Share on

Di tempat-tempat umum yang ramai di Jepang, kalian mungkin akan melihat tanda-tanda peringatan terhadap aruki sumaho, diterjemahkan menjadi "mengirim pesan sambil berjalan." Pengumuman ini memperingatkan para pejalan kaki agar tidak menggunakan smartphone mereka saat bepergian di stasiun kereta api yang sibuk, trotoar, dan tempat padat lainnya. Ini merupakan penangulangan Jepang terhadap wabah Smartphone Zombie.

Kebanyakan orang Jepang yang peka terhadap dampak menggunakan ponsel sambil berjalan terhadap orang lain, umumnya menepi ke sisi trotoar saat harus memeriksa ponsel mereka agar tidak menghalangi pejalan kaki lainnya. Sayangnya, banyak yang tidak demikian. Beberapa insiden yang membahayakan sempat terjadi. Pada tahun 2013 tercatat 18 orang jatuh dari platform kereta yang penyebabnya ada hubungannya dengan kebiasaan ini.

Menghentikan Smartphone Zombie

Munculnya smartphone telah membuat hidup kita semua lebih nyaman, tetapi jarang disinggung mengenai efek samping dari “selalu terhubung.” Mulai dari efek blue light, postur buruk yang membebani leher, hingga sejumlah masalah lain yang diakibatkan oleh penggunaan berlebihan smartphone kerap kali terjadi. Namun di Jepang, berkirim pesan sambil berjalan sudah lama dikenal sebagai sumber insiden dan cedera di masyarakat.

Pengguna smartphone (Gaijinpot Blog)

Pada hari-hari awal smartphone dirilis, antara 2009 dan 2013, 122 orang dilaporkan dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan yang disebabkan oleh aruki sumaho. Pada periode yang sama, setidaknya satu kematian disebabkan oleh kebiasaan berbahaya ketika seorang pria melihat teleponnya berjalan ke kereta api.

Perusahaan telekomunikasi Jepang NTT Docomo, sangat menyadari masalah ini. Setelah merilis simulasi video tentang tabrakan yang disebabkan oleh 1.500 orang yang berjalan sambil mengirim pesan, mereka mencatat bahwa bidang pandang seorang pejalan kaki hanya lima persen dari kisaran normal ketika melihat ke bawah (ke arah ponsel). Masalah lainnya adalah para smartphone zombie berjalan dengan kecepatan yang jauh lebih lambat dari pejalan kaki normal, yang menyebabkan terhambatnya lalu lintas pejalan kaki dan meningkatkan kemungkinan tabrakan dengan sepeda.

Karena itu, Kota Yamato di Prefektur Kanagawa telah memperkenalkan peraturan yang secara efektif melarang penggunaan smartphone saat berjalan. Melalui aksinya, kota ini berharap dapat mengedukasi warga tentang bahaya berkirim pesan saat berjalan. Sementara aturan berlalu lintas yang  melarang berkirim pesan saat mengemudi atau bersepeda sudah lama diberlakukan, undang-undang Yamato akan menjadi yang pertama di negara ini yang menargetkan pejalan kaki dalam menggunakan ponsel pintar mereka.

Serangan pada Smartphone Zombie

Kebiasaan menggunakan smartphone yang buruk telah merenggut korban dalam beberapa tahun terakhir. Sementara tanda-tanda yang tak terhitung jumlahnya seharusnya meningkatkan kewaspadaan terhadap perilaku tersebut. Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa peningkatan perilaku itu melanggar "rasa toleransi sosial".

Smartphone Zombie
Smartphone Zombie (grapee.jp)

Tampaknya sentimen ini dialami oleh banyak orang. Selama beberapa tahun terakhir, smartphone zombie mendapati diri mereka menyesali kecanduan yang mereka alami. Contohnya, pada tahun 2017, seorang wanita diserang mendadak saat dirinya tengah sibuk memegang smartphone hingga mengalami retak di tengkorak. Pada tahun 2019, serangkaian serangan terhadap wanita yang mengirim SMS saat berjalan terjadi di Prefektur Kanagawa. Beberapa wanita ada yang terjatuh, beberapa mengalami memar, patah tulang, dan cedera lainnya. Polisi menangkap seorang tersangka yang mengaku menyerang smartphone zombie setiap beberapa hari sekali. Menurut tersangka, ia memulai serangkaian serangan setelah dijatuhkan saat menuruni tangga oleh seorang wanita yang berjalan sambil mengirim pesan.

Smartphone Zombie (dok. Japanese Station)

Kebiasaan smartphone zombie sudah jelas membahayakan tidak hanya bagi pelaku, tapi juga bagi orang lain dan jelas merupakan tindakan yang merugikan serta tidak beretika. Karena ini Pemerintah Kota Yamato di Prefektur Kanagawa yang memberlakukan larangan aruki sumaho mendapat dukungan dari berbagai pihak dan jika aturan ini dapat memberikan dampak positif, mungkin saja akan diberlakukan di kota-kota lainnya.