Berita Jepang | Japanesestation.com

Jepang terkenal sebagai salah satu negara destinasi wisata favorit para pelancong, bahkan berhasil menduduki peringkat ketiga di dunia menurut World Economic Forum. Namun, masyarakat Jepang sendiri dikenal kurang mahir dalam menggunakan bahasa asing. Hal ini menyebabkan banyak turis asing yang merasa kebingungan saat membaca berbagai instruksi yang ada di Jepang. Tiga siswi dari kota Hashimoto di Prefektur Wakayama berhasil mengembangkan label makanan bergambar dalam bahasa Inggris untuk membantu warga asing.

Label makanan dengan gambar dan bahasa Inggris.
Label makanan bergambar dengan bahasa Inggris yang dikembangkan oleh Imaya, Fukui, dan Inui (Hiroshi Fujiwara/Mainichi).

Ketiga siswi tersebut, Hinayo Inui, Hiyori Imaya, dan Miyu Fukui melakukan inovasi ini sebagai bagian dari program United Nations Sustainable Development Goals (SDGs) sejak tahun kedua mereka bergabung. Awalnya, mereka bertanya kepada asisten guru bahasa asing di sekolah tentang tantangan bahasa yang dihadapi. Kemudian mereka melakukan survei kepada warga asing yang bersekolah di Jepang. Dari hasil survei yang mereka lakukan, ternyata banyak warga asing yang mengeluhkan lamanya waktu berbelanja karena perbedaan bahasa dan tidak sengaja mengonsumsi makanan yang dilarang agama.

Melalui kerja sama dengan toko FamilyMart dan para pelanggan asing, ketiga siswa ini mulai menempelkan label makanan bergambar berbahasa Inggris. “Kami membuat ilustrasi gambar karena tidak semua orang bisa bahasa Inggris,” ujar Imaya. Fukui juga menambahkan jika mereka menyadari bahwa siswa sekolah pun dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Inovasi ketiganya mendapat sambutan hangat dari FamilyMart. Shinichi Nagumo selaku manajer toko mencatat adanya dampak positif dari kegiatan ini. “Pelanggan asing biasanya sering bertanya tentang produk yang mengandung daging, tapi sekarang mereka bisa melihat sendiri. Pembelian juga jadi lebih sering,” ujarnya.

Tak hanya di Family Mart kota Hashimoto, ketiganya juga memperluas cakupan label mereka ke toko Katsumaya yang ada di kota Koya. Dari inovasi ini, ketiganya berhasil mendapatkan penghargaan dari Umedai, asosiasi yang mempromosikan pendidikan masa depan.