Share on

Gaya kerja tradisional Jepang bisa dibilang sangat membuang waktu, Misalnya saja rapat “kosong” yang meminta semua orang mengutarakan pendapatnya namun pada kenyataannya sebagian besar psesertanya hanya diam dan memperhatikan bos mereka. Belum lagi, kerja overtime yang memuakkan hingga nomikai atau pesta minum setelah selesai kerja yang katanya sih bertujuan untuk mempererat persahabatan antar co-worker, tapi malah jadi ajang pamer dan mempermalukan diri sendiri. Karena itu, banyak orang Jepang merasa bekerja freelance lebih baik. Kamu bisa menentukan jam kerjamu sendiri dan tak ada bos yang mengaturmu atau membuatmu melakukan hal yang tak kamu senangi. Ya, itulah ideal-nya. Namun, apakah benar begitu? Bagaimana dengan realita dalam bekerja freelance?

Dalam realita, kehidupan para freelancer (orang yang bekerja secara freelance) nyatanya tidak semulus itu. Tidak percaya? Mari lihat penjelasan visual dari seorang desainer freelance dan pengguna Twitter Tanago (@1_design).

Garis atas dalam gambar menunjukkan apa pendapat Tanago tentang apa yang dikatakan orang-orang sebagai jadwal “ideal” dari para freelancer profesional. Kotak berwarna hijau, ungu, biru, dan oranye melambangkan proyek yang berbeda-beda, namun dimulai dan diselesaikan dalam waktu yang berurutan. Di antara kotak-kotak tersebut, terlihat kotak berwarna kuning yang menunjukkan hobi, belajar, dan hal-hal yang diperlukan, seperti mengecek email dan akuntansi. Ada juga kotak putih yang menujukkan waktu libur.

Lalu, lihatlah ke garis di bawah, di situlah Tanago menungkap realita dari hari-hari seorang freelancer. Perhatikan bagaimana proyek-proyek tersebut tidak datang di saat yang sama, malah, terkadang proyek yang sama kembali lagi mengisi timeline karena adanya klien yang meminta revisi dan meminta perubahan setelah submisi pertama diserahkan. Kini, hanya ada satu kotak putih yang deskripsinya berubah dari “hari libur” menjadi “kosong.” Dan lihatlah, ada kotak baru berwarna merah kan? Kotak-kotak bertuliskan  “mati,” ini merupakan metafora dari lelahnya fisik dan mental akibat deadline.

Ilustrasi
Ilustrasi "mati" karena mengejar deadline (pakutaso.com)

Siapapun yang mencoba hidup dengan menjadi seorang freelancer mungkin akan memahami ini dan menganggukkan kepala dengan semangat saat melihat gambar tersebut. Bagi orang yang bekrja freelance, ada waktu di mana kamu berpikir “makan atau kelaparan” saat menerima tawaran suatu proyek, karena freelance tidak menjamin gajimu. Belum tentu tawaran bagus akan datang lagi kan?

Menjadi seorang  freelancer  berarti menjadi boss bagi diri sendiri yang memang (awalnya) terlihat sangat keren. Namun, ini juga berarti “boss”-mu selalu ikut ke manapun kamu pergi. Membuatmu bekerja secara terus menerus dan menghabiskan waktu dengan bekerja, bukan rebahan.

Misalnya saja seperti gambar berikut, Ideal: “Freelance berarti kita bisa tetap bekerja meski sedang ada di pantai!” dan Kenyataan: “Freelance berarti meski kita ada di pantai, kita harus tetap bekerja!”

Ilustrasi bekerja di pantai (pakutaso.com)
Ilustrasi bekerja di pantai (pakutaso.com)

Dan karena menjadi seorang freelancer berarti kamu bekerja sendirian, tidak ada teman yang membantu atau bisa dibagi tugas jika pekerjaanmu super berat, kan?

Cuitan Tanago ini membuat para netizen di Twitter berkomentar:

“Inilah yang aku rasakan. Dan ketika kamu mengalami ‘dead block’ kamu mulai membenci dirimu sendiri.”

“Sangat setuju. Aku tidak percaya kalau dulu aku bisa-bisanya berpikir, ‘Sampai jumpa, para budak korporat! Aku akan menjadi freelancer dan hidup dengan mudah!’ ”

“Aku sangat mengerti rasanya. Ketika kamu mulai bekerja freelance, rasanya waktu selalu kosong dan kamu merasa harus selalu bekerja.”

Meskipun begitu, masih banyak kok para freelancer full-time yang mencintai pekerjaannya. Memang, tidak semua orang bisa melakukanya. Secara mental, bekerja freelance terkadang tidak “terasa” seperti layaknya bekerja sebagai seorang pemilik toko atau restoran. Saat kamu menutup “toko”-mu (menolak tawaran proyek freelance) bisa saja merupakan waktu di mana seharusnya kamu mengumpulkan banyak uang, dan karena kamu tidak tahu kapan pelangganmu akan kembali datang, pasti ada rasa cemas ketika kamu melakukan hal lain selain bekerja.

Menyeimbangkan pekerjaan dan kegiatan lain saat menjadi seorang freelancer memang bukanlah hal mudah dan tidak bisa dilakukan semua orang. Mungkin, banyak orang yang berpikir jika menjadi freelancer lebih banyak dampak negatifnya dibanding dampak positifnya dan memilih untuk bekerja secara tetap. Ada juga yang mampu bekerja freelance dan bekerja tetap sekaligus. Intinya, jika kamu berpikir untuk bekerja freelance, pastikan sudah siap dengan segala risikonya ya!