Share on

Teman-teman pembaca JS yang akrab dengan dunia minuman beralkohol mungkin gak asing dengan nama Nikka Whiskey, produsen whiskey pertama di Jepang yang didirikan oleh Masataka Taketsuru. Nah, tapi tahukah kamu kalau Nikka Whiskey mungkin tak dapat berdiri jika tanpa bantuan sang istri Rita Taketsuru, seorang wanita hebat yang mendampingi Masataka dalam membangun industri whiskey pertama di Jepang. Nah, mari kita mengenal Rita Taketsuru lebih dekat!

Advertise With Us

Rita Taketsuru sebenarnya bukan penduduk asli Jepang, ia lahir di Skotlandia dengan nama asli Jessie Roberta Cowan pada 14 Desember 1986. Sebagai putri dari keluarga menengah, masa kecil Rita diisi dengan didikan layaknya keluarga menengah lain, seperti bermain piano, belajar bahasa, dan seni. Saat beranjak dewasa, ia bertunangan dengan seorang pria Skotlandia dan keluarganya pun berharap agar kehidupan Rita dan tunagannya berjalan lancar.

Namun, setelah Perang Dunia Pertama, tunangan Rita pun terbunuh, begitu pun dengan ayahnya. Keluarganya pu mulai kesulitan secara finansial, hingga akhirnya Rita dan ibunya terpaksa menyewakan ruangan sebagai indekos. Di saat itulah, Nyonya Cowan pun memutskan untuk menerima seorang mahasiswa asal Jepang bernama Masataka Taketsuru yang tengah berkuliah di University of Glasgow.

Sebulan berselang, Rita mulai jatuh cinta pada Masataka, mahasiswa Jepang berwajah tampan itu. Hubungan keduanya pun makin dekat meski sempat ada oposisi dari kedua belah pihak keluarga. Namun, hubungan cinta keduanya tetap kuat hingga meluluhkan hati keluarga mereka dan akhirnya, Rita dan Masataka pun menikah.

Setelah menikah di Calton Registry Office pada Januari 1920, wanita muda pemberani ini memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dan mengikuti sang suami ke Jepang.

Sang suami, Masataka alias “Massan” merupakan seorang pemimpi. Saat ia kuliah di Glasgow University, ia berpetualang mengelilingi Skotlandia untuk mengejar passion-nya, membuat Scotch whisky. Sebelumnya, ia memang sempat bekerja di sebuah perusahaan minuman di Jepang yang membuatnya mempelajari metode produksi whiskey di Skotlandia.

whiskey pertama Jepang japanesestation.com
Rita Taketsuru (lady.co.uk)

Saat mereka sampai di Jepang, negara tersebut tengah mengalami resesi akibat perang. Hal ini tentu makin menyulitkan bagi Rita. Ia datang ke sebuah tempat asing yang memiliki kultur berbeda dengan tempat asalnya. Namun, Rita tidak takut, ia menjalani hari-harinya di Jepang dengan berani bersama sang suami.

Sementara sang suami mulai kecewa dengan tempat kerjanya yang lebih tertarik dengan keuntungan cepat dibanding memproduksi whiskey berkualitas, Rita berusaha menyesuaikan diri dengan kultur di rumah barunya. Nah, pada 1923, Shinjiro Torii – pendiri Suntory group – mendengar pengalaman Masataka di Skotlandia dan merekrut Masataka untuk membantunya membangun sebuah penyulingan wiski di Yamazaki, Kyoto. Rita senang karena dia yakin suaminya sekarang dapat mengejar passion-nya. Sayangnya, Masataka tidak senang, dan memutuskan untuk mengundurkan diri karena mimpinya memang membuat perusahaan produksi whiskey miliknya sendiri.

Untungnya, berkat Rita yang mengajarkan bahasa Inggris pada istri dari Shotaro Kaga, seorang pebisnis sukses Jepang, pasangan ini mendapat investasi untuk membangun perusahaan yang diidam-idamkan Masataka. Dan pada 1934, Dai Nihon Kaju alias Nikka Whiskey pun berdiri. Pabrik penyulingannya berlokasi di Yoichi, Hokkaido, dengan gaya Skotlandia yang kental. Rita pun segera menyusul suaminya setahun kemudian ke Yochi pada tahun 1935.

whiskey pertama Jepang japanesestation.com
Rita Taketsuru Masataka Taketsuru (lady.co.uk)

Sayangnya, keberuntungan seperti tidak memihak pada Rita. Saat ia mulai merasa nyaman dan diterima di Jepang, Perang Dunia II terjadi. Meski usaha whiskey-nya sukses dan ia berhasil terhindar dari penahanan karena telah menjadi warga negara Jepang, tetap saja banyak orang yang mencurigai Rita, bahkan menganggapnya seorang mata-mata dan menuduhnya memiliki peralatan radio untuk menyadap. Dan meski hal tersebut dibantahnya, kecurigaan terus mengalir. Ia dituduh mengirim pesan radio ke kapal selam Sekutu dan harus rela rumahnya digeledah. Bahkan, tetangganya berbalik melawannya dan mulai melempar batu ke rumahnya.

Namun, Rita tetap kuat hingga perang berakhir dan kekayaan pabrik milik Rita dan Masataka pun semakin meningkat. Setelah itu, mereka pun mengangkat Takeshi, keponakan Masataka sebagai anak mereka untuk menjadi ahli waris Nikka Whiskey.

Pada tahun 1961, Rita meninggal akibat penyakit hati. Masataka yang patah hati ditinggal sang istri pun berhasil bertahan selama 18 tahun sebelum menyusul sang istri. Mereka pun dikuburkan bersama di sebuah bukit di dekat penyulingan.

Kini, jalan utama di Yoichi dinamakan Rita Road. Nama Rita pun diabadikan menjadi nama sebuah TK yang pembangunannya dibantu oleh Rita. Takeshi pun mewarisi Nikka Whiskey yang kini dimiliki oleh Asahi.

Pada tahun 1998, sebuah museum dibangun untuk mengenang Rita dan suaminya, Di dalamnya, ada tiruan ruang tamu Rita dan sebuah ruang makan bergaya Skotlandia.

Hingga kini, Rika Taketsuru masih memiliki sebuah fan club. Ziarah kerap dilakukan ke situs pemakaman ibu dan ayah whiskey di Jepang ini. Para anggota fan club juga kerap membawa beberapa barang seperti kue Skotlandia, heather dan madu dalam toples, kue gandum dan haggis yang dibungkus foil untuk diletakkan di makam mereka.

Para penggemar ini mungkin tak berlebihan. Karena tanpa Rita, Nikka Whiskey mungkin tak dapat tercipta. Wanita inilah yang berhasil menyatukan dua negara dan dua budaya sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa, whiskey pertama di Jepang.

whiskey pertama Jepang japanesestation.com
Massan, dorama yang terinspirasi dari kisah Rita dan Masataka Taketsuru (wikipedia.org)

Kisah cinta Rita dan Masataka serta asal usul Nikka Whiskey sempat dibuat versi doramanya lho. Drama berjudul Massan ini tayang di Jepang pada tahun 2014 hingga 2015.

Nah, itulah kisah Rita Taketsuru, wanita Skotlandia kuat yang menjadi istri dari pendiri industri whiskey pertama di Jepang.

Sumber:

Wikipedia: Rita Taketsuru

The Lady