Berita Jepang | Japanesestation.com

Melonjaknya jumlah turis asing di tengah lemahnya nilai mata uang yen menyebabkan kekhawatiran di kalangan pemilik usaha. Sistem pemisahan harga antara turis domestik dan turis asing sebenarnya sangat lazim ditemukan di negara-negara berkembang, namun dikhawatirkan dapat berpengaruh pada citra pariwisata Jepang sebagai salah satu tujuan wisata kelas atas jika diterapkan di Negeri Sakura.

Dikutip dari Japan Today, beberapa pemilik usaha memandang hal ini bukanlah hal buruk. Pemisahan harga antara turis domestik dan turis asing dilakukan karena adanya kebutuhan mendesak. Meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dan biaya perawatan menjadi salah satunya.

Salah satu pemilik rumah makan prasmanan di daerah Shibuya, Shogo Yonemitsu, mengungkapkan jika dia terpaksa menaikkan harga untuk turis asing karena harus menaikkan upah untuk pekerja staf berbahasa Inggris dan memberikan pelatihan untuk melayani pelanggan asing.

“Kami hanya punya 35 kursi, tapi harus melayani 100 hingga 150 pelanggan sehari. Butuh waktu lebih banyak untuk menjelaskan cara kerja prasmanan, cara memanggang, dan cara memakan dalam Bahasa Inggris. Butuh banyak waktu yang diluangkan,” ujarnya.

Sejak dibuka pada bulan April lalu, restoran Yonemitsu telah menetapkan harga 7.678 yen untuk turis asing makan dan minum sepuasnya di malam hari. Sementara para orang Jepang dan orang asing yang tinggal di Jepang hanya dikenai harga 6.578 yen. Para operator tempat wisata populer di Jepang juga mempertimbangkan untuk menaikkan harga pada turis asing sebagai biaya pemeliharaan dan perbaikan.

Walikota Himeji juga tengah mempertimbangkan untuk menaikkan tarif masuk Kastil Himeji empat kali lebih besar pada turis asing. Lonjakan pengunjung dapat merusak pemeliharaan kastil dan walikota tidak ingin membebani penduduk lokal yang menganggap kastil sebagai tempat istirahat. Pemerintah Prefektur Osaka juga sedang membahas terkait pajak pariwisata yang direncanakan akan dimulai sejak perhelatan Osaka Expo pada April 2025 mendatang.