Share on

Uwabami adalah yokai dengan bentuk seekor ular raksasa yang tinggal di alam liar jauh dari peradaban manusia. Disamping ukurannya yang sangat besar, mereka terlihat seperi ular biasa pada umumnya. Uwabami juga dikenal dengan nafsu makannya yang besar dan kesukaannya meminum sake atau alkohol Jepang.

Uwabami, Ular Raksasa Pemanggil Badai Yang Menyukai Sake
Ilustrasi Uwabami oleh Shuntei Katsukawa (1770 - 1820)

Uwabami dikabarkan mampu untuk memakan mangsa yang jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri, dan dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Seperti kebanyakan yokai berbentuk hewan lainnya, ular memilki bermacam kekuatan magis, diantaranya adalah kemampuan untuk berubah bentuk menjadi berbagai mahluk atau objek, termasuk manusia. Mereka juga dipercaya bisa mengontrol elemen dalam kapasitas tertentu, seperti bencana alam banjir dan longsor yang sering dikaitkan pada Uwabami.

Selain bisa memakan mangsanya dan alkohol dalam jumlah banyak, Uwabami juga dikenal suka memangsa manusia. Mereka biasanya menyergap dan menyerang pelancong yang melewati pegunungan, dan dengan ukurannya yang besar mereka dapat menelan manusia dewasa secara utuh. Meski begitu terkadang ada juga orang pintar yang bisa mengakalinya dan selamat yang kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya pada orang lain.

Nama Uwabami berasal dari bahasa Jepang kuno yang terdiri dari kata ‘uwa’ yang memiliki arti ‘pandai’ atau ‘unggul’, yang kemudian berubah menjadi ‘uha’ dengan cara baca sama yang memiliki arti ‘besar’, dan kata lainnya adalah ‘hamu’ dari kata untuk ‘memakan’ yang kemudian berubah menjadi ‘hami’ yang bisa diartikan sebagai ular. Jadi Uwabami dulunya diartikan sebagai ‘pemakan yang unggul’, dan kemudian berubah menjadi ‘ular besar’ seiring berjalannya waktu.

Uwabami, Ular Raksasa Pemanggil Badai Yang Menyukai Sake
Ilustrasi Uwabami oleh Hokusai Katsushika (1760 - 1849)

Legenda terkenal tentang Uwabami ini berasal dari Danau Onuma di Prefektur Nagano, dulunya Provinsi Shinano. Dahulu kala ada seekor ular besar atau Daija yang hidup di Danau Onuma, dan setiap tahunnya ia berubah menjadi seorang pemuda tampan yang pergi ke pegunungan untuk melihat bunga Sakura. Suatu ketika ia melihat seorang wanita cantik sendirian dibawah pohon yang kemudian diketahui bahwa wanita itu adalah Kuro Hime, putri dari Masamori Takanashi. Pemuda tersebut kemudian berkenalan dan kemudian keduanya saling jatuh cinta.

Beberapa waktu kemudian, pemuda tersebut mengunjungi kastil Masamori untuk melamar Kuro Hime, dan mengenalkan dirinya sebagai ular raksasa dan dewa penjaga dataran tinggi Shiga yang hidup di Danau Onuma. Masamori kemudian marah dan mengatakan bahwa ia tidak akan memberikan putrinya kepada mahluk yang bukan manusia.

Karena kegigihan pemuda tersebut yang datang setiap hari untuk melamar Kuro Hime, akhirnya Masamori mengatakan akan merelakan putrinya dengan syarat pemuda tersebut bisa mengikutinya yang menggunakan kuda dan menyelesaikan mengelilingi kastil sebanyak 7 kali. Pemuda tersebut dengan semangat menerimanya dan setuju untuk datang di lain hari untuk bertanding.

Masamori yang tidak ingin putrinya menikah dengan seekor ular kemudian menyusun siasat untuk membunuh mahluk tersebut dengan menyuruh para pelayannya memasang pedang-pedang di rerumputan sekitar kastil.

Pada saat yang disetujui, pertandingan tersebut dimulai dan Masamori yang memang ahli menunggang kuda dengan seketika unggul dalam pertandingan dengan sang pemuda yang tidak dapat mengikuti kecepatan kuda tersebut. Akhirnya pemuda itu pun berubah menjadi ular untuk dapat mengejar kuda Masamori. Tubuh ular pemuda itu kemudian tertusuk oleh pedang-pedang yang tersebar di area kastil, namun meski badannya penuh dengan luka dan darah, ia tidak menyerah hingga akhirnya ia pun pingsan setelah berhasil menyelesaikan 7 putaran.

Setelah beberapa waktu, ia kemudian terbangun dan melihat sekeliling yang tidak ada siapa-siapa sehingga membuatnya sadar bahwa Masamori telah membohongi dirinya. Dengan rasa marah, ia kemudian kembai ke dataran tinggi Shiga dan memanggil seluruh keluarga, pelayan, dan anggota klan-nya. Mereka kemudian bersatu dan memanggil badai dan hujan yang sangat besar sehingga menyebabkan banjir yang memusnahkan desa-desa di sekeliling danau. Namun kastil Masamori yang tetap bertahan berkat pegunungan yang mengelilingi kastilnya.

Kuro Hime yang melihat aliran air yang membanjiri kawasannya merasa sedih dan kemudian pergi menuju Danau Onuma seorang diri. Ia kemudian melemparkan dirinya kedalam danau dan tidak pernah terlihat lagi. Ketika pemuda tadi menyadari hal ini, ia kemudian menghentikan bencana yang dibuatnya.

Hingga sekarang, Daija masih dipuja sebagai dewa pelindung dataran Shiga, dan terdapat kuil kecil bernama Daija Jinja yang berada didekat Danau Onuma.