahan sistem kesehatan di area tersebut. 

Tujuh puluh persen ranjang rumah sakit di Osaka digunakan untuk pasien COVID-19 dengan gejala serius sejak Desember lalu. Osaka pun telah memiliki 171 pasien dengan gejala tersebut sejak awal bulan ini.

Go to travel jepang japanesestation.com
Osaka (pakutaso.com)

Di Aichi, ditemukan 49 kasus dengan gejala serius, sementara pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit tercatat ada di angka 696 per Senin (11/1) lalu.

Prefektur Osaka, Kyoto dan Hyogo pun meminta agar mereka diikutsertakan dalam status darurat pada Sabtu (9/1), sementara Prefektur Tochigi, Gifu dan Aichi melakukannya pada Selasa (12/1). Fukuoka sendiri tidak pernah memintanya.

Terkait permintaan keadaan darurat, Nishimura mengatakan pada majelis rendah bahwa keputusan pemerintah untuk mengumumkan status darurat tidak dibuat berdasarkan permintaan, namun berdasarkan apakah ada ranjang rumah sakit yang cukup untuk menampung pasien COVID-19.

Sebelumnya, keadaan darurat sempat diumumkan di prefektur Tokyo, Chiba, Saitama, Kanagawa, Osaka, Hyogo, dan Fukuoka pada awal April 2020, saat gelombang pertama infeksi di Jepang, dan diperluas secara nasional pada akhir bulan itu. Namun, status tersebut dicabut secara bertahap pada bulan Mei karena peningkatan infeksi virus corona melambat.