Berita Jepang | Japanesestation.com

Delapan puluh tahun berlalu setelah Pertempuran Okinawa, namun Yoneko Uehara masih bisa mendengar suara teman sekelasnya menentang perintah pemerintah untuk bunuh diri menjelang akhir Perang Dunia II. Siswa yang seingatnya bernama Tomiko tersebut merampas sebuah granat dari tim medis dan berteriak, “Jika kau ingin mati, mati saja sendiri! Aku tak ingin mati!” 

Dan mungkin bukan hanya Uehara yang masih mengingat kejadian serupa. Pasalnya, saat itu adalah pertempuran Okinawa, pertempuran besar yang menimbulkan ratusan ribu korban jiwa.

Ya, selama Perang Pasifik yang dimulai pada 8 Desember 80 tahun lalu, penduduk Jepang diperintahkan untuk memilih bunuh diri dibanding ditangkap sebagai tahanan. Aturan yang dibuat oleh Hideki Tojo ini pun menyebabkan jumlah kematian yang sangat besar akibat masyarakat tak diizinkan untuk menyerah.

Namun, sama seperti Tomiko di atas, masih ada beberapa orang yang menolak mematuhi perintah tersebut karena masih ingin hidup. Sayangnya, tetap saja korban masih menggunung.

Korban sipil

pertempuran okinawa perang dunia ii japanesestation.com
Tekketsu Kinnōtai (wikipedia.org)

Sedikitnya 100.000 penduduk sipil atau satu per empat dari populasi Okinawa tewas dalam perang ini. Memang, tak seluruhnya terbunuh akibat bunuh diri, ada juga yang tewas akibat terjebak dalam baku tembak, atau akibat serangan udara. Ada juga yang mati kelaparan akibat menipisnya bahan makanan.

Saat itu, penduduk lokal Okinawa juga dipaksa untuk membela Jepang: ada yang digunakan sebagai tameng manusia atau semacam pasukan bunuh diri. Bahkan, para pelajar yang masih berumur belasan tahun dipaksa untuk bergabung. Dan dari 1.500 peajar yang tergabung dalam Iron and Blood Imperial Corps (Tekketsu Kinnotai), 800 orang terbunuh saat berperang. Namun, jumlah ini masih kalah jika dibandingkan dengan mereka yang terpaksa bunuh diri.

“Tentara Amerika tidak manusiawi”

pertempuran okinawa perang dunia ii japanesestation.com
Tentara Amerika di Okinawa pada 18 Mei 1945 (wikipedia.org)

Saat itu, pemerintah Jepang menyebarkan propaganda dan menyebut tentara Amerika tidak manusiawi dan menakuti penduduk Jepang bahwa masyarakat sipil yang tertangkap akan disiksa dan diperkosa. Hasilnya, seperti sudah disebutkan di atas, para penduduk sipil yang termakan propaganda bunuh diri dengan sukarela sementara mereka yang enggan, akan dipaksa untuk bunuh diri oleh pemerintah Jepang, menghasilkan kasus bunuh diri masal.

Saat Pertempuran Okinawa berakhir pada 22 Juni 1945, tentara Amerika kehilangan 45.000 prajurit, termasuk 12.500 orang yang dibunuh. Namun, Jepang lebih mengerikan lagi, angka kematian yang didapat Jepang melampaui 100.000 orang. Benar-benar menyeramkan.

Membantah

Ada yang menarik, meski sebagian besar prajurit Jepang tunduk pada perintah bunuh diri yang dibuat Hideki Tojo, setidaknya ada satu orang prajurit militer Jepang yang memilih untuk membantah dan menyerah pada sekutu. Ia adalah Kiyofumi Kojima yang pada akhirnya membagikan kisahnya dalam sebuah buku berjudul “Toko” (“menyerah” dalam bahasa Jepang).

Tentara yang sempat berperang sebagai salah satu awak kapal perang Yamato di Pertempuran Leyte Gulf ini juga membantu membangun kelompok Veterean Against War setelah perang berakhir.

pertempuran okinawa perang dunia ii japanesestation.com
Kiyofumi Kojima (dari buku “Senso to Ningen”)

Dalam “Toko” sendiri, alasan terkait keputusan penolakannya tak banyak diungkap, meski buku tersebut menyebutkan bahwa ia menyukai Amerika Serikat karena sang ayah sempat bepergian ke Amerika Serikat, Eropa, dan Cina sebagai seorang jurnalis. Hisako Yamaguchi (74), putri angkat Kojima pun menyebutkan bahwa ayah angkatnya itu mempelajari industri otomotif Amerika saat kuliah, menjelaskan mengapa dalam bukunya, Kojima menyebut bahwa slogan ‘Kichiku Bei-Ei' (Orang Amerika dan Inggris itu iblis) tidak mempengaruhinya.

Dan menuju akhir perang, banyak tentara Jepang yang dipenjarakan karena penyakit atau luka-luka mereka. Namun, hanya sedikit yang rela berhenti melawan, apalagi yang menyerah dengan sukarela layaknya Kojima.

Meskipun begitu, Kojima mengajarkan satu pelajaran penting bagi pembacanya.

“Saya ingin agar para pembaca ingat betapa berpengaruhnya pendidikan terhadap kehidupan seseorang atau dapat memutuskan hidup dan mati mereka,” tulisnya.

Kembali ke Pertempuran Okinawa, jumlah kematian yang tinggi rupanya membuat Truman, Presiden Amerika saat itu, untuk mencari tempat lain yang dapat membuat Amerika memenangkan perang. Dan inilah yang mengakibatkan adanya persetujuan untuk menggunakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945, mengakhiri Perang Dunia II.

Sumber:

Asahi

History Hit

Reuters