Share on

Dalam kehidupan sehari hari, mungkin kamu didorong untung bertanya “kenapa” dan “bagaimana”  jika ada suatu hal yang tidak kamu menegerti. Sikap ini dianggap hal yang positif sebagai tanda keingintahuan dan pro-aktif. Tetapi di Jepang, hal ini dianggap berbeda, komunikasi tidak angsung dan diam lebih dihargai. Sebagai contohnya, jika kamu adalah seorang karyawan baru, kamu diharapkan untuk mempelajari sebagian besar yang perlu kamu ketahui tanpa diberi tahu atau dibantu orang lain. Diam dan memperhatikan adalah hal yang umum bagi orang Jepang.

Advertise With Us

Secara tradisional, dalam budaya Jepang, bertanya “kenapa” dianggap kasar, dan bertanya “bagaimana” adalah pengakuan ketidaktahuan. Sejak usia muda, orang Jepang umumnya diajarkan kebijakan seperti “diam adalah emas”, atau “banyak kata untuk orang bodoh, setengah kata untuk orang bijak”. Proses pembelajaran dalam diam ini juga merupakan kunci dalam metode pengajaran tradisional dalam seni, kerajinan, dan bisnis Jepang pada umumnya.

Sebagian besar orang asing yang belajar bahasa Jepang diajarkan pertama kali bahwa “kenapa” dalam bahasa Jepang adalah “doushite”. Tetapi tahukah kamu bahwa ada lebih banyak kata tanya dan berbagai cara lainnya, dan semuanya digunakan dalam kondisi dan konteks yang berbeda-beda? Jika kamu tidak ingin dianggap tidak tau apa-apa, sangat penting untuk mempelajari beberapa cara yang benar untuk bertanya “kenapa” dalam bahasa Jepang, seperti yang berikut ini.

bertanya kenapa
Bertanya "kenapa" dan "bagaimana" di Jepang dianggap ketidaktahuan (pakutaso.com)

1. Naze? (なぜ?)

Kata tanya ini digunakan dalam penulisan dan pidato formal, seperti essai, buku, majalah, website, laporan, dan public speaking. “naze” jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Contoh: dalam sampul buku ini, penulis menggunakan kata tanya “naze” dan bukannya “doushite”.

sampul buku
Penulis menggunakan kata tanya "naze" (fluentu.com)

2. Doushite? (どうして?)

Doushite” dapat digunakan kapan saja dan dengan siapapun. Sifatnya lebih informal dan lembut, dapat digunakan dalam percakapan sehari-hari. Frasa ini berbeda dengan penggunaan “doushita no” yang berarti “ada apa?” atau “apa yang salah?”. Untuk bertanya dengan lebih sopan, kamu bisa tambahkan “desu ka?” di belakangnya menjadi “doushite desu ka?”. Mungkin ini adalah cara teraman jika kamu ingin bertanya “kenapa”.

3. Nan no tame ni? (何のために?)

Kata tanya ini bersifat netral dan agak mirip dengan “doushite” dalam penggunaannya, biasa juga diartikan “untuk alasan apa?”. Orang Jepang juga biasanya menggunakannya untuk bertanya pertanyaan retoris kepada dirinya sendiri.

Contoh: 何のためにここへ来たの? (untuk apa kamu datang ke sini?)

4. Nande? (何で?)

Hanya gunakan kata tanya ini saat berbicara dengan teman atau keluarga dekat. “Nande?” bisa terdengar agak kasar, jadi hindari menggunakannya di tempat kerja atau dalam situasi di mana kamu harus bersikap sopan.

Contoh: 何でそんなことをするの? (kenapa kamu melakukan itu?)

5. Donna wake de? / Donna riyuu de?(どんな訳で? / どんな理由で?)

Kalimat tanya yang ini lebih formal dari lainnya yang sudah kita bahas, orang Jepang juga biasanya tidak sering menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Meskipun bisa digunakan dalam pidato, tapi kalimatnya akan terdengar agak aneh. Karena ketika menggunakannya berarti kamu atau lawan bicaramu bersalah dan harus disalahkan atas sesuatu yang telah dilakukan, jadi berhati-hatilah menggunakannya.

Contoh: どんな訳で来たのですか? (kenapa kamu datang?)

6. Dou iu wake de? / Dou iu riyuu de? (どういう訳で? / どういう理由で?)

Dua kalimat tanya ini mirip dengan yang ada di poin 5, dan digunakan dalam situasi yang serupa juga, tapi bersifat lebih informal dan dapat digunakan tanpa kalimat formal. Dalam kalimat ini juga terdapat unsur pengarahan jari, dan dapat memicu kesalahpahaman, jadi berhati-hatilah.

Contoh:

どういう訳で遅刻したのですか?(Kenapa kamu terlambat?)

どういう理由で泣いたの?(Atas alasan apa kamu menangis?)